Monday, 14 November 2016

Berak Kapur (Pullorum) Pada Ayam dan Unggas lainnya


Penyakit berak kapur disebut juga penyakit pullorum (pullorum disease). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum. Penyakit ini disebut pula penyakit berak putih (bacillaria white disease).
Penyakit ini umumnya menyerang anak ayam umur 2 minggu. Akan tatapi, menyerang pula segala umur. Berak kapur banyak menyerang ayam yang sudah dewasa, tetapi kematian terbanyak justru pada anak ayam yang masih muda. Jika ayam sanggup bertahan sampai dewasa, justru ayam tersebut akan menjadi carrier (pembawa penyakit) bagi ayam lain. Penyakit ini sering muncul pada saat pergantian musim.
1.    Penyebab
    Bakteri salmonella pullorum.
2.    Penularan
a.    Melalui telur tetas.
b.    Kontak langsung dengan ayam yang sakit.
c.    Melalui kotoran, pakan, dan minum.
3.    Gejala Klinis
a.    Kedinginan.
b.    Bergerombol.
c.    Berdesak-desakan.
d.    Bulu kusut.
e.    Susah bernapas.
f.    Nafsu makan menurun.
g.    Produksi telur menurun tidak stabil.
h.    Daya tetas menurun.
i.    Berak kapur, yaitu kotoran berwarna putih seperti kapur, mencret berwarna putih dan berbusa, sebagian kotoran melekat pada bulu di sekitar anus.
j.    Terlihat pucat.
k.    Lemah dan mengantuk.
l.    Jengger berkerut keabu-abuan dan pucat.
m.    Kepala tertunduk.
n.    Sayap terkulai.
4.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
    Infeksi pullorum pada organ dalam.







5.    Pencegahan
a.    Sebagai pencegahan, dilakukan pengobatan melalui air minum selama 3-5 hari pada ayam yang masih sehat.
b.    Segera pisahkan ayam yang sakit dan menyuntiknya dengan antibiotik, misalnya furazolidon, neo-Terramycin 25 soluble powder dengan dosis 2 sendok teh dan dilarutkan dalam 3,8 liter air minum.
c.    Ayam yang sudah parah, sebaiknya dimusnahkan.
6.    Pengobatan
    Pengobatan dilakukan dengan pemberian furazolidon, melalui pakan dengan dosis sesuai dengan ketentuan. Pengobatan pada ayam jantan harus hati-hati karena dapat menimbulkan efek negatif pada buah pelir. Selain itu, dapat pula menggunakan obat-obatan untuk penyakit pullorum yang sudah banyak dijual di toko-toko unggas, sesuai dengan dosis yang dianjurkan.





                                     

                   

Kolera pada ayam dan unggas lainnya

Kolera
Penyakit kolera atau fowl cholera atau avian pasteurellosis menyerang ayam setelah bermur > 12 minggu. Serangan dapat secara mendadak (akut) ditandai dengan terjadinya kematian tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, sedangkan serangan menahun (kronis) ditandai dengan gejala yang jelas. Kerugian yang ditimbulkan kolera, yaitu penurunan bobot badan dan produksi telur bahkan kematian.
1.    Penyebab
    Bakteri pasteurella mulcocida dan pasteurella gallinarum. Secara murni bakteri ini ada pada saluran pernapasan dan pencernaan. Pada saat kondisi dan daya tahan tubuh menurun, bakteri ini berubah menjadi patogen.
2.    Penularan
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
3.    Gejala Klinis
    Kolera kronis akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut.
a.    Demam.
b.    Nafsu makan hilang.
c.    Bulu berdiri.
d.    Napas sesak.
e.    Kotoran mencret banyak, mula-mula kuning, kemudian berubah cokelat atau hijau.
f.    Jengger dan pial bengkak kebiruan.
g.    Kepala geleng-geleng.
h.    Persendian sayap dan kaki bengkak, kadang disertai lumpuh.









4.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
    Ayam.
5.    Pencegahan
    Malalui vaksinasi dan sanitasi kandang.
6.    Pengobatan
    Pemberian antibiotik seperti mycomas, noxal atau ampisol. Air minumnya diberi vitamin, seperti vitastress atau vitastrong untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease) pada ayam dan unggas lainnya

Penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease)
Penyakit ini dikenal dengan nama air-sac disease (penyakit kantong udara) atau Mycoplasma Gallisepticum (MG), Pleuro Pneumonia Like Organism (PPLO), Respiratory Mycoplasmosis. CRD adalah penyakit pernapasan yang kronis (menahun), dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Sulit membedakan penyakit ini dengan penyakit coryza karena keduanya dapat bercampur dan menyerang sekaligus pada ayam segala umur. Akan tetapi, lebih banyak menyerang ayam-ayam muda (4-9 minggu) daripada ayam dewasa.
Penyakit ini lambat menular, tetapi sulit hilang. Angka kematian penyakit CRD tinggi, bila serangan penyakit bersamaan dengan penyakit lain, seperti penyakit ND dan bronchitis. Penyakit ini sulit sekali ditemukan secara mikroskopis dari dalam getah radang dan jaringan yang mengalami perubahan. Hal ini  disebabkan kuman ini sulit dibedakan dengan kuman-kuman yang lain. Penyakit CRD dapat lebih sering berjangkit pada musim penghujan.
1.    Penyebab
    Bakteri micoplasma  gallisepticum. 
    MG dianggap sebagai penyebab utama timbulnya penyakit CRD pada unggas. Umumnya, berkomplikasi dengan bakteri, antara lain escherichia coli dan virus-virus sekunder lainnya.
2.    Penularan
    Kontak langsung dengan ayam yang sakit, melalui pakan, air minum, peralatan, dan telur tatas yang tercemar penyakit CRD.
3    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis 
    Tanda-tanda pada ayam muda, yaitu sebagai berikut.
a.    Bila tidak ada komplikasi, tanda-tanda klinisnya kurang jelas.
b.    Terlihat adanya kesulitan ketika bernapas.
c.    Diikuti oleh napas ngorok, lubang hidung ke luar cairan, bersin-bersin, kepala diguncang-guncangkan, terdengar napas berbunyi melengking yang terdengar pada malam hari.
d.    Apabila terjadi komplikasi dengan penyakit-penyakit pernapasan lain (snot, ILT, dan lain-lain), tanda-tandanya akan lebih hebat. Dalam kasus seperti ini, kematian dapat mencapai 30%, sedangkan pada broiler angka kematiannya lebih tinggi, yaitu mencapai 40-50%.

    Tanda-tanda pada ayam dewasa, yaitu sebagai berikut.
a.    Terlihat lesu dan tidak aktif.
b.    Kadang-kadang terlihat mencret (diare).
c.    Produksi telur dapat berkurang hingga 50% dan produksi tetap konstan, tetapi rendah meskipun ayam-ayam tidak terlihat jelas menunjukkan tanda-tanda sakit. Angka kematian pada ayam dewasa biasanya rendah.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Airsacculitis.












b.    Pericarditis, peritonitis, dan perihepatitis.












