Monday, 14 November 2016

Berak Kapur (Pullorum) Pada Ayam dan Unggas lainnya


Penyakit berak kapur disebut juga penyakit pullorum (pullorum disease). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum. Penyakit ini disebut pula penyakit berak putih (bacillaria white disease).
Penyakit ini umumnya menyerang anak ayam umur 2 minggu. Akan tatapi, menyerang pula segala umur. Berak kapur banyak menyerang ayam yang sudah dewasa, tetapi kematian terbanyak justru pada anak ayam yang masih muda. Jika ayam sanggup bertahan sampai dewasa, justru ayam tersebut akan menjadi carrier (pembawa penyakit) bagi ayam lain. Penyakit ini sering muncul pada saat pergantian musim.
1.    Penyebab
    Bakteri salmonella pullorum.
2.    Penularan
a.    Melalui telur tetas.
b.    Kontak langsung dengan ayam yang sakit.
c.    Melalui kotoran, pakan, dan minum.
3.    Gejala Klinis
a.    Kedinginan.
b.    Bergerombol.
c.    Berdesak-desakan.
d.    Bulu kusut.
e.    Susah bernapas.
f.    Nafsu makan menurun.
g.    Produksi telur menurun tidak stabil.
h.    Daya tetas menurun.
i.    Berak kapur, yaitu kotoran berwarna putih seperti kapur, mencret berwarna putih dan berbusa, sebagian kotoran melekat pada bulu di sekitar anus.
j.    Terlihat pucat.
k.    Lemah dan mengantuk.
l.    Jengger berkerut keabu-abuan dan pucat.
m.    Kepala tertunduk.
n.    Sayap terkulai.
4.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
    Infeksi pullorum pada organ dalam.







5.    Pencegahan
a.    Sebagai pencegahan, dilakukan pengobatan melalui air minum selama 3-5 hari pada ayam yang masih sehat.
b.    Segera pisahkan ayam yang sakit dan menyuntiknya dengan antibiotik, misalnya furazolidon, neo-Terramycin 25 soluble powder dengan dosis 2 sendok teh dan dilarutkan dalam 3,8 liter air minum.
c.    Ayam yang sudah parah, sebaiknya dimusnahkan.
6.    Pengobatan
    Pengobatan dilakukan dengan pemberian furazolidon, melalui pakan dengan dosis sesuai dengan ketentuan. Pengobatan pada ayam jantan harus hati-hati karena dapat menimbulkan efek negatif pada buah pelir. Selain itu, dapat pula menggunakan obat-obatan untuk penyakit pullorum yang sudah banyak dijual di toko-toko unggas, sesuai dengan dosis yang dianjurkan.





                                     

                   

Kolera pada ayam dan unggas lainnya

Kolera
Penyakit kolera atau fowl cholera atau avian pasteurellosis menyerang ayam setelah bermur > 12 minggu. Serangan dapat secara mendadak (akut) ditandai dengan terjadinya kematian tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, sedangkan serangan menahun (kronis) ditandai dengan gejala yang jelas. Kerugian yang ditimbulkan kolera, yaitu penurunan bobot badan dan produksi telur bahkan kematian.
1.    Penyebab
    Bakteri pasteurella mulcocida dan pasteurella gallinarum. Secara murni bakteri ini ada pada saluran pernapasan dan pencernaan. Pada saat kondisi dan daya tahan tubuh menurun, bakteri ini berubah menjadi patogen.
2.    Penularan
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
3.    Gejala Klinis
    Kolera kronis akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut.
a.    Demam.
b.    Nafsu makan hilang.
c.    Bulu berdiri.
d.    Napas sesak.
e.    Kotoran mencret banyak, mula-mula kuning, kemudian berubah cokelat atau hijau.
f.    Jengger dan pial bengkak kebiruan.
g.    Kepala geleng-geleng.
h.    Persendian sayap dan kaki bengkak, kadang disertai lumpuh.









