Monday, 14 November 2016

Penyakit AI (Avian Influenza)/Flu Burung

Penyakit AI (Avian Influenza)
Penyakit AI (Avian Influenza) disebut juga penyakit flu burung. Istilah Avian Influenza lazim digunakan untuk penyakit pada unggas, sedangkan flu burung di Indonesia digunakan untuk penyakit pada manusia. Penyakit AI (Avian Influenza) merupakan penyakit pernapasan yang menular, tetapi tidak bersifat menurun. Ternak yang sembuh dari penyakit ini tidak sebagai pembawa sifat. Saat ini, penyakit Avian Influenza menjadi momok yang menakutkan bagi peternak dan masyarakat. Alasannya, selain dapat membunuh unggas (ayam), juga menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian.
1.    Penyebab
    Virus Influenza A (orthomyxo virus) memiliki 15 antigen H dan 9 antigen N (135 subtipe). Berdasarkan keganasannya, virus ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
a.    Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).
b.    Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Wabah AI di Indonesia disebabkan oleh HPAI subtipe H5N1.
2.    Penularan
    Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, kotoran, peralatan, dan orang pembawa virus.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
c.    Itik.
d.    Angsa.
e.    Unggas liar.
4.    Gejala Klinis
a.    Pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis).
















b.    Muka bengkak dan ke luar cairan dari hidung dan mulut.














c.    Ke luar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut (hipersalivasi).
d.    Depresi.
e.    Kerabang telur lembek.
f.    Ptekhi subcutan pada kaki.












g.    Ptekhi subcutan dan pembengkakan pada telapak kaki.












h.    Diare.







i.    Tingkat kematian tinggi.


















5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki.
    
    





    





















Gambar 2.9 Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki



b.    Infeksi hati dan proventrikulus.











6.    Pencegahan
a.    Menerapkan biosecurity secara ketat, yaitu sebagai berikut.
 1)    Biosecurity konseptual dilakukan dengan cara memilih tempat usaha peternakan; breeder 3 km dari peternakan komersial, RPA, dan tempat penetasan serta tidak boleh dekat dengan jalan raya dan danau.
 2)    Biosecurity struktural dilakukan dengan cara menentukan tata letak (lay out) peternakan, instalasi kandang, air minum, pakan, dan perkantoran.
 3)    Biosecurity operasional dilakukan dengan cara menentukan prosedur rutin kegiatan sehari-hari, dekontaminasi, dan desinfeksi. Contohnya, penyemprotan dengan antiseptik atau larutan sabun terhadap kandang dan peralatan serta lingkungan kandang secara teratur (3-6) hari sekali.

b.    Hal penting dalam biosecurity operasional, yaitu sebagai berikut.
1)    Batasi kunjungan ke kandang.
2)    Pakaian kandang khusus.
3)    Desinfektan pencuci kaki di depan pintu kandang.
4)    Untuk breeder:  kewajiban mandi.
5)    Desinfeksi setelah pengosongan kandang.
6)    Kendaraan dan alat-alat kandang serta peralatan pengepakan (keranjang ayam dan rak telur) perlu didekontaminasi dengan desinfeksi.

c.    Melakukan vaksinasi AI.
1)    Pilihlah vaksin AI yang mengandung virus AI subtipe H5, sedapat mungkin homolog atau memiliki tingkat homologi terhadap virus AI lapangan > 80%.
 2)    Vaksin AI selalu inaktif (kill) dalam adjuvant, masih sering menimbulkan stres dan dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Oleh sebab itu, program vaksinasi seharusnya selesai sebelum masa produksi.
 3)    Titer antibodi yang dihasilkan setelah program vaksinasi hendaknya cukup tinggi (> 7 (log2), untuk menghindari AI subklinis.
7.    Pengobatan
    Belum ada pengobatan yang efektif.
    Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) pada Ayam

Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease)
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau dikenal dengan penyakit gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama bagian bursa fabricious dan thymus yang berfungsi membentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Kedua organ ayam ini merupakan benteng pertahanan penyakit.
Kerusakan parah yang ditimbulkan, yaitu tidak terbentuknya antibodi sesudah divaksinasi. Penyakit gumboro tidak menimbulkan kematian secara langsung, tetapi infeksi sekunder sesudahnya mengakibatkan banyak kematian. Penyakit ini umumnya menyerang ayam berumur muda, yaitu < 3 minggu (gumboro subklinik) dan berumur 4-8 minggu (gumboro klinik).
1.    Penyebab
    Virus IBD.
2.    Penularan
    Penyebaran penyakit ini dapat berlangsung sangat cepat melalui kontak langsung dengan tempat pakan, tempat minum, pakan, air minum, kotoran unggas, peralatan, pekerja kandang, dan orang (tamu) yang datang dan telah tercemar virus gumboro. 
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis
Gumboro subklinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a.    Mengalami kerusakan sel bursa fabricious, sehingga tidak mampu lagi membentuk kekebalan tubuh dan akan mudah terinfeksi beberapa penyakit menular lain, misalnya marek, ND, dan IB.
b.    Pertambahan bobot badan lebih rendah.
c.    FCR (Feed Conversion Ratios) tinggi.

Gumboro klinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a.    Ayam bergerombol seperti kedinginan.
b.    Nafsu makan dan minum menurun.
c.    Ayam lesu, mengantuk, dan bulu mengerut.
d.    Badan gemetar dan sukar berdiri.
e.    Bulunya kotor di sekitar anus.
f.    Kotoran  encer (diare berlendir),keputih-putihan.
g.    Dehidrasi.
h.    Suka mematuki di sekitar kloaka akibat peradangan bursa fabricious yang terletak di atas dubur.

i.    Bila  tidur paruh diletakkan di lantai. 
5.    Tanda-tanda Setelah Mati
Bursa fabricious membesar atau membengkak.
6.    Pencegahan
a.    Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan dengan baik.
b.    Vaksinasi gumboro.
7.    Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif. Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Penyakit ND (Newcastle Disease) pada Ayam


Penyakit ND (Newcastle Disease) atau penyakit tetelo (telo), pes, sampar, cekak, atau dalam bahasa jawa disebut pileren merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan menyerang ternak unggas semua usia. Penyakit ini berjangkit terutama pada musim peralihan,  yaitu dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya. Penyakit ND muncul setelah ayam mengalami komplikasi dengan penyakit lain, seperti coryza (penyakit pernapasan). Apabila kondisi ayam lemah,  ayam mudah terjangkit penyakit ND. Dalam beberapa hari saja, penyakit ini dapat menyebabkan semua ayam mati. 
1.    Penyebab
    Virus ND (paramyxo virus).
    Virus ND mempunyai tingkat keganasan yang bervariasi dari yang rendah (lentogenik), sedang (mesogenik) sampai yang sangat ganas (velogenik).
2.    Penularan
    Kontak langsung melalui pakan, minum, kotoran unggas, dan peralatan yang tercemar oleh virus ND. Periode inkubasi (masa penularan penyakit sampai dengan terlihat tanda-tanda sakit) berlangsung 3-6 hari. 
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis
    Napsu makan berkurang disertai gejala lain, yaitu sebagai berikut.
a.    Lesu (tidak aktif bergerak).
b.    Gangguan pernapasan (sulit bernapas).
c.    Batuk-batuk dan bersin.
d..    Ngorok.
e.    Mata mengantuk.
f.    Sayap terkulai ke bawah.
g.    Jengger tampak biru kehitaman.
h.    Tinja encer, hijau, dan kadang-kadang mengandung darah.
i.    Syaraf terganggu ditandai dengan gerak yang tidak normal, jalan berputar-putar dan lehernya berputar, seperti terpelintir dengan kepala terangkat ke atas.
j.    Kelumpuhan.
k.    Tingkat kematian tinggi, yaitu dapat mencapai 100%.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Terlihat adanya bendungan-bendungan pembuluh darah (congesti).
b.    Terlihat adanya perdarahan bercak-bercak (haemorrhagi ptechiae) pada proventriculus, usus buntu (caecum), saluran pernapasan, dan pencernaan.
c.    Terlihat adanya radang usus yang mengeluarkan cairan radang (enteritis catarrhalis) apabila usus dibelah.
6.    Pencegahan             
Tata cara pemeliharaan yang baik, yaitu sebagai berikut.
a.    Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungannya, baik sebelum, selama, maupun sesudah pemeliharaan.
b.    Bibit ayam berasal dari breeder yang bebas penyakit ND.
c.    Pemberian pakan dan air minum, baik dari kualitas maupun kuantitasnya harus baik.
d.    Ayam yang sakit atau diduga sakit harus disingkirkan dengan cara disembelih dan dagingnya dapat diperjualbelikan, dengan syarat harus direbus atau dimasak terlebih dahulu.
e.    Sisa-sisa pemotongan ayam yang sakit atau diduga sakit, harus dibakar atau dikubur..   
f.    Ayam yang terkena penyakit ND harus dibakar atau dikubur.
g.    Melakukan vaksinasi ND secara teratur.
7.    Pengobatan
    Belum ada obatnya. Pemberian antibiotika tidak mempan terhadap virus ND, tetapi hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Thursday, 22 September 2016

