Thursday, 22 September 2016

CARA MENGUNDANG BURUNG WALET

Mengundang Walet
Apabila kandang walet sudah dipersiapkan dan kita menginginkan agar burung walet yang beterbangan mau untuk masuk ke dalam kandang yang kita persiapkan, bagaimana caranya?
Ada beberapa cara untuk mengundang walet agar mau memasuki kandang yang kita persiapkan. Tetapi sebelum kita mengundang walet, kandang harus benar-benar sudah siap. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan kandang, di antaranya suhu, kelembapan, kondisi cahaya, dan aroma gedung.
Adapun, cara-cara untuk mengundang walet adalah sebagai berikut.
1.    Mengundang Secara Pasif
Mengundang walet secara pasif, yaitu dengan cara membiarkan kandang atau gedung begitu saja dengan harapan dapat didatangi walet. Cara ini pada umumnya kurang menguntungkan karena untuk dapat mengundang walet masuk ke gedung itu banyak membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada cara ini pemilik atau pengelola walet bersikap pasif, hanya menunggu walet datang.
2.    Mengundang Secara Semiaktif
Mengundang walet secara semiaktif yaitu si pemilik atau pengelola sudah sedikit banyak lebih aktif dibanding dengan cara semiaktif.
Mengundang secara semiaktif dapat dilakukan dengan cara berikut.
a.    Menyediakan pakan untuk walet. Cara ini dilakukan dengan melepaskan pakan-pakan walet (serangga) di dalam ruangan atau di dekat  kandang. Maksud melepaskan serangga-serangga dalam ruangan gedung adalah diharapkan walet yang melihat akan tertarik mendekat atau mungkin tertarik untuk menghuni gedung. Selain melepaskan serangga-serangga dalam gedung, dapat juga dilakukan dengan mengundang serangga-serangga mendekati gedung. Untuk itu, usahakan ruangan gedung dibuat aroma busuk dengan cara menebarkan bahan-bahan makanan seperti buah-buahan, singkong, jerami dan lain-lain hingga membusuk di lantai. Hal ini akan mengundang serangga untuk mendatanginya. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai walet tertarik dan mau menghuni gedung tersebut.
b.    Mengundang walet dengan cara menggunakan tape recorder.
    Cara pemanggilan ini dilakukan dengan menyiapkan tape recorder yang dilengkapi dengan pengeras suara dan kaset yang berisi suara walet. Waktu penyetelan recorder sebaiknya dilakukan sektar jam-jam walet biasa masuk ke dalam kandangnya. Waktu yang ideal adalah sekitar jam 16.00 - 18.00 sore. Dengan mendengar suara-suara walet maka walet akan tertarik dan menghampiri datangnya suara tersebut. Apabila gedung atau kandang walet sesuai maka walet-walet tersebut akan menetap di gedung tersebut.
3.    Mengundang Secara Aktif
Cara ini adalah yang terbaik dan disarankan. Mengundang walet secara aktif maksudnya si pengelola menetaskan telur walet dan melatih anak walet agar terbiasa hidup di dalam gedung waletnya.