4.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
    Ayam.
5.    Pencegahan
    Malalui vaksinasi dan sanitasi kandang.
6.    Pengobatan
    Pemberian antibiotik seperti mycomas, noxal atau ampisol. Air minumnya diberi vitamin, seperti vitastress atau vitastrong untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease) pada ayam dan unggas lainnya

Penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease)
Penyakit ini dikenal dengan nama air-sac disease (penyakit kantong udara) atau Mycoplasma Gallisepticum (MG), Pleuro Pneumonia Like Organism (PPLO), Respiratory Mycoplasmosis. CRD adalah penyakit pernapasan yang kronis (menahun), dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Sulit membedakan penyakit ini dengan penyakit coryza karena keduanya dapat bercampur dan menyerang sekaligus pada ayam segala umur. Akan tetapi, lebih banyak menyerang ayam-ayam muda (4-9 minggu) daripada ayam dewasa.
Penyakit ini lambat menular, tetapi sulit hilang. Angka kematian penyakit CRD tinggi, bila serangan penyakit bersamaan dengan penyakit lain, seperti penyakit ND dan bronchitis. Penyakit ini sulit sekali ditemukan secara mikroskopis dari dalam getah radang dan jaringan yang mengalami perubahan. Hal ini  disebabkan kuman ini sulit dibedakan dengan kuman-kuman yang lain. Penyakit CRD dapat lebih sering berjangkit pada musim penghujan.
1.    Penyebab
    Bakteri micoplasma  gallisepticum. 
    MG dianggap sebagai penyebab utama timbulnya penyakit CRD pada unggas. Umumnya, berkomplikasi dengan bakteri, antara lain escherichia coli dan virus-virus sekunder lainnya.
2.    Penularan
    Kontak langsung dengan ayam yang sakit, melalui pakan, air minum, peralatan, dan telur tatas yang tercemar penyakit CRD.
3    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis 
    Tanda-tanda pada ayam muda, yaitu sebagai berikut.
a.    Bila tidak ada komplikasi, tanda-tanda klinisnya kurang jelas.
b.    Terlihat adanya kesulitan ketika bernapas.
c.    Diikuti oleh napas ngorok, lubang hidung ke luar cairan, bersin-bersin, kepala diguncang-guncangkan, terdengar napas berbunyi melengking yang terdengar pada malam hari.
d.    Apabila terjadi komplikasi dengan penyakit-penyakit pernapasan lain (snot, ILT, dan lain-lain), tanda-tandanya akan lebih hebat. Dalam kasus seperti ini, kematian dapat mencapai 30%, sedangkan pada broiler angka kematiannya lebih tinggi, yaitu mencapai 40-50%.

    Tanda-tanda pada ayam dewasa, yaitu sebagai berikut.
a.    Terlihat lesu dan tidak aktif.
b.    Kadang-kadang terlihat mencret (diare).
c.    Produksi telur dapat berkurang hingga 50% dan produksi tetap konstan, tetapi rendah meskipun ayam-ayam tidak terlihat jelas menunjukkan tanda-tanda sakit. Angka kematian pada ayam dewasa biasanya rendah.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Airsacculitis.












b.    Pericarditis, peritonitis, dan perihepatitis.












6.    Pencegahan
a.    Hindarkan terjadinya stres yang disebabkan oleh kesalahan pemberian makan atau minum yang kurang baik.
b.    Lindungi terhadap hujan dan angin kencang.
c.    Isilah kandang sesuai dengan kapasitas. Apabila kandang diisi melebihi kapasitas, akan menyebabkan udara kotor, ventilasi tidak baik, dan litter basah yang dapat menyebabkan timbulnya CRD.
d.    Ayam-ayam yang terkena (terinfeksi) penyakit ini harus segera dipisahkan (diasingkan) karena penyakit ini mudah menular. 
7.    Pengobatan
    Berdasarkan hasil penelitian, beberapa spesies mycoplasma resisten (tahan) terhadap penicillin, methicillin, amoxicillin, thallium acetate, dan sulfathiasol. Usaha pengobatan pada penyakit ini hanya bersifat sementara.
Beberapa obat antibakteri berkhasiat menyembuhkan penyakit CRD dan dapat diberikan melalui air minum, makanan atau suntikan, yaitu sebagai berikut.
a.    Chlortetracyclin.
b.    Oxytetracyclin.
c.    Lincomycin.
d.     Erythromycin.
e.    Carbomycin.
f.     Streptomycion.
g.     Kanamycin.
h.     Spiramycin.
i.     Doxycyclin.
j.     Thiamulin.