CARA MENGUNDANG BURUNG WALET

Mengundang Walet
Apabila kandang walet sudah dipersiapkan dan kita menginginkan agar burung walet yang beterbangan mau untuk masuk ke dalam kandang yang kita persiapkan, bagaimana caranya?
Ada beberapa cara untuk mengundang walet agar mau memasuki kandang yang kita persiapkan. Tetapi sebelum kita mengundang walet, kandang harus benar-benar sudah siap. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan kandang, di antaranya suhu, kelembapan, kondisi cahaya, dan aroma gedung.
Adapun, cara-cara untuk mengundang walet adalah sebagai berikut.
1.    Mengundang Secara Pasif
Mengundang walet secara pasif, yaitu dengan cara membiarkan kandang atau gedung begitu saja dengan harapan dapat didatangi walet. Cara ini pada umumnya kurang menguntungkan karena untuk dapat mengundang walet masuk ke gedung itu banyak membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada cara ini pemilik atau pengelola walet bersikap pasif, hanya menunggu walet datang.
2.    Mengundang Secara Semiaktif
Mengundang walet secara semiaktif yaitu si pemilik atau pengelola sudah sedikit banyak lebih aktif dibanding dengan cara semiaktif.
Mengundang secara semiaktif dapat dilakukan dengan cara berikut.
a.    Menyediakan pakan untuk walet. Cara ini dilakukan dengan melepaskan pakan-pakan walet (serangga) di dalam ruangan atau di dekat  kandang. Maksud melepaskan serangga-serangga dalam ruangan gedung adalah diharapkan walet yang melihat akan tertarik mendekat atau mungkin tertarik untuk menghuni gedung. Selain melepaskan serangga-serangga dalam gedung, dapat juga dilakukan dengan mengundang serangga-serangga mendekati gedung. Untuk itu, usahakan ruangan gedung dibuat aroma busuk dengan cara menebarkan bahan-bahan makanan seperti buah-buahan, singkong, jerami dan lain-lain hingga membusuk di lantai. Hal ini akan mengundang serangga untuk mendatanginya. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai walet tertarik dan mau menghuni gedung tersebut.
b.    Mengundang walet dengan cara menggunakan tape recorder.
    Cara pemanggilan ini dilakukan dengan menyiapkan tape recorder yang dilengkapi dengan pengeras suara dan kaset yang berisi suara walet. Waktu penyetelan recorder sebaiknya dilakukan sektar jam-jam walet biasa masuk ke dalam kandangnya. Waktu yang ideal adalah sekitar jam 16.00 - 18.00 sore. Dengan mendengar suara-suara walet maka walet akan tertarik dan menghampiri datangnya suara tersebut. Apabila gedung atau kandang walet sesuai maka walet-walet tersebut akan menetap di gedung tersebut.
3.    Mengundang Secara Aktif
Cara ini adalah yang terbaik dan disarankan. Mengundang walet secara aktif maksudnya si pengelola menetaskan telur walet dan melatih anak walet agar terbiasa hidup di dalam gedung waletnya.