6.    Pencegahan
a.    Hindarkan terjadinya stres yang disebabkan oleh kesalahan pemberian makan atau minum yang kurang baik.
b.    Lindungi terhadap hujan dan angin kencang.
c.    Isilah kandang sesuai dengan kapasitas. Apabila kandang diisi melebihi kapasitas, akan menyebabkan udara kotor, ventilasi tidak baik, dan litter basah yang dapat menyebabkan timbulnya CRD.
d.    Ayam-ayam yang terkena (terinfeksi) penyakit ini harus segera dipisahkan (diasingkan) karena penyakit ini mudah menular. 
7.    Pengobatan
    Berdasarkan hasil penelitian, beberapa spesies mycoplasma resisten (tahan) terhadap penicillin, methicillin, amoxicillin, thallium acetate, dan sulfathiasol. Usaha pengobatan pada penyakit ini hanya bersifat sementara.
Beberapa obat antibakteri berkhasiat menyembuhkan penyakit CRD dan dapat diberikan melalui air minum, makanan atau suntikan, yaitu sebagai berikut.
a.    Chlortetracyclin.
b.    Oxytetracyclin.
c.    Lincomycin.
d.     Erythromycin.
e.    Carbomycin.
f.     Streptomycion.
g.     Kanamycin.
h.     Spiramycin.
i.     Doxycyclin.
j.     Thiamulin.

Pengobatan dapat pula menggunakan mycomas 0,5 ml/liter air minum atau baytril 10%, dan OS sebanyak 0,5 ml/liter air minum. Selain itu, dapat juga menggunakan suanovil 1-2 g/liter air minum. Pengobatan dilakukan selama 3-5 hari berturut-turut.

Penyakit Coryza Pada Ayam

Penyakit Coryza
Penyakit coryza disebut juga penyakit hemophilus gallinarum infection, rhinitis, rouf, salesma, snot atau pilek. Penyakit ini merupakan penyakit yang akut (mendadak) atau kronis (menahun) pada unggas. Penyakit ini bersifat menular dan timbul akibat perubahan musim dari kemarau ke musim penghujan. Perubahan cuaca yang sangat berbeda, keadaan sehari-hari yang banyak turun hujan, dan angin, sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiologi ayam.
Penyakit coryza menyerang ayam semua umur terutama dewasa. Ayam betina umur 18-23 minggu, sangat rawan terserang penyakit ini. Ayam petelur yang terkena coryza, produksi telurnya dapat turun sampai 20%. Angka kematian karena coryza relatif kecil (mortalitas 30%), tetapi angka kesakitan tinggi (morbiditas 80%).
1.    Penyebab
    Bakteri haemophilus gallinarum.
2.    Penularan
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
    Ayam.
4.    Gejala Klinis
a.    Ke luar lendir agak encer, lama-lama mengental hingga menyumbat ujung lubang hidung.
b.    Ayam tampak tidak mau makan.
c.    Suka menyendiri.
d.    Sering menggeleng-gelengkan kepala.
e.    Sayap terkulai.
f.    Mata terpejam.
g.    Muka bengkak.
h.    Tidak aktif bergerak.
i.    Sukar bernapas.
j.    Suara ngorok.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Ayam.
b.    Kalkun.






 6.    Pencegahan
a.    Vaksinasi pada ayam yang berumur 12-17 minggu dengan menggunakan vaksin snot inaktif, misalnya haemovax 0,3 ml per ekor.
b.    Diusahakan, tidak mencampur ayam berbeda umur lebih dari 3 minggu dalam satu kandang.
7.    Pengobatan
    Dengan preparat sulfa. Di toko, preparat sulfa tersedia dalam berbagai merek, misalnya streptomycin, mycomas, ampisol, ultramycin SP, baytryl 10%, dan OS.

Penyakit Cacar Pada Ayam

Penyakit Cacar
Penyakit cacar (avian pox) atau avian diphtheria atau fowl pox merupakan penyakit menular yang akut (mendadak) pada unggas. Pada umumnya, menyerang ternak ayam yang dipelihara pada kandang basah dan kotor serta kualitas pakan yang kurang baik. Ada 2 bagian tubuh yang terserang penyakit ini, yaitu bagian luar (jengger dan kulit) dan bagian dalam tubuh (mulut dan tenggorokan). Berdasarkan pengalaman, angka kematian yang diakibatkan penyakit cacar ini rendah, tetapi dapat pula tinggi sampai 50%, terutama pada infeksi mulut dan tenggorokan. Lamanya penyakit ini biasanya berlangsung 3-4 minggu, tetapi tanda-tanda penyakit ini berbeda-beda menurut bagian yang diserangnya.

1.    Penyebab
    Virus pox.
2.    Penularan
a.    Kontak langsung dengan ternak ayam yang sakit atau dengan benda yang tercemar. Selain itu, dapat ditularkan oleh serangga, misalnya nyamuk. 
b.    Melalui makanan, air minum, udara, peternak, dan para tamu. Virus ini masuk ke dalam tubuh ternak hanya melalui luka-luka atau goresan pada kepala, mulut, dan lain-lain.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
c.    Pheasants.
d.    Pigeons.
4.    Gejala Klinis
Cacar yang menyerang bagian luar terutama pada bagian yang tidak berbulu, seperti jengger atau kulit dengan tanda-tanda sebagai berikut. 
a.    Timbul bintil-bintil berwarna merah pada jengger, pial, dan kelopak mata. Bintil-bintil kecil merah tersebut kemudian berubah atau bertambah besar, berwarna kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap.
b.    Kadang-kadang ke luar cairan dari mata atau hidung.
c.    Napsu makan turun dan ayam menjadi kurus.
d.    Produksi telur turun dan berat badan pada ayam turun.

Cacar yang menyerang bagian dalam, terutama pada bagian selaput lendir lidah, mulut, dan tenggorokan, mempunyai tanda-tanda sebagai berikut.
a.    Timbul selaput kuning yang tebal dalam mulut dan tenggorokan.
b.    Selaput lendir tersebut dapat semakin besar, pecah-pecah, dan menyumbat jalan napas yang mengakibatkan jalan pernapasan menjadi sesak.
c.    Mulut selalu terbuka atau terengah-engah.
                          
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
6.    Pencegahan
a.    Vaksinasi. Ayam yang telah sembuh dari penyakit cacar akan menjadi kebal. Oleh sebab itu, tindakan yang perlu dilakukan adalah mengebalkan ternak unggas yang rentan (peka) dengan jalan vaksinasi.
b.    Menjaga kebersihan kandang dan menghindari kandang terlalu padat serta kemungkinan-kemungkinan adanya goresan (luka) pada kulit ayam. Bila sudah terjadi, segeralah mengasingkan ayam yang sakit tersebut.
7.    Pengobatan
    Penyakit cacar pada unggas praktis tidak ada obatnya. Adapun cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan mempertinggi resistensi tubuh. Umumnya, pengobatan dilakukan dengan mengoleskan iodium tincture pada bekas diptheria tersebut, kemudian diberi suntikan vitamin A.
G.     Penyakit Batuk darah
Penyakit batuk darah disebut juga dengan penyakit Infectious Laryngo Tracheitis (ILT). Ayam yang berumur 14 minggu atau lebih sangat rentan terhadap penyakit batuk darah ini.
1.    Penyebab
    Virus herpes.
2.    Penularan
    Vaksinasi.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Pheasant.
4.    Gejala Klinis
a.    Mata berair.
b.    Malas bergerak.
c.    Lendir bercampur darah melekat pada rongga mulut dan tenggorokan.
d.    Ayam sulit bernapas.
e.    Sering batuk.
f.    Paruh dan bulu terlihat per-cikan darah.
g.    Saluran tenggorokan tersum-bat.





