Penyakit Coryza
Penyakit coryza disebut juga penyakit hemophilus gallinarum infection, rhinitis, rouf, salesma, snot atau pilek. Penyakit ini merupakan penyakit yang akut (mendadak) atau kronis (menahun) pada unggas. Penyakit ini bersifat menular dan timbul akibat perubahan musim dari kemarau ke musim penghujan. Perubahan cuaca yang sangat berbeda, keadaan sehari-hari yang banyak turun hujan, dan angin, sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiologi ayam.
Penyakit coryza menyerang ayam semua umur terutama dewasa. Ayam betina umur 18-23 minggu, sangat rawan terserang penyakit ini. Ayam petelur yang terkena coryza, produksi telurnya dapat turun sampai 20%. Angka kematian karena coryza relatif kecil (mortalitas 30%), tetapi angka kesakitan tinggi (morbiditas 80%).
1. Penyebab
Bakteri haemophilus gallinarum.
2. Penularan
a. Ayam.
b. Kalkun.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
Ayam.
4. Gejala Klinis
a. Ke luar lendir agak encer, lama-lama mengental hingga menyumbat ujung lubang hidung.
b. Ayam tampak tidak mau makan.
c. Suka menyendiri.
d. Sering menggeleng-gelengkan kepala.
e. Sayap terkulai.
f. Mata terpejam.
g. Muka bengkak.
h. Tidak aktif bergerak.
i. Sukar bernapas.
j. Suara ngorok.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
a. Ayam.
b. Kalkun.
6. Pencegahan
a. Vaksinasi pada ayam yang berumur 12-17 minggu dengan menggunakan vaksin snot inaktif, misalnya haemovax 0,3 ml per ekor.
b. Diusahakan, tidak mencampur ayam berbeda umur lebih dari 3 minggu dalam satu kandang.
7. Pengobatan
Dengan preparat sulfa. Di toko, preparat sulfa tersedia dalam berbagai merek, misalnya streptomycin, mycomas, ampisol, ultramycin SP, baytryl 10%, dan OS.
Monday, 14 November 2016
Penyakit Cacar Pada Ayam
Penyakit Cacar
Penyakit cacar (avian pox) atau avian diphtheria atau fowl pox merupakan penyakit menular yang akut (mendadak) pada unggas. Pada umumnya, menyerang ternak ayam yang dipelihara pada kandang basah dan kotor serta kualitas pakan yang kurang baik. Ada 2 bagian tubuh yang terserang penyakit ini, yaitu bagian luar (jengger dan kulit) dan bagian dalam tubuh (mulut dan tenggorokan). Berdasarkan pengalaman, angka kematian yang diakibatkan penyakit cacar ini rendah, tetapi dapat pula tinggi sampai 50%, terutama pada infeksi mulut dan tenggorokan. Lamanya penyakit ini biasanya berlangsung 3-4 minggu, tetapi tanda-tanda penyakit ini berbeda-beda menurut bagian yang diserangnya.
1. Penyebab
Virus pox.
2. Penularan
a. Kontak langsung dengan ternak ayam yang sakit atau dengan benda yang tercemar. Selain itu, dapat ditularkan oleh serangga, misalnya nyamuk.
b. Melalui makanan, air minum, udara, peternak, dan para tamu. Virus ini masuk ke dalam tubuh ternak hanya melalui luka-luka atau goresan pada kepala, mulut, dan lain-lain.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
c. Pheasants.
d. Pigeons.
4. Gejala Klinis
Cacar yang menyerang bagian luar terutama pada bagian yang tidak berbulu, seperti jengger atau kulit dengan tanda-tanda sebagai berikut.
a. Timbul bintil-bintil berwarna merah pada jengger, pial, dan kelopak mata. Bintil-bintil kecil merah tersebut kemudian berubah atau bertambah besar, berwarna kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap.
b. Kadang-kadang ke luar cairan dari mata atau hidung.
c. Napsu makan turun dan ayam menjadi kurus.
d. Produksi telur turun dan berat badan pada ayam turun.