SYARAT GEDUNG UNTUK SARANG WALET


Yang utama perlu diperhatikan dalam membuat kandang walet adalah suhu dan kelembapan ruangan kandangnya. Buat kondisi atau suasana ruangan seperti dalam gua-gua, yaitu dingin dan lembap. Suhu yang diinginkan walet adalah antara 24 - 26 derajat celcius dengan kelembapan 80 - 95 persen. Kondisi tersebut sama dengan kondisi di gua-gua (habitat asli walet). Untuk itu maka konstruksi kandang harus sesuai. Akan lebih baik apabila dalam ruangan kandang dilengkapi dengan alat untuk mengatur kelembapan yang disebut "hygrometer". Agar kondisi ruangan tetap stabil sesuai dengan keinginan walet maka ada beberapa usaha yang perlu dilakukan, misalnya membuat saluran-saluran air atau bak air atau tempayan tempat-tempat penampungan air di dalam ruangan gedung tersebut.
a.    Suhu
Agar suhu ruangan tidak mengalami fluktuasi yang sangat berbeda maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.
1)    Bahan atap dapat memakai genting (jangan menggunakan atap seng atau asbes).
2)    Dinding bagian dalam ruangan dapat dikapur (bukan dicat).
3)    Di atas plafon dilapisi dengan jerami yang cukup tebal, yaitu sekitar 20 sampai 50 cm (fungsinya agar suhu luar kandang tidak mempengaruhi suhu plafon dan ruangan kandang. Demikian juga suara-suara bising tidak terdengar (teredam atau tidak mengganggu walet). Walet sangat sensitif terhadap benda-benda asing. Oleh sebab itu, agar jerami tidak jatuh ke bawah atau ke sarang maka sebelum diberi lapisan jerami, di atas plafon dilapisi dengan kain kasa yang sangat lembut, sehingga sekam tidak akan jatuh ke bawah.
b.    Kelembaban
Ada beberapa cara agar kelembapan dalam ruangan dalam keadaan optimal, di antaranya sebagai berikut.
1)    Dalam ruangan disediakan tempayan yang diisi air. Tempayan tersebut sebaiknya dibuat dari tanah liat. Akan lebih baik lagi kalau tempayan tersebut kondisinya sudah tua atau lumutan.
2)    Selain tempayan, dapat juga disediakan kolam yang berisi air. Baik tempayan maupun kolam, jangan biarkan air mengering atau berkurang. Kontrol apabila air kurang maka tambahkan air.
3)    Pada tembok dipasang pipa yang dialiri air sehingga dinding gedung akan selalu basah.
c.    Perlengkapan Gedung
1)    Kotak-kotak kecil yang dipasang di eternit
    Pada eternit/plafon gedung dilengkapi dengan kotak-kotak kecil. Kotak-kotak kecil ini berfungsi sebagai melekatnya sarang, sehingga walet akan bersarang lebih merata. Untuk menjaga agar kelembapannya terjaga 80 - 95%, maka ada baiknya pada dinding bagian atas dilengkapi dengan pralon pipa kecil, yang berfungsi untuk mengaliri air agar dinding gedung mudah disiram dengan air pada siang hari atau saat-saat diperlukan.
2)    Hygrotermometer
    Hygrotermometer adalah alat untuk mengukur temperatur (termometer) dan kelembapan udara (hygrometer). Alat ini penting, agar kita mudah mengontrol suhu dan kelembapan dalam ruangan kandang. Letakkan hygrotermometer di dekat lubang tempat ke luar masuknya walet.
3)    Tanaman pengundang serangga. Agar makanan walet tercukupi, maka sebaiknya di sekitar gedung ditanami tanaman yang dapat mengundang serangga seperti tanaman sebangsa petai-petaian akasia, lamtoro, sengon dan lain-lain. Atau dapat juga ditanami kangkung, teratai, genjer dan lain-lain, pada daerah-daerah yang berair di sekitar lingkungan gedung.
4)    Alat penangkap serangga. Alat ini berupa alat penyedot serangga.
5)    Alat untuk mengontrol keadaan sarang. Alat ini berupa tiang panjang yang ujungnya dilengkapi dengan cermin, sehingga si pengontrol sarang tidak perlu naik turun tangga untuk melihat sarang ataupun telur walet. Cukup dengan menggunakan alat tersebut.
6)    Pagar keliling gedung (kandang). Pagar tembok ni dimaksudkan untuk menjaga sarang walet dari pencurian dan hama. Di luar pagar, buatlah parit yang terisi air yang mengalir.

       