5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
    Haemorrhagic trachea.











6.    Pencegahan
    Vaksinasi.
7.    Pengobatan
    Vaksinasi.

Penyakit Marek’s Pada Ayam

Penyakit Marek’s
Penyakit marek's atau Marek's Disease (MD) atau Neurolymphomatosis merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini, biasanya menyerang anak ayam umur 1-5 bulan.
1.    Penyebab
    Virus herpes.
2.    Penularan
a.    Kontak dengan ayam yang terkena penyakit  marek's.
b.    Melalui debu kandang, kotoran, litter, dan peralatan kandang.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
    Unggas lokal.
4.    Gejala Klinis
a.    Jengger pucat.
b.    Pembesaran tulang-tulang kaki.
c.    Terjadi kelumpuhan pada syaraf kaki, sehingga kaki dijulurkan ke depan atau ke belakang atau ayam dapat lumpuh sama sekali.










d.    Sayap menggantung.
e.    Mata tidak normal, terjadi kebutaan, iris mata berwarna kelabu.
f.    Tumor di bawah kulit dan otot.
g.    Terjadi benjol-benjol pada bulu kulit paha.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Pembengkakan syaraf sciatic.










b.    Tumor pada hati, spleen, jantung, ovari, dan jaringan-jaringan yang terinfeksi MD. Gambar berikut ini, menunjukkan tumor pada ovari!









6.    Pencegahan
a.    Melakukan vaksinasi MD pada DOC.
b.    Melakukan program sanitasi dan pemeliharaan yang baik.
7.    Pengobatan
    Sampai saat ini, penyakit marek’s belum ada obatnya.

Penyakit IB (Infectious Bronchitis) pada Ayam

Penyakit IB (Infectious Bronchitis)
Penyakit IB (Infectious Bronchitis) atau dikenal dengan penyakit gasping disease (penyakit sesak napas) atau bronchitis merupakan penyakit pernapasan pada ayam yang akut (mendadak) dan sangat cepat menular. Penyakit ini banyak menyerang ayam yang berumur 1-4 minggu dengan angka kematian mencapai 50% , dan dapat berlangsung selama 7-21 hari.
1.    Penyebab
    Virus IB. 
2.    Penularan
a.    Melalui udara. Virus yang dibatukkan oleh ayam ke udara, dalam waktu singkat dapat menjalar ke seluruh kandang karena penyakit IB ini sangat mudah menular.
b.    Melalui pembawa penyakit, seperti pekerja kandang, tamu, alat transportasi, dan ayam yang terserang penyakit ini. Ayam yang telah satu bulan sembuh dari penyakit IB, masih dapat menularkan penyakitnya, apabila ayam tersebut dicampur dengan ayam yang sehat.
c.    Melalui pakan yang tercemar oleh virus IB.
d.    Melalui kandang bekas ayam yang sakit. Oleh sebab itu, penggunaan kandang selanjutnya jangan terburu-buru, harus dilakukan sanitasi terlebih dulu.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
    Ayam.
4.    Gejala Klinis
a.    Pada anak ayam, yaitu sebagai berikut.
1)    Terdengar bunyi napas yang mencicit dan bersin-bersin pada malam hari.
2)    Ke luar cairan dari hidung
3)    Mata berair dan terjadi pembengkakan pada sudut-sudut mata.
4)    Sesak napas.
5)    Tingkat kematian tinggi, mencapai 50%.

b.    Pada ayam dewasa, yaitu sebagai berikut.
1)    Terjadi gangguan pernapasan.
2)    Produksi telur menurun.












3)    Kualitas telur menurun, seperti bentuk abnormal, kerabang lunak, berkerut, poreus, berbintik-bintik kapur, dan warnanya bening. Selain itu, putih telur encer dan berair, bila disimpan cepat rusak.
4)    Tingkat kematian tidak berarti (hampir tidak ada).
5.    Tanda-tanda Sesudah mati
6.    Pencegahan
a.    Melakukan tata cara pemeliharaan  yang  baik.
b.    Melakukan vaksinasi IB secara benar.
7.    Pengobatan
    Belum ada obatnya. Pengobatan dilakukan hanya untuk mencegah kerusakan dan kematian yang disebabkan oleh infeksi sekunder.

Penyakit AI (Avian Influenza)/Flu Burung

Penyakit AI (Avian Influenza)
Penyakit AI (Avian Influenza) disebut juga penyakit flu burung. Istilah Avian Influenza lazim digunakan untuk penyakit pada unggas, sedangkan flu burung di Indonesia digunakan untuk penyakit pada manusia. Penyakit AI (Avian Influenza) merupakan penyakit pernapasan yang menular, tetapi tidak bersifat menurun. Ternak yang sembuh dari penyakit ini tidak sebagai pembawa sifat. Saat ini, penyakit Avian Influenza menjadi momok yang menakutkan bagi peternak dan masyarakat. Alasannya, selain dapat membunuh unggas (ayam), juga menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian.
1.    Penyebab
    Virus Influenza A (orthomyxo virus) memiliki 15 antigen H dan 9 antigen N (135 subtipe). Berdasarkan keganasannya, virus ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
a.    Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).
b.    Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Wabah AI di Indonesia disebabkan oleh HPAI subtipe H5N1.
2.    Penularan
    Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, kotoran, peralatan, dan orang pembawa virus.
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
c.    Itik.
d.    Angsa.
e.    Unggas liar.
4.    Gejala Klinis
a.    Pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis).
















b.    Muka bengkak dan ke luar cairan dari hidung dan mulut.














c.    Ke luar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut (hipersalivasi).
d.    Depresi.
e.    Kerabang telur lembek.
f.    Ptekhi subcutan pada kaki.












g.    Ptekhi subcutan dan pembengkakan pada telapak kaki.












h.    Diare.







i.    Tingkat kematian tinggi.


















5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki.
    
    





    





















Gambar 2.9 Perdarahan subcutan di  daerah dada, perut, dan kaki



b.    Infeksi hati dan proventrikulus.