Cacar yang menyerang bagian dalam, terutama pada bagian selaput lendir lidah, mulut, dan tenggorokan, mempunyai tanda-tanda sebagai berikut.
a. Timbul selaput kuning yang tebal dalam mulut dan tenggorokan.
b. Selaput lendir tersebut dapat semakin besar, pecah-pecah, dan menyumbat jalan napas yang mengakibatkan jalan pernapasan menjadi sesak.
c. Mulut selalu terbuka atau terengah-engah.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
6. Pencegahan
a. Vaksinasi. Ayam yang telah sembuh dari penyakit cacar akan menjadi kebal. Oleh sebab itu, tindakan yang perlu dilakukan adalah mengebalkan ternak unggas yang rentan (peka) dengan jalan vaksinasi.
b. Menjaga kebersihan kandang dan menghindari kandang terlalu padat serta kemungkinan-kemungkinan adanya goresan (luka) pada kulit ayam. Bila sudah terjadi, segeralah mengasingkan ayam yang sakit tersebut.
7. Pengobatan
Penyakit cacar pada unggas praktis tidak ada obatnya. Adapun cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan mempertinggi resistensi tubuh. Umumnya, pengobatan dilakukan dengan mengoleskan iodium tincture pada bekas diptheria tersebut, kemudian diberi suntikan vitamin A.
G. Penyakit Batuk darah
Penyakit batuk darah disebut juga dengan penyakit Infectious Laryngo Tracheitis (ILT). Ayam yang berumur 14 minggu atau lebih sangat rentan terhadap penyakit batuk darah ini.
1. Penyebab
Virus herpes.
2. Penularan
Vaksinasi.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Pheasant.
4. Gejala Klinis
a. Mata berair.
b. Malas bergerak.
c. Lendir bercampur darah melekat pada rongga mulut dan tenggorokan.
d. Ayam sulit bernapas.
e. Sering batuk.
f. Paruh dan bulu terlihat per-cikan darah.
g. Saluran tenggorokan tersum-bat.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
Haemorrhagic trachea.
6. Pencegahan
Vaksinasi.
7. Pengobatan
Vaksinasi.
Penyakit cacar (avian pox) atau avian diphtheria atau fowl pox merupakan penyakit menular yang akut (mendadak) pada unggas. Pada umumnya, menyerang ternak ayam yang dipelihara pada kandang basah dan kotor serta kualitas pakan yang kurang baik. Ada 2 bagian tubuh yang terserang penyakit ini, yaitu bagian luar (jengger dan kulit) dan bagian dalam tubuh (mulut dan tenggorokan). Berdasarkan pengalaman, angka kematian yang diakibatkan penyakit cacar ini rendah, tetapi dapat pula tinggi sampai 50%, terutama pada infeksi mulut dan tenggorokan. Lamanya penyakit ini biasanya berlangsung 3-4 minggu, tetapi tanda-tanda penyakit ini berbeda-beda menurut bagian yang diserangnya.
1. Penyebab
Virus pox.
2. Penularan
a. Kontak langsung dengan ternak ayam yang sakit atau dengan benda yang tercemar. Selain itu, dapat ditularkan oleh serangga, misalnya nyamuk.
b. Melalui makanan, air minum, udara, peternak, dan para tamu. Virus ini masuk ke dalam tubuh ternak hanya melalui luka-luka atau goresan pada kepala, mulut, dan lain-lain.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
c. Pheasants.
d. Pigeons.
4. Gejala Klinis
Cacar yang menyerang bagian luar terutama pada bagian yang tidak berbulu, seperti jengger atau kulit dengan tanda-tanda sebagai berikut.
a. Timbul bintil-bintil berwarna merah pada jengger, pial, dan kelopak mata. Bintil-bintil kecil merah tersebut kemudian berubah atau bertambah besar, berwarna kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap.
b. Kadang-kadang ke luar cairan dari mata atau hidung.
c. Napsu makan turun dan ayam menjadi kurus.
d. Produksi telur turun dan berat badan pada ayam turun.