SYARAT GEDUNG UNTUK SARANG WALET


Yang utama perlu diperhatikan dalam membuat kandang walet adalah suhu dan kelembapan ruangan kandangnya. Buat kondisi atau suasana ruangan seperti dalam gua-gua, yaitu dingin dan lembap. Suhu yang diinginkan walet adalah antara 24 - 26 derajat celcius dengan kelembapan 80 - 95 persen. Kondisi tersebut sama dengan kondisi di gua-gua (habitat asli walet). Untuk itu maka konstruksi kandang harus sesuai. Akan lebih baik apabila dalam ruangan kandang dilengkapi dengan alat untuk mengatur kelembapan yang disebut "hygrometer". Agar kondisi ruangan tetap stabil sesuai dengan keinginan walet maka ada beberapa usaha yang perlu dilakukan, misalnya membuat saluran-saluran air atau bak air atau tempayan tempat-tempat penampungan air di dalam ruangan gedung tersebut.
a.    Suhu
Agar suhu ruangan tidak mengalami fluktuasi yang sangat berbeda maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.
1)    Bahan atap dapat memakai genting (jangan menggunakan atap seng atau asbes).
2)    Dinding bagian dalam ruangan dapat dikapur (bukan dicat).
3)    Di atas plafon dilapisi dengan jerami yang cukup tebal, yaitu sekitar 20 sampai 50 cm (fungsinya agar suhu luar kandang tidak mempengaruhi suhu plafon dan ruangan kandang. Demikian juga suara-suara bising tidak terdengar (teredam atau tidak mengganggu walet). Walet sangat sensitif terhadap benda-benda asing. Oleh sebab itu, agar jerami tidak jatuh ke bawah atau ke sarang maka sebelum diberi lapisan jerami, di atas plafon dilapisi dengan kain kasa yang sangat lembut, sehingga sekam tidak akan jatuh ke bawah.
b.    Kelembaban
Ada beberapa cara agar kelembapan dalam ruangan dalam keadaan optimal, di antaranya sebagai berikut.
1)    Dalam ruangan disediakan tempayan yang diisi air. Tempayan tersebut sebaiknya dibuat dari tanah liat. Akan lebih baik lagi kalau tempayan tersebut kondisinya sudah tua atau lumutan.
2)    Selain tempayan, dapat juga disediakan kolam yang berisi air. Baik tempayan maupun kolam, jangan biarkan air mengering atau berkurang. Kontrol apabila air kurang maka tambahkan air.
3)    Pada tembok dipasang pipa yang dialiri air sehingga dinding gedung akan selalu basah.
c.    Perlengkapan Gedung
1)    Kotak-kotak kecil yang dipasang di eternit
    Pada eternit/plafon gedung dilengkapi dengan kotak-kotak kecil. Kotak-kotak kecil ini berfungsi sebagai melekatnya sarang, sehingga walet akan bersarang lebih merata. Untuk menjaga agar kelembapannya terjaga 80 - 95%, maka ada baiknya pada dinding bagian atas dilengkapi dengan pralon pipa kecil, yang berfungsi untuk mengaliri air agar dinding gedung mudah disiram dengan air pada siang hari atau saat-saat diperlukan.
2)    Hygrotermometer
    Hygrotermometer adalah alat untuk mengukur temperatur (termometer) dan kelembapan udara (hygrometer). Alat ini penting, agar kita mudah mengontrol suhu dan kelembapan dalam ruangan kandang. Letakkan hygrotermometer di dekat lubang tempat ke luar masuknya walet.
3)    Tanaman pengundang serangga. Agar makanan walet tercukupi, maka sebaiknya di sekitar gedung ditanami tanaman yang dapat mengundang serangga seperti tanaman sebangsa petai-petaian akasia, lamtoro, sengon dan lain-lain. Atau dapat juga ditanami kangkung, teratai, genjer dan lain-lain, pada daerah-daerah yang berair di sekitar lingkungan gedung.
4)    Alat penangkap serangga. Alat ini berupa alat penyedot serangga.
5)    Alat untuk mengontrol keadaan sarang. Alat ini berupa tiang panjang yang ujungnya dilengkapi dengan cermin, sehingga si pengontrol sarang tidak perlu naik turun tangga untuk melihat sarang ataupun telur walet. Cukup dengan menggunakan alat tersebut.
6)    Pagar keliling gedung (kandang). Pagar tembok ni dimaksudkan untuk menjaga sarang walet dari pencurian dan hama. Di luar pagar, buatlah parit yang terisi air yang mengalir.