6.    Pencegahan
a.    Menerapkan biosecurity secara ketat, yaitu sebagai berikut.
 1)    Biosecurity konseptual dilakukan dengan cara memilih tempat usaha peternakan; breeder 3 km dari peternakan komersial, RPA, dan tempat penetasan serta tidak boleh dekat dengan jalan raya dan danau.
 2)    Biosecurity struktural dilakukan dengan cara menentukan tata letak (lay out) peternakan, instalasi kandang, air minum, pakan, dan perkantoran.
 3)    Biosecurity operasional dilakukan dengan cara menentukan prosedur rutin kegiatan sehari-hari, dekontaminasi, dan desinfeksi. Contohnya, penyemprotan dengan antiseptik atau larutan sabun terhadap kandang dan peralatan serta lingkungan kandang secara teratur (3-6) hari sekali.

b.    Hal penting dalam biosecurity operasional, yaitu sebagai berikut.
1)    Batasi kunjungan ke kandang.
2)    Pakaian kandang khusus.
3)    Desinfektan pencuci kaki di depan pintu kandang.
4)    Untuk breeder:  kewajiban mandi.
5)    Desinfeksi setelah pengosongan kandang.
6)    Kendaraan dan alat-alat kandang serta peralatan pengepakan (keranjang ayam dan rak telur) perlu didekontaminasi dengan desinfeksi.

c.    Melakukan vaksinasi AI.
1)    Pilihlah vaksin AI yang mengandung virus AI subtipe H5, sedapat mungkin homolog atau memiliki tingkat homologi terhadap virus AI lapangan > 80%.
 2)    Vaksin AI selalu inaktif (kill) dalam adjuvant, masih sering menimbulkan stres dan dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Oleh sebab itu, program vaksinasi seharusnya selesai sebelum masa produksi.
 3)    Titer antibodi yang dihasilkan setelah program vaksinasi hendaknya cukup tinggi (> 7 (log2), untuk menghindari AI subklinis.
7.    Pengobatan
    Belum ada pengobatan yang efektif.
    Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) pada Ayam

Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease)
Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau dikenal dengan penyakit gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama bagian bursa fabricious dan thymus yang berfungsi membentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Kedua organ ayam ini merupakan benteng pertahanan penyakit.
Kerusakan parah yang ditimbulkan, yaitu tidak terbentuknya antibodi sesudah divaksinasi. Penyakit gumboro tidak menimbulkan kematian secara langsung, tetapi infeksi sekunder sesudahnya mengakibatkan banyak kematian. Penyakit ini umumnya menyerang ayam berumur muda, yaitu < 3 minggu (gumboro subklinik) dan berumur 4-8 minggu (gumboro klinik).
1.    Penyebab
    Virus IBD.
2.    Penularan
    Penyebaran penyakit ini dapat berlangsung sangat cepat melalui kontak langsung dengan tempat pakan, tempat minum, pakan, air minum, kotoran unggas, peralatan, pekerja kandang, dan orang (tamu) yang datang dan telah tercemar virus gumboro. 
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis
Gumboro subklinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a.    Mengalami kerusakan sel bursa fabricious, sehingga tidak mampu lagi membentuk kekebalan tubuh dan akan mudah terinfeksi beberapa penyakit menular lain, misalnya marek, ND, dan IB.
b.    Pertambahan bobot badan lebih rendah.
c.    FCR (Feed Conversion Ratios) tinggi.

Gumboro klinik akan menunjukkan gejala-gejala berikut.
a.    Ayam bergerombol seperti kedinginan.
b.    Nafsu makan dan minum menurun.
c.    Ayam lesu, mengantuk, dan bulu mengerut.
d.    Badan gemetar dan sukar berdiri.
e.    Bulunya kotor di sekitar anus.
f.    Kotoran  encer (diare berlendir),keputih-putihan.
g.    Dehidrasi.
h.    Suka mematuki di sekitar kloaka akibat peradangan bursa fabricious yang terletak di atas dubur.

i.    Bila  tidur paruh diletakkan di lantai. 
5.    Tanda-tanda Setelah Mati
Bursa fabricious membesar atau membengkak.
6.    Pencegahan
a.    Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan dengan baik.
b.    Vaksinasi gumboro.
7.    Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif. Pemberian antibiotika hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Penyakit ND (Newcastle Disease) pada Ayam


Penyakit ND (Newcastle Disease) atau penyakit tetelo (telo), pes, sampar, cekak, atau dalam bahasa jawa disebut pileren merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan menyerang ternak unggas semua usia. Penyakit ini berjangkit terutama pada musim peralihan,  yaitu dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya. Penyakit ND muncul setelah ayam mengalami komplikasi dengan penyakit lain, seperti coryza (penyakit pernapasan). Apabila kondisi ayam lemah,  ayam mudah terjangkit penyakit ND. Dalam beberapa hari saja, penyakit ini dapat menyebabkan semua ayam mati. 
1.    Penyebab
    Virus ND (paramyxo virus).
    Virus ND mempunyai tingkat keganasan yang bervariasi dari yang rendah (lentogenik), sedang (mesogenik) sampai yang sangat ganas (velogenik).
2.    Penularan
    Kontak langsung melalui pakan, minum, kotoran unggas, dan peralatan yang tercemar oleh virus ND. Periode inkubasi (masa penularan penyakit sampai dengan terlihat tanda-tanda sakit) berlangsung 3-6 hari. 
3.    Jenis (Spesies) Unggas yang Terserang
a.    Ayam.
b.    Kalkun.
4.    Gejala Klinis
    Napsu makan berkurang disertai gejala lain, yaitu sebagai berikut.
a.    Lesu (tidak aktif bergerak).
b.    Gangguan pernapasan (sulit bernapas).
c.    Batuk-batuk dan bersin.
d..    Ngorok.
e.    Mata mengantuk.
f.    Sayap terkulai ke bawah.
g.    Jengger tampak biru kehitaman.
h.    Tinja encer, hijau, dan kadang-kadang mengandung darah.
i.    Syaraf terganggu ditandai dengan gerak yang tidak normal, jalan berputar-putar dan lehernya berputar, seperti terpelintir dengan kepala terangkat ke atas.
j.    Kelumpuhan.
k.    Tingkat kematian tinggi, yaitu dapat mencapai 100%.
5.    Tanda-Tanda Sesudah Mati
a.    Terlihat adanya bendungan-bendungan pembuluh darah (congesti).
b.    Terlihat adanya perdarahan bercak-bercak (haemorrhagi ptechiae) pada proventriculus, usus buntu (caecum), saluran pernapasan, dan pencernaan.
c.    Terlihat adanya radang usus yang mengeluarkan cairan radang (enteritis catarrhalis) apabila usus dibelah.
6.    Pencegahan             
Tata cara pemeliharaan yang baik, yaitu sebagai berikut.
a.    Melakukan sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungannya, baik sebelum, selama, maupun sesudah pemeliharaan.
b.    Bibit ayam berasal dari breeder yang bebas penyakit ND.
c.    Pemberian pakan dan air minum, baik dari kualitas maupun kuantitasnya harus baik.
d.    Ayam yang sakit atau diduga sakit harus disingkirkan dengan cara disembelih dan dagingnya dapat diperjualbelikan, dengan syarat harus direbus atau dimasak terlebih dahulu.
e.    Sisa-sisa pemotongan ayam yang sakit atau diduga sakit, harus dibakar atau dikubur..   
f.    Ayam yang terkena penyakit ND harus dibakar atau dikubur.
g.    Melakukan vaksinasi ND secara teratur.
7.    Pengobatan
    Belum ada obatnya. Pemberian antibiotika tidak mempan terhadap virus ND, tetapi hanya dapat mencegah infeksi sekundernya.