Cacar yang menyerang bagian dalam, terutama pada bagian selaput lendir lidah, mulut, dan tenggorokan, mempunyai tanda-tanda sebagai berikut.
a. Timbul selaput kuning yang tebal dalam mulut dan tenggorokan.
b. Selaput lendir tersebut dapat semakin besar, pecah-pecah, dan menyumbat jalan napas yang mengakibatkan jalan pernapasan menjadi sesak.
c. Mulut selalu terbuka atau terengah-engah.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
6. Pencegahan
a. Vaksinasi. Ayam yang telah sembuh dari penyakit cacar akan menjadi kebal. Oleh sebab itu, tindakan yang perlu dilakukan adalah mengebalkan ternak unggas yang rentan (peka) dengan jalan vaksinasi.
b. Menjaga kebersihan kandang dan menghindari kandang terlalu padat serta kemungkinan-kemungkinan adanya goresan (luka) pada kulit ayam. Bila sudah terjadi, segeralah mengasingkan ayam yang sakit tersebut.
7. Pengobatan
Penyakit cacar pada unggas praktis tidak ada obatnya. Adapun cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan mempertinggi resistensi tubuh. Umumnya, pengobatan dilakukan dengan mengoleskan iodium tincture pada bekas diptheria tersebut, kemudian diberi suntikan vitamin A.
G. Penyakit Batuk darah
Penyakit batuk darah disebut juga dengan penyakit Infectious Laryngo Tracheitis (ILT). Ayam yang berumur 14 minggu atau lebih sangat rentan terhadap penyakit batuk darah ini.
1. Penyebab
Virus herpes.
2. Penularan
Vaksinasi.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Pheasant.
4. Gejala Klinis
a. Mata berair.
b. Malas bergerak.
c. Lendir bercampur darah melekat pada rongga mulut dan tenggorokan.
d. Ayam sulit bernapas.
e. Sering batuk.
f. Paruh dan bulu terlihat per-cikan darah.
g. Saluran tenggorokan tersum-bat.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
Haemorrhagic trachea.
6. Pencegahan
Vaksinasi.
7. Pengobatan
Vaksinasi.
Penyakit Marek’s Pada Ayam
Penyakit Marek’s
Penyakit marek's atau Marek's Disease (MD) atau Neurolymphomatosis merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini, biasanya menyerang anak ayam umur 1-5 bulan.
1. Penyebab
Virus herpes.
2. Penularan
a. Kontak dengan ayam yang terkena penyakit marek's.
b. Melalui debu kandang, kotoran, litter, dan peralatan kandang.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
Unggas lokal.
4. Gejala Klinis
a. Jengger pucat.
b. Pembesaran tulang-tulang kaki.
c. Terjadi kelumpuhan pada syaraf kaki, sehingga kaki dijulurkan ke depan atau ke belakang atau ayam dapat lumpuh sama sekali.
d. Sayap menggantung.
e. Mata tidak normal, terjadi kebutaan, iris mata berwarna kelabu.
f. Tumor di bawah kulit dan otot.
g. Terjadi benjol-benjol pada bulu kulit paha.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
a. Pembengkakan syaraf sciatic.
b. Tumor pada hati, spleen, jantung, ovari, dan jaringan-jaringan yang terinfeksi MD. Gambar berikut ini, menunjukkan tumor pada ovari!
6. Pencegahan
a. Melakukan vaksinasi MD pada DOC.
b. Melakukan program sanitasi dan pemeliharaan yang baik.
7. Pengobatan
Sampai saat ini, penyakit marek’s belum ada obatnya.
Penyakit marek's atau Marek's Disease (MD) atau Neurolymphomatosis merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini, biasanya menyerang anak ayam umur 1-5 bulan.
1. Penyebab
Virus herpes.
2. Penularan
a. Kontak dengan ayam yang terkena penyakit marek's.
b. Melalui debu kandang, kotoran, litter, dan peralatan kandang.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
Unggas lokal.