JENIS-JENIS BURUNG WALET

Burung walet (Collocalia) termasuk dalam ordo Apodiformes, Famili apodidae, Genus collocalia dan beberapa spesies. Di Indonesia, spesies-spesies yang ada seperti Collocalia fuciphagus (walet putih), Collocalia gigas (walet besar), Collocalia maxima (walet sarang hitam), Collocalia brevirostris (walet gunung), Collocalia vanikorensis (walet sarang lumut) dan Collocalia esculenta (walet sapi ). Pada umumnya spesies tersebut dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, warna bulu, dan bahan yang dipakai untuk membuat sarang.
Burung walet mempunyai ciri-ciri khusus seperti kakinya lemah, tidak dapat bertengger tetapi mempunyai kemampuan terbang yang cukup tinggi dan lama. Dia mampu terbang sepanjang hari.
Sarang burung walet ada yang dapat dimakan seperti walet putih dan walet hitam, sedangkan walet yang tidak dapat dimakan seperti walet gunung, walet besar, walet sapi dan walet sarang lumut.
A.    Walet putih (Collocalia fuciphagus)
Mengapa disebut walet putih? Walet putih bukan berarti bulu yang menutupi tubuhnya berwarna putih, tetapi sarang yang dihasilkannya berwarna putih. Sebenarnya bulunya berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu bagian bawah keabuan atau kecokelatan, sehingga ada juga yang memberi nama walet cokelat. Ciri lain yang ada pada walet putih adalah warna mata cokelat gelap, paruh dan kaki berwarna hitam.
Sarang walet putih seluruhnya terbuat dari air liurnya sehingga harganya sangat mahal. Bentuk sarang memanjang dan enak dimakan, sehingga lebih dikenal dengan julukan sarang walet yang bisa dimakan atau “edible-nest swiflet”.
Telur walet berwarna putih, agak lonjong dan sekali bertelur biasanya hanya 2 butir. Besarnya telur hampir sama dengan telur burung pipit. Telurnya akan menetas setelah dierami selama 28 hari. Walet putih bertelur secara musiman. Dalam satu tahun, walet akan bertelur sebanyak 3 kali.
Walet putih mempunyai ukuran badan sekitar 12 cm, suka terbang tinggi dan jenis makanan yang dimakan adalah serangga. Walet sarang putih tidak suka terbang atau berputar-putar di tempat yang rendah. Dia mempunyai suara yang nyaring atau melengking tinggi.
Walet putih mempunyai kelebihan dan lebih suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi. Walet putih juga lebih mudah dirumahkan  daripada jenis walet lainnya. Walet putih ini di Indonesia banyak terdapat di pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bali.
B.    Walet sarang hitam (Collocalia maxima atau Collocalia maximus)
Walet sarang hitam ini mempunyai sarang yang disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat sarangnya bercampur dengan bulu-bulunya yang berwarna hitam. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor cokelat kelabu. Nama walet sarang hitam mengacu pada internasional, yaitu “black-nest swiftlet”. Walaupun pada namanya terdapat kata “maxima” bukan berarti walet ini ukurannya besar. Ukuran tubuhnya dapat dikelompokkan dalam kategori walet ukuran sedang dan penampilannya hampir sama dengan walet putih, yaitu sekitar 12 cm. Paruh dan kakinya semua berwarna hitam tetapi matanya berwarna cokelat tua dan telurnya tetap berwarna putih. Untuk mudah mengenali atau membedakan antara walet sarang putih dengan jenis walet sarang hitam adalah pada suaranya. Walet hitam tidak bersuara melengking tinggi seperti walet sarang putih, tetapi suaranya rendah dengan suara seperi mencicit.
Sarang walet ini dapat dimakan setelah bulu-bulu yang terdapat di sarangnya disisihkan atau dibuang. Hal ini yang menyebabkan kualitas sarangnya dianggap rendah dan harganya tidak setinggi pada walet sarang putih.
Seperti juga jenis-jenis walet pada umumnya, walet hitam suka memakan serangga-serangga kecil. Di Indonesia, jenis walet sarang hitam ini banyak dijumpai di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
C.    Walet besar (Collocalia gigas)
Mengapa disebut walet besar, karena mempunyai ukuran badan yang cukup besar dan termasuk walet yang paling besar dibandingkan dengan jenis-jenis walet lainnya. Ukuran panjang tubuhnya sekitar 16 cm. Warna bulu dari walet besar adalah hitam dengan bulu bagian bawah berwarna cokelat gelap. Jumlah telur biasanya satu dan berwarna putih dengan bentuk agak lonjong.
Walet besar mempunyai sarang yang tidak dapat dimakan. Bentuk sarangnya seperti mangkok. Sarangnya terbuat tidak hanya dari air liurnya saja seperti sarang putih, tetapi sudah merupakan campuran dari akar-akar, lumut, dan serat-serat.
Walet besar banyak terdapat di Indonesia seperti di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Dia suka bersarang di lubang-lubang batu (gua kecil) atau pada celah-celah batu dekat air terjun.
D.    Walet Gunung (Collocalia brevirostris)
Disebut walet gunung karena walet tersebut suka terbang berkelompok dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung. Walet gunung mempunya i bulu berwarna hitam dengan bulu ekor agak keabu-abuan dengan ukuran tubuh yang agak besar, yaitu sekitar 14 cm. Walet gunung banyak terdapat di Indonesia, khususnya Sumatra dan Jawa Barat.
E.    Walet Sarang Lumut                     (Collocalia vanikorensis)     
Jenis walet ini sulit ditemui manusia karena dia suka membuat sarang di tempat-tempat yang sangat sulit ditemui manusia, yaitu di bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sulit untuk dicapai manusia. Mengapa disebut walet sarang lumut? Ternyata walet ini dalam membuat sarangnya sebagian terdiri dari lumut. Sarangnya bagus, bentuk sarangnya agak bundar dan permukaannya halus. Walet sarang lumut mempunyai ukuran tubuh dengan panjang sekitar 12 cm, bulu berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan warna ekor yang lebih gelap. Walet sarang lumut ini di Indonesia banyak dijumpai di daerah Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
F.    Walet Sapi (Collocalia esculenta)
Walet sapi mempunyai ukuran tubuh yang paling kecil di antara jenis-jenis walet lainnya, yaitu sekitar 10 cm. Mempunyai bulu yang mengilat dengan warna bulu hitam kebiru-biruan. Walet ini mempunyai sifat tidak dapat terbang tinggi sehingga biasanya mereka hanya terbang atau berputar-putar di atas tanah atau sungai. Dia suka mencari makan pada pohon-pohon yang banyak serangganya terutama lebah.