Thursday, 22 September 2016

CARA MENGUNDANG BURUNG WALET

Mengundang Walet
Apabila kandang walet sudah dipersiapkan dan kita menginginkan agar burung walet yang beterbangan mau untuk masuk ke dalam kandang yang kita persiapkan, bagaimana caranya?
Ada beberapa cara untuk mengundang walet agar mau memasuki kandang yang kita persiapkan. Tetapi sebelum kita mengundang walet, kandang harus benar-benar sudah siap. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan kandang, di antaranya suhu, kelembapan, kondisi cahaya, dan aroma gedung.
Adapun, cara-cara untuk mengundang walet adalah sebagai berikut.
1.    Mengundang Secara Pasif
Mengundang walet secara pasif, yaitu dengan cara membiarkan kandang atau gedung begitu saja dengan harapan dapat didatangi walet. Cara ini pada umumnya kurang menguntungkan karena untuk dapat mengundang walet masuk ke gedung itu banyak membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada cara ini pemilik atau pengelola walet bersikap pasif, hanya menunggu walet datang.
2.    Mengundang Secara Semiaktif
Mengundang walet secara semiaktif yaitu si pemilik atau pengelola sudah sedikit banyak lebih aktif dibanding dengan cara semiaktif.
Mengundang secara semiaktif dapat dilakukan dengan cara berikut.
a.    Menyediakan pakan untuk walet. Cara ini dilakukan dengan melepaskan pakan-pakan walet (serangga) di dalam ruangan atau di dekat  kandang. Maksud melepaskan serangga-serangga dalam ruangan gedung adalah diharapkan walet yang melihat akan tertarik mendekat atau mungkin tertarik untuk menghuni gedung. Selain melepaskan serangga-serangga dalam gedung, dapat juga dilakukan dengan mengundang serangga-serangga mendekati gedung. Untuk itu, usahakan ruangan gedung dibuat aroma busuk dengan cara menebarkan bahan-bahan makanan seperti buah-buahan, singkong, jerami dan lain-lain hingga membusuk di lantai. Hal ini akan mengundang serangga untuk mendatanginya. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai walet tertarik dan mau menghuni gedung tersebut.
b.    Mengundang walet dengan cara menggunakan tape recorder.
    Cara pemanggilan ini dilakukan dengan menyiapkan tape recorder yang dilengkapi dengan pengeras suara dan kaset yang berisi suara walet. Waktu penyetelan recorder sebaiknya dilakukan sektar jam-jam walet biasa masuk ke dalam kandangnya. Waktu yang ideal adalah sekitar jam 16.00 - 18.00 sore. Dengan mendengar suara-suara walet maka walet akan tertarik dan menghampiri datangnya suara tersebut. Apabila gedung atau kandang walet sesuai maka walet-walet tersebut akan menetap di gedung tersebut.
3.    Mengundang Secara Aktif
Cara ini adalah yang terbaik dan disarankan. Mengundang walet secara aktif maksudnya si pengelola menetaskan telur walet dan melatih anak walet agar terbiasa hidup di dalam gedung waletnya.

SYARAT GEDUNG UNTUK SARANG WALET


Yang utama perlu diperhatikan dalam membuat kandang walet adalah suhu dan kelembapan ruangan kandangnya. Buat kondisi atau suasana ruangan seperti dalam gua-gua, yaitu dingin dan lembap. Suhu yang diinginkan walet adalah antara 24 - 26 derajat celcius dengan kelembapan 80 - 95 persen. Kondisi tersebut sama dengan kondisi di gua-gua (habitat asli walet). Untuk itu maka konstruksi kandang harus sesuai. Akan lebih baik apabila dalam ruangan kandang dilengkapi dengan alat untuk mengatur kelembapan yang disebut "hygrometer". Agar kondisi ruangan tetap stabil sesuai dengan keinginan walet maka ada beberapa usaha yang perlu dilakukan, misalnya membuat saluran-saluran air atau bak air atau tempayan tempat-tempat penampungan air di dalam ruangan gedung tersebut.
a.    Suhu
Agar suhu ruangan tidak mengalami fluktuasi yang sangat berbeda maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.
1)    Bahan atap dapat memakai genting (jangan menggunakan atap seng atau asbes).
2)    Dinding bagian dalam ruangan dapat dikapur (bukan dicat).
3)    Di atas plafon dilapisi dengan jerami yang cukup tebal, yaitu sekitar 20 sampai 50 cm (fungsinya agar suhu luar kandang tidak mempengaruhi suhu plafon dan ruangan kandang. Demikian juga suara-suara bising tidak terdengar (teredam atau tidak mengganggu walet). Walet sangat sensitif terhadap benda-benda asing. Oleh sebab itu, agar jerami tidak jatuh ke bawah atau ke sarang maka sebelum diberi lapisan jerami, di atas plafon dilapisi dengan kain kasa yang sangat lembut, sehingga sekam tidak akan jatuh ke bawah.
b.    Kelembaban
Ada beberapa cara agar kelembapan dalam ruangan dalam keadaan optimal, di antaranya sebagai berikut.
1)    Dalam ruangan disediakan tempayan yang diisi air. Tempayan tersebut sebaiknya dibuat dari tanah liat. Akan lebih baik lagi kalau tempayan tersebut kondisinya sudah tua atau lumutan.
2)    Selain tempayan, dapat juga disediakan kolam yang berisi air. Baik tempayan maupun kolam, jangan biarkan air mengering atau berkurang. Kontrol apabila air kurang maka tambahkan air.
3)    Pada tembok dipasang pipa yang dialiri air sehingga dinding gedung akan selalu basah.
c.    Perlengkapan Gedung
1)    Kotak-kotak kecil yang dipasang di eternit
    Pada eternit/plafon gedung dilengkapi dengan kotak-kotak kecil. Kotak-kotak kecil ini berfungsi sebagai melekatnya sarang, sehingga walet akan bersarang lebih merata. Untuk menjaga agar kelembapannya terjaga 80 - 95%, maka ada baiknya pada dinding bagian atas dilengkapi dengan pralon pipa kecil, yang berfungsi untuk mengaliri air agar dinding gedung mudah disiram dengan air pada siang hari atau saat-saat diperlukan.
2)    Hygrotermometer
    Hygrotermometer adalah alat untuk mengukur temperatur (termometer) dan kelembapan udara (hygrometer). Alat ini penting, agar kita mudah mengontrol suhu dan kelembapan dalam ruangan kandang. Letakkan hygrotermometer di dekat lubang tempat ke luar masuknya walet.
3)    Tanaman pengundang serangga. Agar makanan walet tercukupi, maka sebaiknya di sekitar gedung ditanami tanaman yang dapat mengundang serangga seperti tanaman sebangsa petai-petaian akasia, lamtoro, sengon dan lain-lain. Atau dapat juga ditanami kangkung, teratai, genjer dan lain-lain, pada daerah-daerah yang berair di sekitar lingkungan gedung.
4)    Alat penangkap serangga. Alat ini berupa alat penyedot serangga.
5)    Alat untuk mengontrol keadaan sarang. Alat ini berupa tiang panjang yang ujungnya dilengkapi dengan cermin, sehingga si pengontrol sarang tidak perlu naik turun tangga untuk melihat sarang ataupun telur walet. Cukup dengan menggunakan alat tersebut.
6)    Pagar keliling gedung (kandang). Pagar tembok ni dimaksudkan untuk menjaga sarang walet dari pencurian dan hama. Di luar pagar, buatlah parit yang terisi air yang mengalir.