4. Gejala Klinis
a. Jengger pucat.
b. Pembesaran tulang-tulang kaki.
c. Terjadi kelumpuhan pada syaraf kaki, sehingga kaki dijulurkan ke depan atau ke belakang atau ayam dapat lumpuh sama sekali.
d. Sayap menggantung.
e. Mata tidak normal, terjadi kebutaan, iris mata berwarna kelabu.
f. Tumor di bawah kulit dan otot.
g. Terjadi benjol-benjol pada bulu kulit paha.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
a. Pembengkakan syaraf sciatic.
b. Tumor pada hati, spleen, jantung, ovari, dan jaringan-jaringan yang terinfeksi MD. Gambar berikut ini, menunjukkan tumor pada ovari!
6. Pencegahan
a. Melakukan vaksinasi MD pada DOC.
b. Melakukan program sanitasi dan pemeliharaan yang baik.
7. Pengobatan
Sampai saat ini, penyakit marek’s belum ada obatnya.
Penyakit IB (Infectious Bronchitis) pada Ayam
Penyakit IB (Infectious Bronchitis)
Penyakit IB (Infectious Bronchitis) atau dikenal dengan penyakit gasping disease (penyakit sesak napas) atau bronchitis merupakan penyakit pernapasan pada ayam yang akut (mendadak) dan sangat cepat menular. Penyakit ini banyak menyerang ayam yang berumur 1-4 minggu dengan angka kematian mencapai 50% , dan dapat berlangsung selama 7-21 hari.
1. Penyebab
Virus IB.
2. Penularan
a. Melalui udara. Virus yang dibatukkan oleh ayam ke udara, dalam waktu singkat dapat menjalar ke seluruh kandang karena penyakit IB ini sangat mudah menular.
b. Melalui pembawa penyakit, seperti pekerja kandang, tamu, alat transportasi, dan ayam yang terserang penyakit ini. Ayam yang telah satu bulan sembuh dari penyakit IB, masih dapat menularkan penyakitnya, apabila ayam tersebut dicampur dengan ayam yang sehat.
c. Melalui pakan yang tercemar oleh virus IB.
d. Melalui kandang bekas ayam yang sakit. Oleh sebab itu, penggunaan kandang selanjutnya jangan terburu-buru, harus dilakukan sanitasi terlebih dulu.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
Ayam.
4. Gejala Klinis
a. Pada anak ayam, yaitu sebagai berikut.
1) Terdengar bunyi napas yang mencicit dan bersin-bersin pada malam hari.
2) Ke luar cairan dari hidung
3) Mata berair dan terjadi pembengkakan pada sudut-sudut mata.
4) Sesak napas.
5) Tingkat kematian tinggi, mencapai 50%.
b. Pada ayam dewasa, yaitu sebagai berikut.
1) Terjadi gangguan pernapasan.
2) Produksi telur menurun.
3) Kualitas telur menurun, seperti bentuk abnormal, kerabang lunak, berkerut, poreus, berbintik-bintik kapur, dan warnanya bening. Selain itu, putih telur encer dan berair, bila disimpan cepat rusak.
4) Tingkat kematian tidak berarti (hampir tidak ada).
5. Tanda-tanda Sesudah mati
6. Pencegahan
a. Melakukan tata cara pemeliharaan yang baik.
b. Melakukan vaksinasi IB secara benar.
7. Pengobatan
Belum ada obatnya. Pengobatan dilakukan hanya untuk mencegah kerusakan dan kematian yang disebabkan oleh infeksi sekunder.
Penyakit IB (Infectious Bronchitis) atau dikenal dengan penyakit gasping disease (penyakit sesak napas) atau bronchitis merupakan penyakit pernapasan pada ayam yang akut (mendadak) dan sangat cepat menular. Penyakit ini banyak menyerang ayam yang berumur 1-4 minggu dengan angka kematian mencapai 50% , dan dapat berlangsung selama 7-21 hari.
1. Penyebab
Virus IB.
2. Penularan
a. Melalui udara. Virus yang dibatukkan oleh ayam ke udara, dalam waktu singkat dapat menjalar ke seluruh kandang karena penyakit IB ini sangat mudah menular.
b. Melalui pembawa penyakit, seperti pekerja kandang, tamu, alat transportasi, dan ayam yang terserang penyakit ini. Ayam yang telah satu bulan sembuh dari penyakit IB, masih dapat menularkan penyakitnya, apabila ayam tersebut dicampur dengan ayam yang sehat.
c. Melalui pakan yang tercemar oleh virus IB.
d. Melalui kandang bekas ayam yang sakit. Oleh sebab itu, penggunaan kandang selanjutnya jangan terburu-buru, harus dilakukan sanitasi terlebih dulu.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
Ayam.