Pengobatan dapat pula menggunakan mycomas 0,5 ml/liter air minum atau baytril 10%, dan OS sebanyak 0,5 ml/liter air minum. Selain itu, dapat juga menggunakan suanovil 1-2 g/liter air minum. Pengobatan dilakukan selama 3-5 hari berturut-turut.

Penyakit Coryza Pada Ayam

Penyakit Coryza
Penyakit coryza disebut juga penyakit hemophilus gallinarum infection, rhinitis, rouf, salesma, snot atau pilek. Penyakit ini merupakan penyakit yang akut (mendadak) atau kronis (menahun) pada unggas. Penyakit ini bersifat menular dan timbul akibat perubahan musim dari kemarau ke musim penghujan. Perubahan cuaca yang sangat berbeda, keadaan sehari-hari yang banyak turun hujan, dan angin, sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiologi ayam.
Penyakit coryza menyerang ayam semua umur terutama dewasa. Ayam betina umur 18-23 minggu, sangat rawan terserang penyakit ini. Ayam petelur yang terkena coryza, produksi telurnya dapat turun sampai 20%. Angka kematian karena coryza relatif kecil (mortalitas 30%), tetapi angka kesakitan tinggi (morbiditas 80%).
1.    Penyebab
    Bakteri haemophilus gallinarum.
2.    Penularan
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
    Ayam.
4.    Gejala Klinis
a.    Ke luar lendir agak encer, lama-lama mengental hingga menyumbat ujung lubang hidung.
b.    Ayam tampak tidak mau makan.
c.    Suka menyendiri.
d.    Sering menggeleng-gelengkan kepala.
e.    Sayap terkulai.
f.    Mata terpejam.
g.    Muka bengkak.
h.    Tidak aktif bergerak.
i.    Sukar bernapas.
j.    Suara ngorok.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Ayam.
b.    Kalkun.






 6.    Pencegahan
a.    Vaksinasi pada ayam yang berumur 12-17 minggu dengan menggunakan vaksin snot inaktif, misalnya haemovax 0,3 ml per ekor.
b.    Diusahakan, tidak mencampur ayam berbeda umur lebih dari 3 minggu dalam satu kandang.
7.    Pengobatan
    Dengan preparat sulfa. Di toko, preparat sulfa tersedia dalam berbagai merek, misalnya streptomycin, mycomas, ampisol, ultramycin SP, baytryl 10%, dan OS.

Penyakit Cacar Pada Ayam

Penyakit Cacar
Penyakit cacar (avian pox) atau avian diphtheria atau fowl pox merupakan penyakit menular yang akut (mendadak) pada unggas. Pada umumnya, menyerang ternak ayam yang dipelihara pada kandang basah dan kotor serta kualitas pakan yang kurang baik. Ada 2 bagian tubuh yang terserang penyakit ini, yaitu bagian luar (jengger dan kulit) dan bagian dalam tubuh (mulut dan tenggorokan). Berdasarkan pengalaman, angka kematian yang diakibatkan penyakit cacar ini rendah, tetapi dapat pula tinggi sampai 50%, terutama pada infeksi mulut dan tenggorokan. Lamanya penyakit ini biasanya berlangsung 3-4 minggu, tetapi tanda-tanda penyakit ini berbeda-beda menurut bagian yang diserangnya.