       














JENIS-JENIS BURUNG WALET

Burung walet (Collocalia) termasuk dalam ordo Apodiformes, Famili apodidae, Genus collocalia dan beberapa spesies. Di Indonesia, spesies-spesies yang ada seperti Collocalia fuciphagus (walet putih), Collocalia gigas (walet besar), Collocalia maxima (walet sarang hitam), Collocalia brevirostris (walet gunung), Collocalia vanikorensis (walet sarang lumut) dan Collocalia esculenta (walet sapi ). Pada umumnya spesies tersebut dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, warna bulu, dan bahan yang dipakai untuk membuat sarang.
Burung walet mempunyai ciri-ciri khusus seperti kakinya lemah, tidak dapat bertengger tetapi mempunyai kemampuan terbang yang cukup tinggi dan lama. Dia mampu terbang sepanjang hari.
Sarang burung walet ada yang dapat dimakan seperti walet putih dan walet hitam, sedangkan walet yang tidak dapat dimakan seperti walet gunung, walet besar, walet sapi dan walet sarang lumut.
A.    Walet putih (Collocalia fuciphagus)
Mengapa disebut walet putih? Walet putih bukan berarti bulu yang menutupi tubuhnya berwarna putih, tetapi sarang yang dihasilkannya berwarna putih. Sebenarnya bulunya berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu bagian bawah keabuan atau kecokelatan, sehingga ada juga yang memberi nama walet cokelat. Ciri lain yang ada pada walet putih adalah warna mata cokelat gelap, paruh dan kaki berwarna hitam.
Sarang walet putih seluruhnya terbuat dari air liurnya sehingga harganya sangat mahal. Bentuk sarang memanjang dan enak dimakan, sehingga lebih dikenal dengan julukan sarang walet yang bisa dimakan atau “edible-nest swiflet”.
Telur walet berwarna putih, agak lonjong dan sekali bertelur biasanya hanya 2 butir. Besarnya telur hampir sama dengan telur burung pipit. Telurnya akan menetas setelah dierami selama 28 hari. Walet putih bertelur secara musiman. Dalam satu tahun, walet akan bertelur sebanyak 3 kali.
Walet putih mempunyai ukuran badan sekitar 12 cm, suka terbang tinggi dan jenis makanan yang dimakan adalah serangga. Walet sarang putih tidak suka terbang atau berputar-putar di tempat yang rendah. Dia mempunyai suara yang nyaring atau melengking tinggi.
Walet putih mempunyai kelebihan dan lebih suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi. Walet putih juga lebih mudah dirumahkan  daripada jenis walet lainnya. Walet putih ini di Indonesia banyak terdapat di pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bali.
B.    Walet sarang hitam (Collocalia maxima atau Collocalia maximus)
Walet sarang hitam ini mempunyai sarang yang disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat sarangnya bercampur dengan bulu-bulunya yang berwarna hitam. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor cokelat kelabu. Nama walet sarang hitam mengacu pada internasional, yaitu “black-nest swiftlet”. Walaupun pada namanya terdapat kata “maxima” bukan berarti walet ini ukurannya besar. Ukuran tubuhnya dapat dikelompokkan dalam kategori walet ukuran sedang dan penampilannya hampir sama dengan walet putih, yaitu sekitar 12 cm. Paruh dan kakinya semua berwarna hitam tetapi matanya berwarna cokelat tua dan telurnya tetap berwarna putih. Untuk mudah mengenali atau membedakan antara walet sarang putih dengan jenis walet sarang hitam adalah pada suaranya. Walet hitam tidak bersuara melengking tinggi seperti walet sarang putih, tetapi suaranya rendah dengan suara seperi mencicit.
Sarang walet ini dapat dimakan setelah bulu-bulu yang terdapat di sarangnya disisihkan atau dibuang. Hal ini yang menyebabkan kualitas sarangnya dianggap rendah dan harganya tidak setinggi pada walet sarang putih.
Seperti juga jenis-jenis walet pada umumnya, walet hitam suka memakan serangga-serangga kecil. Di Indonesia, jenis walet sarang hitam ini banyak dijumpai di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
C.    Walet besar (Collocalia gigas)
Mengapa disebut walet besar, karena mempunyai ukuran badan yang cukup besar dan termasuk walet yang paling besar dibandingkan dengan jenis-jenis walet lainnya. Ukuran panjang tubuhnya sekitar 16 cm. Warna bulu dari walet besar adalah hitam dengan bulu bagian bawah berwarna cokelat gelap. Jumlah telur biasanya satu dan berwarna putih dengan bentuk agak lonjong.
Walet besar mempunyai sarang yang tidak dapat dimakan. Bentuk sarangnya seperti mangkok. Sarangnya terbuat tidak hanya dari air liurnya saja seperti sarang putih, tetapi sudah merupakan campuran dari akar-akar, lumut, dan serat-serat.
Walet besar banyak terdapat di Indonesia seperti di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Dia suka bersarang di lubang-lubang batu (gua kecil) atau pada celah-celah batu dekat air terjun.
D.    Walet Gunung (Collocalia brevirostris)
Disebut walet gunung karena walet tersebut suka terbang berkelompok dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung. Walet gunung mempunya i bulu berwarna hitam dengan bulu ekor agak keabu-abuan dengan ukuran tubuh yang agak besar, yaitu sekitar 14 cm. Walet gunung banyak terdapat di Indonesia, khususnya Sumatra dan Jawa Barat.
E.    Walet Sarang Lumut                     (Collocalia vanikorensis)     
Jenis walet ini sulit ditemui manusia karena dia suka membuat sarang di tempat-tempat yang sangat sulit ditemui manusia, yaitu di bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sulit untuk dicapai manusia. Mengapa disebut walet sarang lumut? Ternyata walet ini dalam membuat sarangnya sebagian terdiri dari lumut. Sarangnya bagus, bentuk sarangnya agak bundar dan permukaannya halus. Walet sarang lumut mempunyai ukuran tubuh dengan panjang sekitar 12 cm, bulu berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan warna ekor yang lebih gelap. Walet sarang lumut ini di Indonesia banyak dijumpai di daerah Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
F.    Walet Sapi (Collocalia esculenta)
Walet sapi mempunyai ukuran tubuh yang paling kecil di antara jenis-jenis walet lainnya, yaitu sekitar 10 cm. Mempunyai bulu yang mengilat dengan warna bulu hitam kebiru-biruan. Walet ini mempunyai sifat tidak dapat terbang tinggi sehingga biasanya mereka hanya terbang atau berputar-putar di atas tanah atau sungai. Dia suka mencari makan pada pohon-pohon yang banyak serangganya terutama lebah.

JENIS BURUNG PERKUTUT

Jenis Perkutut

Di dunia ini, ada tiga jenis perkutut, yaitu perkutut belang, perkutut besar, dan perkutut tutul. Dua jenis di antaranya terdapat di Indonesia.