4. Gejala Klinis
a. Pada anak ayam, yaitu sebagai berikut.
1) Terdengar bunyi napas yang mencicit dan bersin-bersin pada malam hari.
2) Ke luar cairan dari hidung
3) Mata berair dan terjadi pembengkakan pada sudut-sudut mata.
4) Sesak napas.
5) Tingkat kematian tinggi, mencapai 50%.
b. Pada ayam dewasa, yaitu sebagai berikut.
1) Terjadi gangguan pernapasan.
2) Produksi telur menurun.
3) Kualitas telur menurun, seperti bentuk abnormal, kerabang lunak, berkerut, poreus, berbintik-bintik kapur, dan warnanya bening. Selain itu, putih telur encer dan berair, bila disimpan cepat rusak.
4) Tingkat kematian tidak berarti (hampir tidak ada).
5. Tanda-tanda Sesudah mati
6. Pencegahan
a. Melakukan tata cara pemeliharaan yang baik.
b. Melakukan vaksinasi IB secara benar.
7. Pengobatan
Belum ada obatnya. Pengobatan dilakukan hanya untuk mencegah kerusakan dan kematian yang disebabkan oleh infeksi sekunder.
Penyakit AI (Avian Influenza)/Flu Burung
Penyakit AI (Avian Influenza)
Penyakit AI (Avian Influenza) disebut juga penyakit flu burung. Istilah Avian Influenza lazim digunakan untuk penyakit pada unggas, sedangkan flu burung di Indonesia digunakan untuk penyakit pada manusia. Penyakit AI (Avian Influenza) merupakan penyakit pernapasan yang menular, tetapi tidak bersifat menurun. Ternak yang sembuh dari penyakit ini tidak sebagai pembawa sifat. Saat ini, penyakit Avian Influenza menjadi momok yang menakutkan bagi peternak dan masyarakat. Alasannya, selain dapat membunuh unggas (ayam), juga menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian.
1. Penyebab
Virus Influenza A (orthomyxo virus) memiliki 15 antigen H dan 9 antigen N (135 subtipe). Berdasarkan keganasannya, virus ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
a. Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).
b. Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Wabah AI di Indonesia disebabkan oleh HPAI subtipe H5N1.
2. Penularan
Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, kotoran, peralatan, dan orang pembawa virus.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
c. Itik.
d. Angsa.
e. Unggas liar.
4. Gejala Klinis
a. Pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis).
b. Muka bengkak dan ke luar cairan dari hidung dan mulut.
c. Ke luar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut (hipersalivasi).
d. Depresi.
e. Kerabang telur lembek.
f. Ptekhi subcutan pada kaki.
g. Ptekhi subcutan dan pembengkakan pada telapak kaki.
h. Diare.
i. Tingkat kematian tinggi.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
a. Perdarahan subcutan di daerah dada, perut, dan kaki.
Gambar 2.9 Perdarahan subcutan di daerah dada, perut, dan kaki
b. Infeksi hati dan proventrikulus.
6. Pencegahan
a. Menerapkan biosecurity secara ketat, yaitu sebagai berikut.
1) Biosecurity konseptual dilakukan dengan cara memilih tempat usaha peternakan; breeder 3 km dari peternakan komersial, RPA, dan tempat penetasan serta tidak boleh dekat dengan jalan raya dan danau.
2) Biosecurity struktural dilakukan dengan cara menentukan tata letak (lay out) peternakan, instalasi kandang, air minum, pakan, dan perkantoran.
3) Biosecurity operasional dilakukan dengan cara menentukan prosedur rutin kegiatan sehari-hari, dekontaminasi, dan desinfeksi. Contohnya, penyemprotan dengan antiseptik atau larutan sabun terhadap kandang dan peralatan serta lingkungan kandang secara teratur (3-6) hari sekali.
b. Hal penting dalam biosecurity operasional, yaitu sebagai berikut.