JENIS BURUNG PERKUTUT

Jenis Perkutut

Di dunia ini, ada tiga jenis perkutut, yaitu perkutut belang, perkutut besar, dan perkutut tutul. Dua jenis di antaranya terdapat di Indonesia.

1.     Perkutut Belang (Geopelia Striata)
Ada 7 jenis perkutut belang, 5 di antaranya terdapat di Indonesia. Ke-7 jenis perkutut itu adalah sebagai berikut.
a.     Perkutut asli atau nama Latinnya Geopelia Striata-Striata. Di Indonesia, perkutut jenis ini banyak dijumpai di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Perkutut jenis ini pernah di introduksikan di Hawai dan Madagaskar. Burung ini juga meluas dari Thailand Selatan sampai ke Philiphina.
    Ciri-cirinya: bulu bagian tubuh depan tidak terdapat garis-garis melintang, sedangkan bulu dada berwarna cokelat muda. Semakin ke bawah, berwarna putih kekuningan.
b.     Perkutut Sumba dengan nama Latinnya Geopelia Striata Mungeus. Perkutut Sumba banyak terdapat di Pulau Sumba, Sumbawa, dan Timor. Ciri-cirinya: bulu dada bagian bawah terdapat warna putih kekuningan (krem) semakin ke bawah akan berwarna semakin putih kekuningan.
c.     Perkutut Irian atau dengan nama Latinnya Geopelia Striata Papua. Perkutut Irian ini banyak terdapat di Pulau Irian bagian Selatan. Ciri-cirinya: bulu dada atas bergaris-garis hitam secara melintang. Bulu lainnya berwarna jingga keabu-abuan dengan garis tengah cinnamon yang memanjang. Semakin ke bawah, semakin berubah menjadi krem. Bulu tubuh bagian depan berwarna gelap.
d.     Geopelia Striata Audacis. Burung jenis ini banyak terdapat di Kepulauan Kei dan Tanimbar. Ciri-cirinya: warna bulu putih kekuningan yang memanjang dari arah depan tubuh sampai ke bawah.
e.     Geopelia Striata Placida. Burung jenis ini banyak terdapat di Pulau Irian dan Benua Australia bagian Utara. Ciri-cirinya: bulu dada atas bergaris-garis hitam melintang. Bulu lainnya berwarna jingga keabu-abuan dengan garis tengah cinnamon yang memanjang. Semakin ke bawah semakin berubah menjadi krem.
f.     Geopelia Striata Traquila. Burung jenis ini tidak terdapat di Indonesia dan hanya ada di Australia Tengah.
g.     Geopelia Striata Clelaudi. Burung jenis ini hanya terdapat di Australia Barat.

2.    Perkutut Besar
Jenis perkutut besar di seluruh dunia dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perkutut besar Australia dan perkutut besar Irian atau Geopelia Humeralis Humeralis dan Geopelia Striata Gregalis.
Ciri-ciri perkutut besar adalah tubuhnya besar, sekitar 27 cm dengan warna bulu sebagai berikut.
a.    Bulu dasar cokelat.
b.    Bulu pada bagian punggung berwarna garis-garis kelam pekat.
c.    Bulu bagian pundak berwarna merah tembaga.
d.    Bulu bagian bawah tubuh berwarna merah jambu sampai putih.
e.    Bulu penutup sayap bergaris–garis cokelat.

3.    Perkutut Tutul
Di Indonesia, perkutut tutul sering diperjualbelikan di pasar burung dengan sebutan perkutut Australia karena perkutut jenis tutul ini hanya ada di Australia, terutama Australia Utara dan Tengah. Perkutut tutul mempunyai bulu berwarna cokelat keabu-abuan dengan bulu penutup sayap bercorak totol-totol putih berserakan.

