Burung walet (Collocalia) termasuk dalam ordo Apodiformes, Famili apodidae, Genus collocalia dan beberapa spesies. Di Indonesia, spesies-spesies yang ada seperti Collocalia fuciphagus (walet putih), Collocalia gigas (walet besar), Collocalia maxima (walet sarang hitam), Collocalia brevirostris (walet gunung), Collocalia vanikorensis (walet sarang lumut) dan Collocalia esculenta (walet sapi ). Pada umumnya spesies tersebut dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, warna bulu, dan bahan yang dipakai untuk membuat sarang.
Burung walet mempunyai ciri-ciri khusus seperti kakinya lemah, tidak dapat bertengger tetapi mempunyai kemampuan terbang yang cukup tinggi dan lama. Dia mampu terbang sepanjang hari.
Sarang burung walet ada yang dapat dimakan seperti walet putih dan walet hitam, sedangkan walet yang tidak dapat dimakan seperti walet gunung, walet besar, walet sapi dan walet sarang lumut.
A. Walet putih (Collocalia fuciphagus)
Mengapa disebut walet putih? Walet putih bukan berarti bulu yang menutupi tubuhnya berwarna putih, tetapi sarang yang dihasilkannya berwarna putih. Sebenarnya bulunya berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu bagian bawah keabuan atau kecokelatan, sehingga ada juga yang memberi nama walet cokelat. Ciri lain yang ada pada walet putih adalah warna mata cokelat gelap, paruh dan kaki berwarna hitam.
Sarang walet putih seluruhnya terbuat dari air liurnya sehingga harganya sangat mahal. Bentuk sarang memanjang dan enak dimakan, sehingga lebih dikenal dengan julukan sarang walet yang bisa dimakan atau “edible-nest swiflet”.
Telur walet berwarna putih, agak lonjong dan sekali bertelur biasanya hanya 2 butir. Besarnya telur hampir sama dengan telur burung pipit. Telurnya akan menetas setelah dierami selama 28 hari. Walet putih bertelur secara musiman. Dalam satu tahun, walet akan bertelur sebanyak 3 kali.
Walet putih mempunyai ukuran badan sekitar 12 cm, suka terbang tinggi dan jenis makanan yang dimakan adalah serangga. Walet sarang putih tidak suka terbang atau berputar-putar di tempat yang rendah. Dia mempunyai suara yang nyaring atau melengking tinggi.
Walet putih mempunyai kelebihan dan lebih suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi. Walet putih juga lebih mudah dirumahkan daripada jenis walet lainnya. Walet putih ini di Indonesia banyak terdapat di pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bali.
B. Walet sarang hitam (Collocalia maxima atau Collocalia maximus)
Walet sarang hitam ini mempunyai sarang yang disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat sarangnya bercampur dengan bulu-bulunya yang berwarna hitam. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor cokelat kelabu. Nama walet sarang hitam mengacu pada internasional, yaitu “black-nest swiftlet”. Walaupun pada namanya terdapat kata “maxima” bukan berarti walet ini ukurannya besar. Ukuran tubuhnya dapat dikelompokkan dalam kategori walet ukuran sedang dan penampilannya hampir sama dengan walet putih, yaitu sekitar 12 cm. Paruh dan kakinya semua berwarna hitam tetapi matanya berwarna cokelat tua dan telurnya tetap berwarna putih. Untuk mudah mengenali atau membedakan antara walet sarang putih dengan jenis walet sarang hitam adalah pada suaranya. Walet hitam tidak bersuara melengking tinggi seperti walet sarang putih, tetapi suaranya rendah dengan suara seperi mencicit.
Sarang walet ini dapat dimakan setelah bulu-bulu yang terdapat di sarangnya disisihkan atau dibuang. Hal ini yang menyebabkan kualitas sarangnya dianggap rendah dan harganya tidak setinggi pada walet sarang putih.
Seperti juga jenis-jenis walet pada umumnya, walet hitam suka memakan serangga-serangga kecil. Di Indonesia, jenis walet sarang hitam ini banyak dijumpai di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
C. Walet besar (Collocalia gigas)
Mengapa disebut walet besar, karena mempunyai ukuran badan yang cukup besar dan termasuk walet yang paling besar dibandingkan dengan jenis-jenis walet lainnya. Ukuran panjang tubuhnya sekitar 16 cm. Warna bulu dari walet besar adalah hitam dengan bulu bagian bawah berwarna cokelat gelap. Jumlah telur biasanya satu dan berwarna putih dengan bentuk agak lonjong.
Walet besar mempunyai sarang yang tidak dapat dimakan. Bentuk sarangnya seperti mangkok. Sarangnya terbuat tidak hanya dari air liurnya saja seperti sarang putih, tetapi sudah merupakan campuran dari akar-akar, lumut, dan serat-serat.
Walet besar banyak terdapat di Indonesia seperti di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Dia suka bersarang di lubang-lubang batu (gua kecil) atau pada celah-celah batu dekat air terjun.
D. Walet Gunung (Collocalia brevirostris)
Disebut walet gunung karena walet tersebut suka terbang berkelompok dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung. Walet gunung mempunya i bulu berwarna hitam dengan bulu ekor agak keabu-abuan dengan ukuran tubuh yang agak besar, yaitu sekitar 14 cm. Walet gunung banyak terdapat di Indonesia, khususnya Sumatra dan Jawa Barat.
E. Walet Sarang Lumut (Collocalia vanikorensis)
Jenis walet ini sulit ditemui manusia karena dia suka membuat sarang di tempat-tempat yang sangat sulit ditemui manusia, yaitu di bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sulit untuk dicapai manusia. Mengapa disebut walet sarang lumut? Ternyata walet ini dalam membuat sarangnya sebagian terdiri dari lumut. Sarangnya bagus, bentuk sarangnya agak bundar dan permukaannya halus. Walet sarang lumut mempunyai ukuran tubuh dengan panjang sekitar 12 cm, bulu berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan warna ekor yang lebih gelap. Walet sarang lumut ini di Indonesia banyak dijumpai di daerah Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
F. Walet Sapi (Collocalia esculenta)
Walet sapi mempunyai ukuran tubuh yang paling kecil di antara jenis-jenis walet lainnya, yaitu sekitar 10 cm. Mempunyai bulu yang mengilat dengan warna bulu hitam kebiru-biruan. Walet ini mempunyai sifat tidak dapat terbang tinggi sehingga biasanya mereka hanya terbang atau berputar-putar di atas tanah atau sungai. Dia suka mencari makan pada pohon-pohon yang banyak serangganya terutama lebah.
No comments:
Post a Comment