1.    Penyebab
    Virus pox.
2.    Penularan
a.    Kontak langsung dengan ternak ayam yang sakit atau dengan benda yang tercemar. Selain itu, dapat ditularkan oleh serangga, misalnya nyamuk. 
b.    Melalui makanan, air minum, udara, peternak, dan para tamu. Virus ini masuk ke dalam tubuh ternak hanya melalui luka-luka atau goresan pada kepala, mulut, dan lain-lain.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
c.    Pheasants.
d.    Pigeons.
4.    Gejala Klinis
Cacar yang menyerang bagian luar terutama pada bagian yang tidak berbulu, seperti jengger atau kulit dengan tanda-tanda sebagai berikut. 
a.    Timbul bintil-bintil berwarna merah pada jengger, pial, dan kelopak mata. Bintil-bintil kecil merah tersebut kemudian berubah atau bertambah besar, berwarna kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap.
b.    Kadang-kadang ke luar cairan dari mata atau hidung.
c.    Napsu makan turun dan ayam menjadi kurus.
d.    Produksi telur turun dan berat badan pada ayam turun.

Cacar yang menyerang bagian dalam, terutama pada bagian selaput lendir lidah, mulut, dan tenggorokan, mempunyai tanda-tanda sebagai berikut.
a.    Timbul selaput kuning yang tebal dalam mulut dan tenggorokan.
b.    Selaput lendir tersebut dapat semakin besar, pecah-pecah, dan menyumbat jalan napas yang mengakibatkan jalan pernapasan menjadi sesak.
c.    Mulut selalu terbuka atau terengah-engah.
                          
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
6.    Pencegahan
a.    Vaksinasi. Ayam yang telah sembuh dari penyakit cacar akan menjadi kebal. Oleh sebab itu, tindakan yang perlu dilakukan adalah mengebalkan ternak unggas yang rentan (peka) dengan jalan vaksinasi.
b.    Menjaga kebersihan kandang dan menghindari kandang terlalu padat serta kemungkinan-kemungkinan adanya goresan (luka) pada kulit ayam. Bila sudah terjadi, segeralah mengasingkan ayam yang sakit tersebut.
7.    Pengobatan
    Penyakit cacar pada unggas praktis tidak ada obatnya. Adapun cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan mempertinggi resistensi tubuh. Umumnya, pengobatan dilakukan dengan mengoleskan iodium tincture pada bekas diptheria tersebut, kemudian diberi suntikan vitamin A.
G.     Penyakit Batuk darah
Penyakit batuk darah disebut juga dengan penyakit Infectious Laryngo Tracheitis (ILT). Ayam yang berumur 14 minggu atau lebih sangat rentan terhadap penyakit batuk darah ini.
1.    Penyebab
    Virus herpes.
2.    Penularan
    Vaksinasi.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Pheasant.
4.    Gejala Klinis
a.    Mata berair.
b.    Malas bergerak.
c.    Lendir bercampur darah melekat pada rongga mulut dan tenggorokan.
d.    Ayam sulit bernapas.
e.    Sering batuk.
f.    Paruh dan bulu terlihat per-cikan darah.
g.    Saluran tenggorokan tersum-bat.





5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
    Haemorrhagic trachea.











6.    Pencegahan
    Vaksinasi.
7.    Pengobatan
    Vaksinasi.

Penyakit Marek’s Pada Ayam

Penyakit Marek’s
Penyakit marek's atau Marek's Disease (MD) atau Neurolymphomatosis merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini, biasanya menyerang anak ayam umur 1-5 bulan.
1.    Penyebab
    Virus herpes.
2.    Penularan
a.    Kontak dengan ayam yang terkena penyakit  marek's.
b.    Melalui debu kandang, kotoran, litter, dan peralatan kandang.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
    Unggas lokal.
4.    Gejala Klinis
a.    Jengger pucat.
b.    Pembesaran tulang-tulang kaki.
c.    Terjadi kelumpuhan pada syaraf kaki, sehingga kaki dijulurkan ke depan atau ke belakang atau ayam dapat lumpuh sama sekali.










d.    Sayap menggantung.
e.    Mata tidak normal, terjadi kebutaan, iris mata berwarna kelabu.
f.    Tumor di bawah kulit dan otot.
g.    Terjadi benjol-benjol pada bulu kulit paha.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Pembengkakan syaraf sciatic.










b.    Tumor pada hati, spleen, jantung, ovari, dan jaringan-jaringan yang terinfeksi MD. Gambar berikut ini, menunjukkan tumor pada ovari!