PEMELIHARAAN AYAM BANGKOK DEWASA

Pemeliharaan ayam bangkok Dewasa
Setelah ayam berumur antara 6 - 7 bulan, ayam-ayam diseleksi, baik yang nantinya bakal dijadikan bibit induk betina ataupun bibit pejantannya ataupun pejantan-pejantan yang siap untuk dijadikan ayam aduan. Hasil ayam yang terseleksi tersebut kemudian  dipindahkan kedalam kandang dewasa. Pemindahan ayam ke dalam kandang dewasa dilakukan pada malam hari supaya ayam tidak stress. Sebelum dilakukan pemindahan, sebaiknya ayam-ayam diberi obat anti stress yang dicampur dalam air minumnya.
Ayam-ayam sebagai calon induk (untuk pembibitan) dapat dikandangkan bersama dengan ayam jantan yang dipersiapkan untuk dijadikan calon induk pejantan.  Rasio jantan : betina disesuaikan/ tergantung dengan cara-cara perkawinan yang akan dilakukan. Apakah akan menggunakan sistem Flock Mating, pen mating, stud mating atau akan menggunakan sistem IB. Apapun sistem perkawinannya, kapasitas untuk ayam dewasa tetap 3 - 4 ekorper meter2.

Kegiatan harian:
1.    memberi pakan, air minum dan kontrol kesehatan
2.    mempersiapkan ayam betina sebagai calon induk yang berkualitas dan menghasilkan keturunan anak ayam-anak ayam bangkok yang bermutu
3.    melatih dan merawat calon pejantan
4.    membuat format dan mengisi rekording(catatan)
    Bagaimana cara  melatih calon ayam pejantan?
Agar dapat dihasilkan ayam bangkok jantan yang handal yang mempunyai penampilan yang menarik, stamina kuat dan tahan fisik maka dibutuhkan latihan-latihan yang terprogram. Oleh sebab itu sebelum kegiatan pelatihan dimulai, dibuat dahulu program pelatihannya.
Pelatihan dan perawatan untuk ayam bangkok calon pejantan diantaranya adalah sbb:
1.    Memandikan.
Dalam memandikan ayam bangkok, cukup dengan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin (jangan air hangat, menyebabkan bulunya rusak). Pertama yang dibasahi adalah bagian kepala, leher, kemudian dibagian tengkuk sampai pangkal sayap, bagian dada sampai bagian kloaka.Khusus untuk bagian punggung tidak perlu dimandikan.
2.    Menjemur
Setelah dimandikan pada pagi hari, sebaiknya ayam dijemur kira-kira 15-20 menit dalam kandang kurungan.
3.    Melatih
Beberapa latihan untu ayam bangkok yang harus dilakukan antara lain:
a.    Latihan untuk otot tulang dada.
    Latihan ini dilakukan dengan cara tangan kanan memegang bagian dada dan tangan kiri memegang bagian bawah pantat. Kemudian dengan posisi jongkok, ayam dilemparkan ke udara (keatas, tetapi tidak boleh terlalu tinggi). Latihan ini dilakukan setiap hari, dan frekuensi pelemparan semakin hari ditambah sehingga sampai ayam tersebut terbiasa dengan frekuensi lemparan 40-50 kali.
b.    Latihan untuk mengembangkan kemampuan otot sayap, paha, kaki, pernafasan, urat syaraf dan sebagainya. Caranya secara hati-hati pangkal ekor dipegang dan diangkat kemudian menyebabkan seluruh tubuh  ayam akan bergerak secara bebas.
c.    Latihan untuk otot leher, otot kaki. Caranya memegang bagian depan dan belakang dari tubuh ayam dengan kedua pergelangan tangan.Dengan posisi jongkok, kita gerakkan kedua pergelangan tangan kedepan, kebelakang, kekiri dan kekanan. Latihan ini cukup dilakukan 2 menit perhari pada tahap awal, kemudian ditambah terus sampai 5 menit per hari
d.    Latihan untuk menguatkan dan meningkatkan kelenturan otot terutama paha dan kaki.
    Caranya, secara perlahan-lahan punggung ayam ditekan secara lembut, dan tekanan ini diperkuat sehingga ayam menggeliat.
e.    Latihan untuk meningkatkan tenaga fisik
    Caranya, ayam dilatih ditepian kolam atau sungai yang dangkal. Kemudian ayam tersebut dimasukkan kedalam air tersebut, maka dengan sendirinya ayam akan meronta-ronta ingin keluar dari kolam.
f.    Latihan untuk menjaga keseimbangan tubuh
    Caranya dengan meletakkan ayam pada tenggeran atau ayunan yang bergoyang. Ketika ayunan bergerak maju mndur maka ayam akan berusaha untuk tidak jatuh

