Monday, 14 November 2016

Penyakit AI (Avian Influenza)/Flu Burung

Penyakit AI (Avian Influenza)
Penyakit AI (Avian Influenza) disebut juga penyakit flu burung. Istilah Avian Influenza lazim digunakan untuk penyakit pada unggas, sedangkan flu burung di Indonesia digunakan untuk penyakit pada manusia. Penyakit AI (Avian Influenza) merupakan penyakit pernapasan yang menular, tetapi tidak bersifat menurun. Ternak yang sembuh dari penyakit ini tidak sebagai pembawa sifat. Saat ini, penyakit Avian Influenza menjadi momok yang menakutkan bagi peternak dan masyarakat. Alasannya, selain dapat membunuh unggas (ayam), juga menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian.
1.    Penyebab
    Virus Influenza A (orthomyxo virus) memiliki 15 antigen H dan 9 antigen N (135 subtipe). Berdasarkan keganasannya, virus ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
a.    Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).
b.    Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Wabah AI di Indonesia disebabkan oleh HPAI subtipe H5N1.
2.    Penularan
    Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, kotoran, peralatan, dan orang pembawa virus.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
c.    Itik.
d.    Angsa.
e.    Unggas liar.
4.    Gejala Klinis
a.    Pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis).
















b.    Muka bengkak dan ke luar cairan dari hidung dan mulut.














c.    Ke luar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut (hipersalivasi).
d.    Depresi.
e.    Kerabang telur lembek.
f.    Ptekhi subcutan pada kaki.












g.    Ptekhi subcutan dan pembengkakan pada telapak kaki.












h.    Diare.







i.    Tingkat kematian tinggi.


















5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki.
    
    





    





















Gambar 2.9 Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki



b.    Infeksi hati dan proventrikulus.











6.    Pencegahan
a.    Menerapkan biosecurity secara ketat, yaitu sebagai berikut.
 1)    Biosecurity konseptual dilakukan dengan cara memilih tempat usaha peternakan; breeder 3 km dari peternakan komersial, RPA, dan tempat penetasan serta tidak boleh dekat dengan jalan raya dan danau.
 2)    Biosecurity struktural dilakukan dengan cara menentukan tata letak (lay out) peternakan, instalasi kandang, air minum, pakan, dan perkantoran.
 3)    Biosecurity operasional dilakukan dengan cara menentukan prosedur rutin kegiatan sehari-hari, dekontaminasi, dan desinfeksi. Contohnya, penyemprotan dengan antiseptik atau larutan sabun terhadap kandang dan peralatan serta lingkungan kandang secara teratur (3-6) hari sekali.

b.    Hal penting dalam biosecurity operasional, yaitu sebagai berikut.
1)    Batasi kunjungan ke kandang.
2)    Pakaian kandang khusus.
3)    Desinfektan pencuci kaki di depan pintu kandang.
4)    Untuk breeder:  kewajiban mandi.
5)    Desinfeksi setelah pengosongan kandang.
6)    Kendaraan dan alat-alat kandang serta peralatan pengepakan (keranjang ayam dan rak telur) perlu didekontaminasi dengan desinfeksi.

c.    Melakukan vaksinasi AI.
1)    Pilihlah vaksin AI yang mengandung virus AI subtipe H5, sedapat mungkin homolog atau memiliki tingkat homologi terhadap virus AI lapangan > 80%.
 2)    Vaksin AI selalu inaktif (kill) dalam adjuvant, masih sering menimbulkan stres dan dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Oleh sebab itu, program vaksinasi seharusnya selesai sebelum masa produksi.
 3)    Titer antibodi yang dihasilkan setelah program vaksinasi hendaknya cukup tinggi (> 7 (log2), untuk menghindari AI subklinis.
7.    Pengobatan
    Belum ada pengobatan yang efektif.
    Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

No comments:

Post a Comment