6.    Pencegahan
a.    Melakukan vaksinasi MD pada DOC.
b.    Melakukan program sanitasi dan pemeliharaan yang baik.
7.    Pengobatan
    Sampai saat ini, penyakit marek’s belum ada obatnya.

Penyakit IB (Infectious Bronchitis) pada Ayam

Penyakit IB (Infectious Bronchitis)
Penyakit IB (Infectious Bronchitis) atau dikenal dengan penyakit gasping disease (penyakit sesak napas) atau bronchitis merupakan penyakit pernapasan pada ayam yang akut (mendadak) dan sangat cepat menular. Penyakit ini banyak menyerang ayam yang berumur 1-4 minggu dengan angka kematian mencapai 50% , dan dapat berlangsung selama 7-21 hari.
1.    Penyebab
    Virus IB. 
2.    Penularan
a.    Melalui udara. Virus yang dibatukkan oleh ayam ke udara, dalam waktu singkat dapat menjalar ke seluruh kandang karena penyakit IB ini sangat mudah menular.
b.    Melalui pembawa penyakit, seperti pekerja kandang, tamu, alat transportasi, dan ayam yang terserang penyakit ini. Ayam yang telah satu bulan sembuh dari penyakit IB, masih dapat menularkan penyakitnya, apabila ayam tersebut dicampur dengan ayam yang sehat.
c.    Melalui pakan yang tercemar oleh virus IB.
d.    Melalui kandang bekas ayam yang sakit. Oleh sebab itu, penggunaan kandang selanjutnya jangan terburu-buru, harus dilakukan sanitasi terlebih dulu.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
    Ayam.
4.    Gejala Klinis
a.    Pada anak ayam, yaitu sebagai berikut.
1)    Terdengar bunyi napas yang mencicit dan bersin-bersin pada malam hari.
2)    Ke luar cairan dari hidung
3)    Mata berair dan terjadi pembengkakan pada sudut-sudut mata.
4)    Sesak napas.
5)    Tingkat kematian tinggi, mencapai 50%.

b.    Pada ayam dewasa, yaitu sebagai berikut.
1)    Terjadi gangguan pernapasan.
2)    Produksi telur menurun.












3)    Kualitas telur menurun, seperti bentuk abnormal, kerabang lunak, berkerut, poreus, berbintik-bintik kapur, dan warnanya bening. Selain itu, putih telur encer dan berair, bila disimpan cepat rusak.
4)    Tingkat kematian tidak berarti (hampir tidak ada).
5.    Tanda-tanda Sesudah mati
6.    Pencegahan
a.    Melakukan tata cara pemeliharaan  yang  baik.
b.    Melakukan vaksinasi IB secara benar.
7.    Pengobatan
    Belum ada obatnya. Pengobatan dilakukan hanya untuk mencegah kerusakan dan kematian yang disebabkan oleh infeksi sekunder.

Penyakit AI (Avian Influenza)/Flu Burung

Penyakit AI (Avian Influenza)
Penyakit AI (Avian Influenza) disebut juga penyakit flu burung. Istilah Avian Influenza lazim digunakan untuk penyakit pada unggas, sedangkan flu burung di Indonesia digunakan untuk penyakit pada manusia. Penyakit AI (Avian Influenza) merupakan penyakit pernapasan yang menular, tetapi tidak bersifat menurun. Ternak yang sembuh dari penyakit ini tidak sebagai pembawa sifat. Saat ini, penyakit Avian Influenza menjadi momok yang menakutkan bagi peternak dan masyarakat. Alasannya, selain dapat membunuh unggas (ayam), juga menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian.
1.    Penyebab
    Virus Influenza A (orthomyxo virus) memiliki 15 antigen H dan 9 antigen N (135 subtipe). Berdasarkan keganasannya, virus ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
a.    Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).
b.    Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Wabah AI di Indonesia disebabkan oleh HPAI subtipe H5N1.
2.    Penularan
    Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, kotoran, peralatan, dan orang pembawa virus.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
c.    Itik.
d.    Angsa.
e.    Unggas liar.
4.    Gejala Klinis
a.    Pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis).
















b.    Muka bengkak dan ke luar cairan dari hidung dan mulut.














c.    Ke luar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut (hipersalivasi).
d.    Depresi.
e.    Kerabang telur lembek.
f.    Ptekhi subcutan pada kaki.












g.    Ptekhi subcutan dan pembengkakan pada telapak kaki.












h.    Diare.







i.    Tingkat kematian tinggi.


