       














JENIS-JENIS BURUNG WALET

Burung walet (Collocalia) termasuk dalam ordo Apodiformes, Famili apodidae, Genus collocalia dan beberapa spesies. Di Indonesia, spesies-spesies yang ada seperti Collocalia fuciphagus (walet putih), Collocalia gigas (walet besar), Collocalia maxima (walet sarang hitam), Collocalia brevirostris (walet gunung), Collocalia vanikorensis (walet sarang lumut) dan Collocalia esculenta (walet sapi ). Pada umumnya spesies tersebut dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, warna bulu, dan bahan yang dipakai untuk membuat sarang.
Burung walet mempunyai ciri-ciri khusus seperti kakinya lemah, tidak dapat bertengger tetapi mempunyai kemampuan terbang yang cukup tinggi dan lama. Dia mampu terbang sepanjang hari.
Sarang burung walet ada yang dapat dimakan seperti walet putih dan walet hitam, sedangkan walet yang tidak dapat dimakan seperti walet gunung, walet besar, walet sapi dan walet sarang lumut.
A.    Walet putih (Collocalia fuciphagus)
Mengapa disebut walet putih? Walet putih bukan berarti bulu yang menutupi tubuhnya berwarna putih, tetapi sarang yang dihasilkannya berwarna putih. Sebenarnya bulunya berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu bagian bawah keabuan atau kecokelatan, sehingga ada juga yang memberi nama walet cokelat. Ciri lain yang ada pada walet putih adalah warna mata cokelat gelap, paruh dan kaki berwarna hitam.
Sarang walet putih seluruhnya terbuat dari air liurnya sehingga harganya sangat mahal. Bentuk sarang memanjang dan enak dimakan, sehingga lebih dikenal dengan julukan sarang walet yang bisa dimakan atau “edible-nest swiflet”.
Telur walet berwarna putih, agak lonjong dan sekali bertelur biasanya hanya 2 butir. Besarnya telur hampir sama dengan telur burung pipit. Telurnya akan menetas setelah dierami selama 28 hari. Walet putih bertelur secara musiman. Dalam satu tahun, walet akan bertelur sebanyak 3 kali.
Walet putih mempunyai ukuran badan sekitar 12 cm, suka terbang tinggi dan jenis makanan yang dimakan adalah serangga. Walet sarang putih tidak suka terbang atau berputar-putar di tempat yang rendah. Dia mempunyai suara yang nyaring atau melengking tinggi.
Walet putih mempunyai kelebihan dan lebih suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi. Walet putih juga lebih mudah dirumahkan  daripada jenis walet lainnya. Walet putih ini di Indonesia banyak terdapat di pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bali.
B.    Walet sarang hitam (Collocalia maxima atau Collocalia maximus)
Walet sarang hitam ini mempunyai sarang yang disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat sarangnya bercampur dengan bulu-bulunya yang berwarna hitam. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor cokelat kelabu. Nama walet sarang hitam mengacu pada internasional, yaitu “black-nest swiftlet”. Walaupun pada namanya terdapat kata “maxima” bukan berarti walet ini ukurannya besar. Ukuran tubuhnya dapat dikelompokkan dalam kategori walet ukuran sedang dan penampilannya hampir sama dengan walet putih, yaitu sekitar 12 cm. Paruh dan kakinya semua berwarna hitam tetapi matanya berwarna cokelat tua dan telurnya tetap berwarna putih. Untuk mudah mengenali atau membedakan antara walet sarang putih dengan jenis walet sarang hitam adalah pada suaranya. Walet hitam tidak bersuara melengking tinggi seperti walet sarang putih, tetapi suaranya rendah dengan suara seperi mencicit.