AYAM ADU

AYAM ADU

Ayam aduan adalah ayam jantan dewasa yang pada umumnya memilki bentuk badan yang kompak, atletis dan baik perototannya yang dirawat dan dipelihara untuk tujuan diadu. Pada jaman prasejarah dimana manusia baru mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme,  upacara terhadap korban binatang banyak dilakukan baik itu berupa acara sesaji persembahan maupun acara menyabung ayam. Dan sampai sekarangpun upacara adu jago masih ditemui sebagai acara adat disuatu daerah tertentu. Banyak anggapan bahwa sabung ayam merupakan salah satu tradisi atau budaya asli Indonesia. Pada jaman Hindu Kuno, acara menyabung ayam sangat tekenal bahkan acara menyabung ayam dapat memberi semangat untuk mendukung dan memupuk sifat berani prajurit-prajurit jaman itu. Kalau kita berbicara mengenai menyabung ayam, maka lamunan kita ke cerita Anusapati, anak dari Ken Dedes di jaman Kerajaan Singosari, dimana pada saat itu tergeletak mati di arena sabung ayam karena tertusuk leh keris pusakanya sendiri, yang akhirnya dimakamkan di Candi Panataran.
Dibeberapa tempat di Indonesia, upacara adu jago masih dapat kita temukan. Biasanya pada acara tersebut, para peserta membawa ayamnya dalam “kisa” (keranjang yang tertutup yang terbuat dari anyaman daun kelapa atau batang bambu. Biasanya proses pertarungannya berlangsung sangat ulet dan mengasyikkan.  Mengapa demikian? Kelincahan untuk berusaha mengalahkan lawan dan mencari posisi yang tepat, ketangguhan dan keuletan serta pukulannya yang jitu, itulah yang menarik dan mengasyikkan untu ditonton.
Acara menyabung ayam sebenarnya bukan hanya di gemari masyarakat di Indonesia saja, tetapi telah berabat-abat lamanya pemeliharaan ayam sabung dan permainan sabung ayam menjadi kegemaran orang melayu, Birma dan hampir seluruh daeah di bumi Indonesia ini,  bahkan konon katanya di negara-negara majupun seperti di Inggris ada acara adu ayam yang sangat populer.
Namun sekarang acara menyabung ayam secara resmi telah dilarang oleh pemerintah, karena selain dianggap kejam terhadap binatang juga biasanya pertarungan ini sering dijadikan arena perjudian. Sebetulnya dari segi-segi negatif diatas, masih ada juga segi positif dari manfaatnya secara tak langsung, seperti mencegah terjadinya kepunahan ayam-ayam asli khususnya ayam-ayam jenis aduan. Dari arena aduan juga akan didapat individu-individu pilihan yang unggul dan kuat yang terseleksi.
Bagaimana untuk mendapatkan ayam aduan yang baik?
Mutu dan keungulan  ayam untu aduan sangat ter gantung dari
    ·    bentuk fisik
    ·    kemampuan bertarung
    ·    rangkaian silsilah keturunan
    ·    pola warna
    ·    bentuk khas bagian tubuh tertentu
Berdasarkan  warna bulunya atau sering disebut”ules” dan ciri-ciri fisiknya ada beberapa sebutan yang khas seperti  “batu karang”(keempat jari kakinya pecah-pecah), “ batusanda”(warna kakinya kelabu atau kehitaman)  “bagananda”(warna kakinya kuning kemerahan)”Mas-Sinangling”(warna bulunya putih kehijauan dan warna kakinya kuning) dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
1.     Jenis Ayam-Ayam Aduan