1) Batasi kunjungan ke kandang.
2) Pakaian kandang khusus.
3) Desinfektan pencuci kaki di depan pintu kandang.
4) Untuk breeder: kewajiban mandi.
5) Desinfeksi setelah pengosongan kandang.
6) Kendaraan dan alat-alat kandang serta peralatan pengepakan (keranjang ayam dan rak telur) perlu didekontaminasi dengan desinfeksi.
c. Melakukan vaksinasi AI.
1) Pilihlah vaksin AI yang mengandung virus AI subtipe H5, sedapat mungkin homolog atau memiliki tingkat homologi terhadap virus AI lapangan > 80%.
2) Vaksin AI selalu inaktif (kill) dalam adjuvant, masih sering menimbulkan stres dan dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Oleh sebab itu, program vaksinasi seharusnya selesai sebelum masa produksi.
3) Titer antibodi yang dihasilkan setelah program vaksinasi hendaknya cukup tinggi (> 7 (log2), untuk menghindari AI subklinis.
7. Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif.
Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.
Penyakit AI (Avian Influenza) disebut juga penyakit flu burung. Istilah Avian Influenza lazim digunakan untuk penyakit pada unggas, sedangkan flu burung di Indonesia digunakan untuk penyakit pada manusia. Penyakit AI (Avian Influenza) merupakan penyakit pernapasan yang menular, tetapi tidak bersifat menurun. Ternak yang sembuh dari penyakit ini tidak sebagai pembawa sifat. Saat ini, penyakit Avian Influenza menjadi momok yang menakutkan bagi peternak dan masyarakat. Alasannya, selain dapat membunuh unggas (ayam), juga menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian.
1. Penyebab
Virus Influenza A (orthomyxo virus) memiliki 15 antigen H dan 9 antigen N (135 subtipe). Berdasarkan keganasannya, virus ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
a. Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).
b. Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Wabah AI di Indonesia disebabkan oleh HPAI subtipe H5N1.
2. Penularan
Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, kotoran, peralatan, dan orang pembawa virus.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
c. Itik.
d. Angsa.
e. Unggas liar.
4. Gejala Klinis
a. Pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis).
b. Muka bengkak dan ke luar cairan dari hidung dan mulut.
c. Ke luar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut (hipersalivasi).
d. Depresi.
e. Kerabang telur lembek.
f. Ptekhi subcutan pada kaki.
g. Ptekhi subcutan dan pembengkakan pada telapak kaki.
h. Diare.
i. Tingkat kematian tinggi.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
a. Perdarahan subcutan di daerah dada, perut, dan kaki.
Gambar 2.9 Perdarahan subcutan di daerah dada, perut, dan kaki
b. Infeksi hati dan proventrikulus.
6. Pencegahan
a. Menerapkan biosecurity secara ketat, yaitu sebagai berikut.
1) Biosecurity konseptual dilakukan dengan cara memilih tempat usaha peternakan; breeder 3 km dari peternakan komersial, RPA, dan tempat penetasan serta tidak boleh dekat dengan jalan raya dan danau.
2) Biosecurity struktural dilakukan dengan cara menentukan tata letak (lay out) peternakan, instalasi kandang, air minum, pakan, dan perkantoran.
3) Biosecurity operasional dilakukan dengan cara menentukan prosedur rutin kegiatan sehari-hari, dekontaminasi, dan desinfeksi. Contohnya, penyemprotan dengan antiseptik atau larutan sabun terhadap kandang dan peralatan serta lingkungan kandang secara teratur (3-6) hari sekali.
b. Hal penting dalam biosecurity operasional, yaitu sebagai berikut.
1) Batasi kunjungan ke kandang.
2) Pakaian kandang khusus.
3) Desinfektan pencuci kaki di depan pintu kandang.
4) Untuk breeder: kewajiban mandi.
5) Desinfeksi setelah pengosongan kandang.
6) Kendaraan dan alat-alat kandang serta peralatan pengepakan (keranjang ayam dan rak telur) perlu didekontaminasi dengan desinfeksi.
c. Melakukan vaksinasi AI.