1.     Perkutut Belang (Geopelia Striata)
Ada 7 jenis perkutut belang, 5 di antaranya terdapat di Indonesia. Ke-7 jenis perkutut itu adalah sebagai berikut.
a.     Perkutut asli atau nama Latinnya Geopelia Striata-Striata. Di Indonesia, perkutut jenis ini banyak dijumpai di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Perkutut jenis ini pernah di introduksikan di Hawai dan Madagaskar. Burung ini juga meluas dari Thailand Selatan sampai ke Philiphina.
    Ciri-cirinya: bulu bagian tubuh depan tidak terdapat garis-garis melintang, sedangkan bulu dada berwarna cokelat muda. Semakin ke bawah, berwarna putih kekuningan.
b.     Perkutut Sumba dengan nama Latinnya Geopelia Striata Mungeus. Perkutut Sumba banyak terdapat di Pulau Sumba, Sumbawa, dan Timor. Ciri-cirinya: bulu dada bagian bawah terdapat warna putih kekuningan (krem) semakin ke bawah akan berwarna semakin putih kekuningan.
c.     Perkutut Irian atau dengan nama Latinnya Geopelia Striata Papua. Perkutut Irian ini banyak terdapat di Pulau Irian bagian Selatan. Ciri-cirinya: bulu dada atas bergaris-garis hitam secara melintang. Bulu lainnya berwarna jingga keabu-abuan dengan garis tengah cinnamon yang memanjang. Semakin ke bawah, semakin berubah menjadi krem. Bulu tubuh bagian depan berwarna gelap.
d.     Geopelia Striata Audacis. Burung jenis ini banyak terdapat di Kepulauan Kei dan Tanimbar. Ciri-cirinya: warna bulu putih kekuningan yang memanjang dari arah depan tubuh sampai ke bawah.
e.     Geopelia Striata Placida. Burung jenis ini banyak terdapat di Pulau Irian dan Benua Australia bagian Utara. Ciri-cirinya: bulu dada atas bergaris-garis hitam melintang. Bulu lainnya berwarna jingga keabu-abuan dengan garis tengah cinnamon yang memanjang. Semakin ke bawah semakin berubah menjadi krem.
f.     Geopelia Striata Traquila. Burung jenis ini tidak terdapat di Indonesia dan hanya ada di Australia Tengah.
g.     Geopelia Striata Clelaudi. Burung jenis ini hanya terdapat di Australia Barat.

2.    Perkutut Besar
Jenis perkutut besar di seluruh dunia dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perkutut besar Australia dan perkutut besar Irian atau Geopelia Humeralis Humeralis dan Geopelia Striata Gregalis.
Ciri-ciri perkutut besar adalah tubuhnya besar, sekitar 27 cm dengan warna bulu sebagai berikut.
a.    Bulu dasar cokelat.
b.    Bulu pada bagian punggung berwarna garis-garis kelam pekat.
c.    Bulu bagian pundak berwarna merah tembaga.
d.    Bulu bagian bawah tubuh berwarna merah jambu sampai putih.
e.    Bulu penutup sayap bergaris–garis cokelat.

3.    Perkutut Tutul
Di Indonesia, perkutut tutul sering diperjualbelikan di pasar burung dengan sebutan perkutut Australia karena perkutut jenis tutul ini hanya ada di Australia, terutama Australia Utara dan Tengah. Perkutut tutul mempunyai bulu berwarna cokelat keabu-abuan dengan bulu penutup sayap bercorak totol-totol putih berserakan.

PEMELIHARAAN AYAM BANGKOK DEWASA

Pemeliharaan ayam bangkok Dewasa
Setelah ayam berumur antara 6 - 7 bulan, ayam-ayam diseleksi, baik yang nantinya bakal dijadikan bibit induk betina ataupun bibit pejantannya ataupun pejantan-pejantan yang siap untuk dijadikan ayam aduan. Hasil ayam yang terseleksi tersebut kemudian  dipindahkan kedalam kandang dewasa. Pemindahan ayam ke dalam kandang dewasa dilakukan pada malam hari supaya ayam tidak stress. Sebelum dilakukan pemindahan, sebaiknya ayam-ayam diberi obat anti stress yang dicampur dalam air minumnya.
Ayam-ayam sebagai calon induk (untuk pembibitan) dapat dikandangkan bersama dengan ayam jantan yang dipersiapkan untuk dijadikan calon induk pejantan.  Rasio jantan : betina disesuaikan/ tergantung dengan cara-cara perkawinan yang akan dilakukan. Apakah akan menggunakan sistem Flock Mating, pen mating, stud mating atau akan menggunakan sistem IB. Apapun sistem perkawinannya, kapasitas untuk ayam dewasa tetap 3 - 4 ekorper meter2.

Kegiatan harian:
1.    memberi pakan, air minum dan kontrol kesehatan
2.    mempersiapkan ayam betina sebagai calon induk yang berkualitas dan menghasilkan keturunan anak ayam-anak ayam bangkok yang bermutu
3.    melatih dan merawat calon pejantan
4.    membuat format dan mengisi rekording(catatan)
    Bagaimana cara  melatih calon ayam pejantan?
Agar dapat dihasilkan ayam bangkok jantan yang handal yang mempunyai penampilan yang menarik, stamina kuat dan tahan fisik maka dibutuhkan latihan-latihan yang terprogram. Oleh sebab itu sebelum kegiatan pelatihan dimulai, dibuat dahulu program pelatihannya.
Pelatihan dan perawatan untuk ayam bangkok calon pejantan diantaranya adalah sbb:
1.    Memandikan.
Dalam memandikan ayam bangkok, cukup dengan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin (jangan air hangat, menyebabkan bulunya rusak). Pertama yang dibasahi adalah bagian kepala, leher, kemudian dibagian tengkuk sampai pangkal sayap, bagian dada sampai bagian kloaka.Khusus untuk bagian punggung tidak perlu dimandikan.
2.    Menjemur
Setelah dimandikan pada pagi hari, sebaiknya ayam dijemur kira-kira 15-20 menit dalam kandang kurungan.
3.    Melatih
Beberapa latihan untu ayam bangkok yang harus dilakukan antara lain:
a.    Latihan untuk otot tulang dada.
    Latihan ini dilakukan dengan cara tangan kanan memegang bagian dada dan tangan kiri memegang bagian bawah pantat. Kemudian dengan posisi jongkok, ayam dilemparkan ke udara (keatas, tetapi tidak boleh terlalu tinggi). Latihan ini dilakukan setiap hari, dan frekuensi pelemparan semakin hari ditambah sehingga sampai ayam tersebut terbiasa dengan frekuensi lemparan 40-50 kali.
b.    Latihan untuk mengembangkan kemampuan otot sayap, paha, kaki, pernafasan, urat syaraf dan sebagainya. Caranya secara hati-hati pangkal ekor dipegang dan diangkat kemudian menyebabkan seluruh tubuh  ayam akan bergerak secara bebas.
c.    Latihan untuk otot leher, otot kaki. Caranya memegang bagian depan dan belakang dari tubuh ayam dengan kedua pergelangan tangan.Dengan posisi jongkok, kita gerakkan kedua pergelangan tangan kedepan, kebelakang, kekiri dan kekanan. Latihan ini cukup dilakukan 2 menit perhari pada tahap awal, kemudian ditambah terus sampai 5 menit per hari
d.    Latihan untuk menguatkan dan meningkatkan kelenturan otot terutama paha dan kaki.
    Caranya, secara perlahan-lahan punggung ayam ditekan secara lembut, dan tekanan ini diperkuat sehingga ayam menggeliat.
e.    Latihan untuk meningkatkan tenaga fisik
    Caranya, ayam dilatih ditepian kolam atau sungai yang dangkal. Kemudian ayam tersebut dimasukkan kedalam air tersebut, maka dengan sendirinya ayam akan meronta-ronta ingin keluar dari kolam.
f.    Latihan untuk menjaga keseimbangan tubuh
    Caranya dengan meletakkan ayam pada tenggeran atau ayunan yang bergoyang. Ketika ayunan bergerak maju mndur maka ayam akan berusaha untuk tidak jatuh