Jenis-jenis ayam aduan yang paling terkenal saat ini di Indonesia adalah :
1.    Ayam Bangkok.
    Sesuai dengan namanya, ayam bangkok ini berasal dari Ayuthaya, Bangkok, Muangthai
2.    Ayam Aduan Lokal
    a.    Ayam Sumatra
        Ayam ini termasuk jenis ayam aduan  yang garang, pandai berlaga dan  tangguh dalam  beradu. Ayam Sumatra mempunyai bentuk badan yang atletis, bidang, kekar dan tegap. Warna bulu ayam hitam kehijau-hijauan bercampur cokelat, putih serta abu-abu. Kulit mukanya merah, ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna kuning. Jengger berbentuk ercis, Pial menggantung kebawah dan berwarna merah kehitaman.
    b.    Ayam Bangkalan
        Sesuai dengan namanya, ayam ini berasal dari Bangkalan Madura. Ayam ini cukup terkenal sebagai ayam aduan karena pukulan tajinya sangat luar biasa dan selalu tepat  mengenai mata lawannya.
        Ayam Bangkalan mempunyai pandangan mata yang garang, kokok ayam yang sangat keras dan pendek. Ukuran badan ayam ini tidak terlalu besar, ramping, tinggi dan padat. Jenggernya sangat kecil berwarna merah darah, sedangkan pialnya  ukurannya sedang dengan warna merah keungu-unguan.
    c.    Ayam Banten
        Ayam Banten berasal dari daerah banten (Jawa Barat), mempunyai badan yang ramping tegap dan bila berdiri membentuk posisi 60 derajat.  Bulunya berwarna putih, cokelat atau kuning kemerahan.  Bulu ekornya keras, kaku dan agak pendek. 
        Ayam banten jantan bersuara keras tetapi pendek. Mempunyai suka berkelahi dan pantang menyerah.
        Kaknya cukup panjang mempunyai sisik kecil-kecil berwarna kunig gading, bertaji besar, keras dan runcing .
    d.    Ayam bali
        Ayam  asal dari pulau dewata ini merupakan jenis ayam aduan yang yang mempunyai ciri khas dimana mempergunakan taji besi untuk senjatanya dan pada umumnya di adu sampai mati.
        Ayam ini berbadan ramping, padat, posisi berdiri tegak bersudut 60 derajat. Bulu sayapnya besar, kaku dan berwarna hitam mengkilat. Sedangkan bulu badannya kecil-kecil, berwarna kuning, putih, coklat atau merah.
    e.    Ayam Tolaki
        Ayam Tolaki ini kemungkinan  berasal dari  Sulawesi Tenggara. Ayam ini mempunyai ciri-ciri mata merah, bulat, besar dan berkesan galak. Bulu hias pada leher kecil-kecil, pendek, merah darah atau kuning kemerahan. Sedangkan bulu dadanya hitam. Bulu hias punggung berwarna merah atau kuning kunyit.
        Ayam tolaki mempunyai sifat sangat liar, gesit dan suka terbang. Sedangkan pada saat bersabung, ayam jenis ini mempunyai sifat pantang menyerah dan berani mati.
    f.    Ayam Ciparage
        Menurut cerita, ayam ini berasal dari Karawang, Jawa Barat. Sifatnya  sangat agresif dan tangguh. Dilihat dari warna bulunya, dapat dibedakan menjadi dua yaitu jalak  karena hitam seperti burung jalak dan jali emas karena berarna lurik colat kekuningan dan coklat keemasan.
    g.    Ayam Kedu
        Ayam yang berasal dari karisidenan kedu ini mempunyai badan yang kokoh, tegak dengan dada lebar dan besar. Ayam ini walaupun termasuk juga sebagai ayam aduan, juga merupakan jenis ayam buras  petelur yang cukup handal produksinya telurnya.