1) Pilihlah vaksin AI yang mengandung virus AI subtipe H5, sedapat mungkin homolog atau memiliki tingkat homologi terhadap virus AI lapangan > 80%.
2) Vaksin AI selalu inaktif (kill) dalam adjuvant, masih sering menimbulkan stres dan dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Oleh sebab itu, program vaksinasi seharusnya selesai sebelum masa produksi.
3) Titer antibodi yang dihasilkan setelah program vaksinasi hendaknya cukup tinggi (> 7 (log2), untuk menghindari AI subklinis.
7. Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif.
Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) pada Ayam
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease)
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau dikenal dengan penyakit gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama bagian bursa fabricious dan thymus yang berfungsi membentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Kedua organ ayam ini merupakan benteng pertahanan penyakit.
Kerusakan parah yang ditimbulkan, yaitu tidak terbentuknya antibodi sesudah divaksinasi. Penyakit gumboro tidak menimbulkan kematian secara langsung, tetapi infeksi sekunder sesudahnya mengakibatkan banyak kematian. Penyakit ini umumnya menyerang ayam berumur muda, yaitu < 3 minggu (gumboro subklinik) dan berumur 4-8 minggu (gumboro klinik).
1. Penyebab
Virus IBD.
2. Penularan
Penyebaran penyakit ini dapat berlangsung sangat cepat melalui kontak langsung dengan tempat pakan, tempat minum, pakan, air minum, kotoran unggas, peralatan, pekerja kandang, dan orang (tamu) yang datang dan telah tercemar virus gumboro.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
4. Gejala Klinis
Gumboro subklinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a. Mengalami kerusakan sel bursa fabricious, sehingga tidak mampu lagi membentuk kekebalan tubuh dan akan mudah terinfeksi beberapa penyakit menular lain, misalnya marek, ND, dan IB.
b. Pertambahan bobot badan lebih rendah.
c. FCR (Feed Conversion Ratios) tinggi.
Gumboro klinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a. Ayam bergerombol seperti kedinginan.
b. Nafsu makan dan minum menurun.
c. Ayam lesu, mengantuk, dan bulu mengerut.
d. Badan gemetar dan sukar berdiri.
e. Bulunya kotor di sekitar anus.
f. Kotoran encer (diare berlendir),keputih-putihan.
g. Dehidrasi.
h. Suka mematuki di sekitar kloaka akibat peradangan bursa fabricious yang terletak di atas dubur.
i. Bila tidur paruh diletakkan di lantai.
5. Tanda-tanda Setelah Mati
Bursa fabricious membesar atau membengkak.
6. Pencegahan
a. Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan dengan baik.
b. Vaksinasi gumboro.
7. Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif. Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau dikenal dengan penyakit gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama bagian bursa fabricious dan thymus yang berfungsi membentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Kedua organ ayam ini merupakan benteng pertahanan penyakit.
Kerusakan parah yang ditimbulkan, yaitu tidak terbentuknya antibodi sesudah divaksinasi. Penyakit gumboro tidak menimbulkan kematian secara langsung, tetapi infeksi sekunder sesudahnya mengakibatkan banyak kematian. Penyakit ini umumnya menyerang ayam berumur muda, yaitu < 3 minggu (gumboro subklinik) dan berumur 4-8 minggu (gumboro klinik).
1. Penyebab
Virus IBD.
2. Penularan
Penyebaran penyakit ini dapat berlangsung sangat cepat melalui kontak langsung dengan tempat pakan, tempat minum, pakan, air minum, kotoran unggas, peralatan, pekerja kandang, dan orang (tamu) yang datang dan telah tercemar virus gumboro.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
4. Gejala Klinis
Gumboro subklinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a. Mengalami kerusakan sel bursa fabricious, sehingga tidak mampu lagi membentuk kekebalan tubuh dan akan mudah terinfeksi beberapa penyakit menular lain, misalnya marek, ND, dan IB.
b. Pertambahan bobot badan lebih rendah.
c. FCR (Feed Conversion Ratios) tinggi.