Sarang walet ini dapat dimakan setelah bulu-bulu yang terdapat di sarangnya disisihkan atau dibuang. Hal ini yang menyebabkan kualitas sarangnya dianggap rendah dan harganya tidak setinggi pada walet sarang putih.
Seperti juga jenis-jenis walet pada umumnya, walet hitam suka memakan serangga-serangga kecil. Di Indonesia, jenis walet sarang hitam ini banyak dijumpai di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
C.    Walet besar (Collocalia gigas)
Mengapa disebut walet besar, karena mempunyai ukuran badan yang cukup besar dan termasuk walet yang paling besar dibandingkan dengan jenis-jenis walet lainnya. Ukuran panjang tubuhnya sekitar 16 cm. Warna bulu dari walet besar adalah hitam dengan bulu bagian bawah berwarna cokelat gelap. Jumlah telur biasanya satu dan berwarna putih dengan bentuk agak lonjong.
Walet besar mempunyai sarang yang tidak dapat dimakan. Bentuk sarangnya seperti mangkok. Sarangnya terbuat tidak hanya dari air liurnya saja seperti sarang putih, tetapi sudah merupakan campuran dari akar-akar, lumut, dan serat-serat.
Walet besar banyak terdapat di Indonesia seperti di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Dia suka bersarang di lubang-lubang batu (gua kecil) atau pada celah-celah batu dekat air terjun.
D.    Walet Gunung (Collocalia brevirostris)
Disebut walet gunung karena walet tersebut suka terbang berkelompok dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung. Walet gunung mempunya i bulu berwarna hitam dengan bulu ekor agak keabu-abuan dengan ukuran tubuh yang agak besar, yaitu sekitar 14 cm. Walet gunung banyak terdapat di Indonesia, khususnya Sumatra dan Jawa Barat.
E.    Walet Sarang Lumut                     (Collocalia vanikorensis)     
Jenis walet ini sulit ditemui manusia karena dia suka membuat sarang di tempat-tempat yang sangat sulit ditemui manusia, yaitu di bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sulit untuk dicapai manusia. Mengapa disebut walet sarang lumut? Ternyata walet ini dalam membuat sarangnya sebagian terdiri dari lumut. Sarangnya bagus, bentuk sarangnya agak bundar dan permukaannya halus. Walet sarang lumut mempunyai ukuran tubuh dengan panjang sekitar 12 cm, bulu berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan warna ekor yang lebih gelap. Walet sarang lumut ini di Indonesia banyak dijumpai di daerah Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
F.    Walet Sapi (Collocalia esculenta)
Walet sapi mempunyai ukuran tubuh yang paling kecil di antara jenis-jenis walet lainnya, yaitu sekitar 10 cm. Mempunyai bulu yang mengilat dengan warna bulu hitam kebiru-biruan. Walet ini mempunyai sifat tidak dapat terbang tinggi sehingga biasanya mereka hanya terbang atau berputar-putar di atas tanah atau sungai. Dia suka mencari makan pada pohon-pohon yang banyak serangganya terutama lebah.