CIRI-CIRI AYAM BANGKOK

CIRI-CIRI AYAM BANGKOK.
 Bentuk tubuh ayam bangkok secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
1.    Kepala.
    Bentuk kepala adalah bulat memanjang, dengan warna mukanya yang merah terang. Pada tulang kelopak matanya menonjol sehingga bola matanya terlihat cekung dan dalam, tetapi mempunyai bola mata yang tajam dan terlihat beringas.
    Paruh mempunyai garis (alur) seperti parit) dan sangat kuat dan ini berguna sebagai senjata untuk melukai lawan. Lehernya kekar karena leher ini merupakan pendukung kepalanya. Secara keseluruhan kepala merupakan daerah yang paling penting karena paling mudah untuk dilukai lawan. Oleh sebab itu ayam bangkok yang baik apabila mempunyai  kepala yang kokoh, kuat  dan lincah sehingga dia mampu untuk melakukan serangan balik ke bagian lawan.
2.    Anggota gerak
    Sayap ayam bangkok besar, kuat dan merapat ke anggota badannya dan merupakan anggota gerak yang sangat beperanan. Sayap bagi unggas layaknya tangan bagi manusia. Sayap ini bersama-sama dengan kakinya berfungsi  untuk memukul atau menghantam.
    Kaki ayam bangkok berbentuk persegi dan memiliki garis-garis yang terlihat jelas. Jari-jari kakinya kecil dan panjang, sedangkan telapak kaki bagian bawah menonjol keras dan berwarna hitam. Hal ini membuat tubuh lawan tarungnya menjadi memar apabila kena hantamannya.
    Ayam  bangkok mempunyai taji yang   panjang, kuat dan runcing. Kadang-kadang dijumpai ayam bangkok yang bertaji ganda. Ayam bangkok yang bertaji ganda lebih disukai karena lebih kuat untuk dapat menyeang lawannya, karena sekali hantam dua  daerah tubuh lawan bakal terluka. Ayam yang bertaji ganda ini dapat diturunkan pada anaknya/keurunannya.
3.     Organ dalam
    Organ-organ dalam ini ( jantung, paru hati ginjal dan alat-alat pencernakan) terlindung dengan baik oleh tulang dan otot-otot (daging) yang menyeliputinya. Oleh sebab itu otot-ototnya susunannya rapat, besar dan kuat. Terutama otot-otot dan tulang pada daerah dada karena peranannya lebih penting (karena merupakan pusat peredaran darah). Pada daerah ini berbidang kuat dan terlihat tegap.
4.     Warna dan ukuran bulu
    Mengapa  dalam memilih ayam bangkok dicari yang berbulu mengkilat? Pada ayam yang berbulu mengkilat maka cukup mudah untuk menggelincirkan atau membelokkan arah serangan lawan. Sedangkan untuk bulu penutup badan, dipilih bulu yang mempunyai bentuk sempit, kering dan tangkai bulu besar tetapi diameternya sempit. Hal ini dimaksudkan agar bulunya tidakmudah rontok.
    Bulu ekor panjang dan runcing pada bagian ujungnya. Dengan kondisi seperti ini memudahkan dalam membantu keseimbangan  tubuh, baik  padasaat maju, mundur maupun meloncat.
5.      Perototan.
    Agar gerakan tubuhnya lentur dan lincah maka diperlukan otot yang besar, kekar dan kuat. Untuk mengetahui bahwa perototannya cukup bagus maka dapat kita lakukan dengan cara melihat dan  meraba otot secara keseluruhan  dan dirasakan apakah ototnya tebal, liat, kenyal dan kekar atau malah sebaliknya? Otot-otot yang mendukung gerakan tubuh ayam agar gesit dan lincah adalah otot dada atau bahasa latinnya “ Musculus pectoralis”. Otot dada harus tebal dan liat dimana otot tersebut berperan dalam menggerakan otot pangkal sayap.
    Pada ayam bangkok, otot paha” Musculus gastrocnemius” harus kompak, liat dan kenya tetapi tidak terlalu besar. Otot paha yang terlalu besar akan menghambat gerak kaki baik dalam beradu/berantam maupun menghindar dari lawan.
    Pada saat ayam bertarung, bulu leher akan ikut mengembang. Untuk mengembangkan bulu tersebut dibutuhkan otot-otot yang kuat yang berada dibawah kulit, dimana bulu-bulu tersebut akan menancap dengan kuat pada otot dibawah kulit atau disebut “Musculus dermal”.
    Sedangkan otot yang berperanan dalam membantu untuk berdirinya kembali sesudah jatuh dari pertarungan disebut “Musculus pectineus”.
    Untuk mengetahui tentang perototan ayam bangkok maka perlu perabaan dan dirasakan secara seksama dan telitu apakah  otot-otot yang mendukung kerangka tubuh ayam bangkok yang kita miliki benar-benar sesuai dan ideal sebagai ayam aduan yang handal, seperti tebal, liat, kenyal dan kekar.

6.      Tulang
    Apa peranan tulang bagi ayam bangkok? Seperti halnya juga pada ternak-tenak lain, fungsi utama dari tulang bagi ayam bangkok adalah :
    - sebagai kerangka tubuh.
    - melindungi alat-alat dalam
    - salah satu senjata pada saat bertarung
    - sebagai  perisai terhadap serangan lawan
    Tulang yang kokoh dan kuat bagi ayam bangkok sangat diperluakan karena untuk bertarung. Tulang yang  kokoh dan kuat dan persendian yang pendek akan memudahkan mengalahkan lawan dalam bertarung.
Selain bentuk-bentuk/kharakteristik keseluruhan dari tubuhnya tersebut diatas, bagaimana ciri-ciri yang lain ayam bangkok yang baik?




















Gambar 6.  Bentuk tubuh ayam bangkok
Ayam bangkok sebagai salah satu dari beberapa jenis ayam aduan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
    1.    Kondisi/stamina  baik
    2.    Mempunyai teknis bertarung lebih bervariasi dan pandai mencari kelemahan lawan
    3.    Berani menghadapi lawan tanpa pandang bulu
    4.    pantang menyerah selama pertarungan berlangsung
    5.    bermental baik dan kuat
    6.    Kaki-kakinya kuat dan kokoh
    7.    Pandai memukul dengan berbagai metode/ posisi
    8.    Pandai mengelak terhadap lawan
    9.    dapat melancarkan serangan balik secra capat dan tepat
    10.    cukup berumur
    11.    mempunyai berbagai pengalaman dalam bertarung