Gumboro klinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a. Ayam bergerombol seperti kedinginan.
b. Nafsu makan dan minum menurun.
c. Ayam lesu, mengantuk, dan bulu mengerut.
d. Badan gemetar dan sukar berdiri.
e. Bulunya kotor di sekitar anus.
f. Kotoran encer (diare berlendir),keputih-putihan.
g. Dehidrasi.
h. Suka mematuki di sekitar kloaka akibat peradangan bursa fabricious yang terletak di atas dubur.
i. Bila tidur paruh diletakkan di lantai.
5. Tanda-tanda Setelah Mati
Bursa fabricious membesar atau membengkak.
6. Pencegahan
a. Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan dengan baik.
b. Vaksinasi gumboro.
7. Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif. Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.
Penyakit ND (Newcastle Disease) pada Ayam
Penyakit ND (Newcastle Disease) atau penyakit tetelo (telo), pes, sampar, cekak, atau dalam bahasa jawa disebut pileren merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan menyerang ternak unggas semua usia. Penyakit ini berjangkit terutama pada musim peralihan, yaitu dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya. Penyakit ND muncul setelah ayam mengalami komplikasi dengan penyakit lain, seperti coryza (penyakit pernapasan). Apabila kondisi ayam lemah, ayam mudah terjangkit penyakit ND. Dalam beberapa hari saja, penyakit ini dapat menyebabkan semua ayam mati.
1. Penyebab
Virus ND (paramyxo virus).
Virus ND mempunyai tingkat keganasan yang bervariasi dari yang rendah (lentogenik), sedang (mesogenik) sampai yang sangat ganas (velogenik).
2. Penularan
Kontak langsung melalui pakan, minum, kotoran unggas, dan peralatan yang tercemar oleh virus ND. Periode inkubasi (masa penularan penyakit sampai dengan terlihat tanda-tanda sakit) berlangsung 3-6 hari.
3. Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a. Ayam.
b. Kalkun.
4. Gejala Klinis
Napsu makan berkurang disertai gejala lain, yaitu sebagai berikut.
a. Lesu (tidak aktif bergerak).
b. Gangguan pernapasan (sulit bernapas).
c. Batuk-batuk dan bersin.
d.. Ngorok.
e. Mata mengantuk.
f. Sayap terkulai ke bawah.
g. Jengger tampak biru kehitaman.
h. Tinja encer, hijau, dan kadang-kadang mengandung darah.
i. Syaraf terganggu ditandai dengan gerak yang tidak normal, jalan berputar-putar dan lehernya berputar, seperti terpelintir dengan kepala terangkat ke atas.
j. Kelumpuhan.
k. Tingkat kematian tinggi, yaitu dapat mencapai 100%.
5. Tanda-Tanda Sesudah Mati
a. Terlihat adanya bendungan-bendungan pembuluh darah (congesti).
b. Terlihat adanya perdarahan bercak-bercak (haemorrhagi ptechiae) pada proventriculus, usus buntu (caecum), saluran pernapasan, dan pencernaan.
c. Terlihat adanya radang usus yang mengeluarkan cairan radang (enteritis catarrhalis) apabila usus dibelah.
6. Pencegahan
Tata cara pemeliharaan yang baik, yaitu sebagai berikut.
a. Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungannya, baik sebelum, selama, maupun sesudah pemeliharaan.
b. Bibit ayam berasal dari breeder yang bebas penyakit ND.
c. Pemberian pakan dan air minum, baik dari kualitas maupun kuantitasnya harus baik.
d. Ayam yang sakit atau diduga sakit harus disingkirkan dengan cara disembelih dan dagingnya dapat diperjualbelikan, dengan syarat harus direbus atau dimasak terlebih dahulu.
e. Sisa-sisa pemotongan ayam yang sakit atau diduga sakit, harus dibakar atau dikubur..
f. Ayam yang terkena penyakit ND harus dibakar atau dikubur.
g. Melakukan vaksinasi ND secara teratur.
7. Pengobatan
Belum ada obatnya. Pemberian antibiotika tidak mempan terhadap virus ND, tetapi hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.
Subscribe to:
Posts (Atom)