5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki.
    
    





    





















Gambar 2.9 Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki



b.    Infeksi hati dan proventrikulus.











6.    Pencegahan
a.    Menerapkan biosecurity secara ketat, yaitu sebagai berikut.
 1)    Biosecurity konseptual dilakukan dengan cara memilih tempat usaha peternakan; breeder 3 km dari peternakan komersial, RPA, dan tempat penetasan serta tidak boleh dekat dengan jalan raya dan danau.
 2)    Biosecurity struktural dilakukan dengan cara menentukan tata letak (lay out) peternakan, instalasi kandang, air minum, pakan, dan perkantoran.
 3)    Biosecurity operasional dilakukan dengan cara menentukan prosedur rutin kegiatan sehari-hari, dekontaminasi, dan desinfeksi. Contohnya, penyemprotan dengan antiseptik atau larutan sabun terhadap kandang dan peralatan serta lingkungan kandang secara teratur (3-6) hari sekali.

b.    Hal penting dalam biosecurity operasional, yaitu sebagai berikut.
1)    Batasi kunjungan ke kandang.
2)    Pakaian kandang khusus.
3)    Desinfektan pencuci kaki di depan pintu kandang.
4)    Untuk breeder:  kewajiban mandi.
5)    Desinfeksi setelah pengosongan kandang.
6)    Kendaraan dan alat-alat kandang serta peralatan pengepakan (keranjang ayam dan rak telur) perlu didekontaminasi dengan desinfeksi.

c.    Melakukan vaksinasi AI.
1)    Pilihlah vaksin AI yang mengandung virus AI subtipe H5, sedapat mungkin homolog atau memiliki tingkat homologi terhadap virus AI lapangan > 80%.
 2)    Vaksin AI selalu inaktif (kill) dalam adjuvant, masih sering menimbulkan stres dan dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Oleh sebab itu, program vaksinasi seharusnya selesai sebelum masa produksi.
 3)    Titer antibodi yang dihasilkan setelah program vaksinasi hendaknya cukup tinggi (> 7 (log2), untuk menghindari AI subklinis.
7.    Pengobatan
    Belum ada pengobatan yang efektif.
    Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) pada Ayam

Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease)
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau dikenal dengan penyakit gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama bagian bursa fabricious dan thymus yang berfungsi membentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Kedua organ ayam ini merupakan benteng pertahanan penyakit.
Kerusakan parah yang ditimbulkan, yaitu tidak terbentuknya antibodi sesudah divaksinasi. Penyakit gumboro tidak menimbulkan kematian secara langsung, tetapi infeksi sekunder sesudahnya mengakibatkan banyak kematian. Penyakit ini umumnya menyerang ayam berumur muda, yaitu < 3 minggu (gumboro subklinik) dan berumur 4-8 minggu (gumboro klinik).
1.    Penyebab
    Virus IBD.
2.    Penularan
    Penyebaran penyakit ini dapat berlangsung sangat cepat melalui kontak langsung dengan tempat pakan, tempat minum, pakan, air minum, kotoran unggas, peralatan, pekerja kandang, dan orang (tamu) yang datang dan telah tercemar virus gumboro. 
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis
Gumboro subklinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a.    Mengalami kerusakan sel bursa fabricious, sehingga tidak mampu lagi membentuk kekebalan tubuh dan akan mudah terinfeksi beberapa penyakit menular lain, misalnya marek, ND, dan IB.
b.    Pertambahan bobot badan lebih rendah.
c.    FCR (Feed Conversion Ratios) tinggi.