JENIS BURUNG PERKUTUT

Jenis Perkutut

Di dunia ini, ada tiga jenis perkutut, yaitu perkutut belang, perkutut besar, dan perkutut tutul. Dua jenis di antaranya terdapat di Indonesia.

1.     Perkutut Belang (Geopelia Striata)
Ada 7 jenis perkutut belang, 5 di antaranya terdapat di Indonesia. Ke-7 jenis perkutut itu adalah sebagai berikut.
a.     Perkutut asli atau nama Latinnya Geopelia Striata-Striata. Di Indonesia, perkutut jenis ini banyak dijumpai di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Perkutut jenis ini pernah di introduksikan di Hawai dan Madagaskar. Burung ini juga meluas dari Thailand Selatan sampai ke Philiphina.
    Ciri-cirinya: bulu bagian tubuh depan tidak terdapat garis-garis melintang, sedangkan bulu dada berwarna cokelat muda. Semakin ke bawah, berwarna putih kekuningan.
b.     Perkutut Sumba dengan nama Latinnya Geopelia Striata Mungeus. Perkutut Sumba banyak terdapat di Pulau Sumba, Sumbawa, dan Timor. Ciri-cirinya: bulu dada bagian bawah terdapat warna putih kekuningan (krem) semakin ke bawah akan berwarna semakin putih kekuningan.
c.     Perkutut Irian atau dengan nama Latinnya Geopelia Striata Papua. Perkutut Irian ini banyak terdapat di Pulau Irian bagian Selatan. Ciri-cirinya: bulu dada atas bergaris-garis hitam secara melintang. Bulu lainnya berwarna jingga keabu-abuan dengan garis tengah cinnamon yang memanjang. Semakin ke bawah, semakin berubah menjadi krem. Bulu tubuh bagian depan berwarna gelap.
d.     Geopelia Striata Audacis. Burung jenis ini banyak terdapat di Kepulauan Kei dan Tanimbar. Ciri-cirinya: warna bulu putih kekuningan yang memanjang dari arah depan tubuh sampai ke bawah.
e.     Geopelia Striata Placida. Burung jenis ini banyak terdapat di Pulau Irian dan Benua Australia bagian Utara. Ciri-cirinya: bulu dada atas bergaris-garis hitam melintang. Bulu lainnya berwarna jingga keabu-abuan dengan garis tengah cinnamon yang memanjang. Semakin ke bawah semakin berubah menjadi krem.
f.     Geopelia Striata Traquila. Burung jenis ini tidak terdapat di Indonesia dan hanya ada di Australia Tengah.
g.     Geopelia Striata Clelaudi. Burung jenis ini hanya terdapat di Australia Barat.

2.    Perkutut Besar
Jenis perkutut besar di seluruh dunia dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perkutut besar Australia dan perkutut besar Irian atau Geopelia Humeralis Humeralis dan Geopelia Striata Gregalis.
Ciri-ciri perkutut besar adalah tubuhnya besar, sekitar 27 cm dengan warna bulu sebagai berikut.
a.    Bulu dasar cokelat.
b.    Bulu pada bagian punggung berwarna garis-garis kelam pekat.
c.    Bulu bagian pundak berwarna merah tembaga.
d.    Bulu bagian bawah tubuh berwarna merah jambu sampai putih.
e.    Bulu penutup sayap bergaris–garis cokelat.

3.    Perkutut Tutul
Di Indonesia, perkutut tutul sering diperjualbelikan di pasar burung dengan sebutan perkutut Australia karena perkutut jenis tutul ini hanya ada di Australia, terutama Australia Utara dan Tengah. Perkutut tutul mempunyai bulu berwarna cokelat keabu-abuan dengan bulu penutup sayap bercorak totol-totol putih berserakan.