Gumboro klinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a.    Ayam bergerombol seperti kedinginan.
b.    Nafsu makan dan minum menurun.
c.    Ayam lesu, mengantuk, dan bulu mengerut.
d.    Badan gemetar dan sukar berdiri.
e.    Bulunya kotor di sekitar anus.
f.    Kotoran  encer (diare berlendir),keputih-putihan.
g.    Dehidrasi.
h.    Suka mematuki di sekitar kloaka akibat peradangan bursa fabricious yang terletak di atas dubur.

i.    Bila  tidur paruh diletakkan di lantai. 
5.    Tanda-tanda Setelah Mati
Bursa fabricious membesar atau membengkak.
6.    Pencegahan
a.    Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan dengan baik.
b.    Vaksinasi gumboro.
7.    Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif. Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Penyakit ND (Newcastle Disease) pada Ayam


Penyakit ND (Newcastle Disease) atau penyakit tetelo (telo), pes, sampar, cekak, atau dalam bahasa jawa disebut pileren merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan menyerang ternak unggas semua usia. Penyakit ini berjangkit terutama pada musim peralihan,  yaitu dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya. Penyakit ND muncul setelah ayam mengalami komplikasi dengan penyakit lain, seperti coryza (penyakit pernapasan). Apabila kondisi ayam lemah,  ayam mudah terjangkit penyakit ND. Dalam beberapa hari saja, penyakit ini dapat menyebabkan semua ayam mati. 
1.    Penyebab
    Virus ND (paramyxo virus).
    Virus ND mempunyai tingkat keganasan yang bervariasi dari yang rendah (lentogenik), sedang (mesogenik) sampai yang sangat ganas (velogenik).
2.    Penularan
    Kontak langsung melalui pakan, minum, kotoran unggas, dan peralatan yang tercemar oleh virus ND. Periode inkubasi (masa penularan penyakit sampai dengan terlihat tanda-tanda sakit) berlangsung 3-6 hari. 
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis
    Napsu makan berkurang disertai gejala lain, yaitu sebagai berikut.
a.    Lesu (tidak aktif bergerak).
b.    Gangguan pernapasan (sulit bernapas).
c.    Batuk-batuk dan bersin.
d..    Ngorok.
e.    Mata mengantuk.
f.    Sayap terkulai ke bawah.
g.    Jengger tampak biru kehitaman.
h.    Tinja encer, hijau, dan kadang-kadang mengandung darah.
i.    Syaraf terganggu ditandai dengan gerak yang tidak normal, jalan berputar-putar dan lehernya berputar, seperti terpelintir dengan kepala terangkat ke atas.
j.    Kelumpuhan.
k.    Tingkat kematian tinggi, yaitu dapat mencapai 100%.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Terlihat adanya bendungan-bendungan pembuluh darah (congesti).
b.    Terlihat adanya perdarahan bercak-bercak (haemorrhagi ptechiae) pada proventriculus, usus buntu (caecum), saluran pernapasan, dan pencernaan.
c.    Terlihat adanya radang usus yang mengeluarkan cairan radang (enteritis catarrhalis) apabila usus dibelah.
6.    Pencegahan             
Tata cara pemeliharaan yang baik, yaitu sebagai berikut.
a.    Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungannya, baik sebelum, selama, maupun sesudah pemeliharaan.
b.    Bibit ayam berasal dari breeder yang bebas penyakit ND.
c.    Pemberian pakan dan air minum, baik dari kualitas maupun kuantitasnya harus baik.
d.    Ayam yang sakit atau diduga sakit harus disingkirkan dengan cara disembelih dan dagingnya dapat diperjualbelikan, dengan syarat harus direbus atau dimasak terlebih dahulu.
e.    Sisa-sisa pemotongan ayam yang sakit atau diduga sakit, harus dibakar atau dikubur..   
f.    Ayam yang terkena penyakit ND harus dibakar atau dikubur.
g.    Melakukan vaksinasi ND secara teratur.
7.    Pengobatan
    Belum ada obatnya. Pemberian antibiotika tidak mempan terhadap virus ND, tetapi hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.