AYAM ADU

AYAM ADU

Ayam aduan adalah ayam jantan dewasa yang pada umumnya memilki bentuk badan yang kompak, atletis dan baik perototannya yang dirawat dan dipelihara untuk tujuan diadu. Pada jaman prasejarah dimana manusia baru mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme,  upacara terhadap korban binatang banyak dilakukan baik itu berupa acara sesaji persembahan maupun acara menyabung ayam. Dan sampai sekarangpun upacara adu jago masih ditemui sebagai acara adat disuatu daerah tertentu. Banyak anggapan bahwa sabung ayam merupakan salah satu tradisi atau budaya asli Indonesia. Pada jaman Hindu Kuno, acara menyabung ayam sangat tekenal bahkan acara menyabung ayam dapat memberi semangat untuk mendukung dan memupuk sifat berani prajurit-prajurit jaman itu. Kalau kita berbicara mengenai menyabung ayam, maka lamunan kita ke cerita Anusapati, anak dari Ken Dedes di jaman Kerajaan Singosari, dimana pada saat itu tergeletak mati di arena sabung ayam karena tertusuk leh keris pusakanya sendiri, yang akhirnya dimakamkan di Candi Panataran.
Dibeberapa tempat di Indonesia, upacara adu jago masih dapat kita temukan. Biasanya pada acara tersebut, para peserta membawa ayamnya dalam “kisa” (keranjang yang tertutup yang terbuat dari anyaman daun kelapa atau batang bambu. Biasanya proses pertarungannya berlangsung sangat ulet dan mengasyikkan.  Mengapa demikian? Kelincahan untuk berusaha mengalahkan lawan dan mencari posisi yang tepat, ketangguhan dan keuletan serta pukulannya yang jitu, itulah yang menarik dan mengasyikkan untu ditonton.
Acara menyabung ayam sebenarnya bukan hanya di gemari masyarakat di Indonesia saja, tetapi telah berabat-abat lamanya pemeliharaan ayam sabung dan permainan sabung ayam menjadi kegemaran orang melayu, Birma dan hampir seluruh daeah di bumi Indonesia ini,  bahkan konon katanya di negara-negara majupun seperti di Inggris ada acara adu ayam yang sangat populer.
Namun sekarang acara menyabung ayam secara resmi telah dilarang oleh pemerintah, karena selain dianggap kejam terhadap binatang juga biasanya pertarungan ini sering dijadikan arena perjudian. Sebetulnya dari segi-segi negatif diatas, masih ada juga segi positif dari manfaatnya secara tak langsung, seperti mencegah terjadinya kepunahan ayam-ayam asli khususnya ayam-ayam jenis aduan. Dari arena aduan juga akan didapat individu-individu pilihan yang unggul dan kuat yang terseleksi.
Bagaimana untuk mendapatkan ayam aduan yang baik?
Mutu dan keungulan  ayam untu aduan sangat ter gantung dari
    ·    bentuk fisik
    ·    kemampuan bertarung
    ·    rangkaian silsilah keturunan
    ·    pola warna
    ·    bentuk khas bagian tubuh tertentu
Berdasarkan  warna bulunya atau sering disebut”ules” dan ciri-ciri fisiknya ada beberapa sebutan yang khas seperti  “batu karang”(keempat jari kakinya pecah-pecah), “ batusanda”(warna kakinya kelabu atau kehitaman)  “bagananda”(warna kakinya kuning kemerahan)”Mas-Sinangling”(warna bulunya putih kehijauan dan warna kakinya kuning) dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
1.     Jenis Ayam-Ayam Aduan
Jenis-jenis ayam aduan yang paling terkenal saat ini di Indonesia adalah :
1.    Ayam Bangkok.
    Sesuai dengan namanya, ayam bangkok ini berasal dari Ayuthaya, Bangkok, Muangthai
2.    Ayam Aduan Lokal
    a.    Ayam Sumatra
        Ayam ini termasuk jenis ayam aduan  yang garang, pandai berlaga dan  tangguh dalam  beradu. Ayam Sumatra mempunyai bentuk badan yang atletis, bidang, kekar dan tegap. Warna bulu ayam hitam kehijau-hijauan bercampur cokelat, putih serta abu-abu. Kulit mukanya merah, ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna kuning. Jengger berbentuk ercis, Pial menggantung kebawah dan berwarna merah kehitaman.
    b.    Ayam Bangkalan
        Sesuai dengan namanya, ayam ini berasal dari Bangkalan Madura. Ayam ini cukup terkenal sebagai ayam aduan karena pukulan tajinya sangat luar biasa dan selalu tepat  mengenai mata lawannya.
        Ayam Bangkalan mempunyai pandangan mata yang garang, kokok ayam yang sangat keras dan pendek. Ukuran badan ayam ini tidak terlalu besar, ramping, tinggi dan padat. Jenggernya sangat kecil berwarna merah darah, sedangkan pialnya  ukurannya sedang dengan warna merah keungu-unguan.
    c.    Ayam Banten
        Ayam Banten berasal dari daerah banten (Jawa Barat), mempunyai badan yang ramping tegap dan bila berdiri membentuk posisi 60 derajat.  Bulunya berwarna putih, cokelat atau kuning kemerahan.  Bulu ekornya keras, kaku dan agak pendek. 
        Ayam banten jantan bersuara keras tetapi pendek. Mempunyai suka berkelahi dan pantang menyerah.
        Kaknya cukup panjang mempunyai sisik kecil-kecil berwarna kunig gading, bertaji besar, keras dan runcing .
    d.    Ayam bali
        Ayam  asal dari pulau dewata ini merupakan jenis ayam aduan yang yang mempunyai ciri khas dimana mempergunakan taji besi untuk senjatanya dan pada umumnya di adu sampai mati.
        Ayam ini berbadan ramping, padat, posisi berdiri tegak bersudut 60 derajat. Bulu sayapnya besar, kaku dan berwarna hitam mengkilat. Sedangkan bulu badannya kecil-kecil, berwarna kuning, putih, coklat atau merah.
    e.    Ayam Tolaki
        Ayam Tolaki ini kemungkinan  berasal dari  Sulawesi Tenggara. Ayam ini mempunyai ciri-ciri mata merah, bulat, besar dan berkesan galak. Bulu hias pada leher kecil-kecil, pendek, merah darah atau kuning kemerahan. Sedangkan bulu dadanya hitam. Bulu hias punggung berwarna merah atau kuning kunyit.
        Ayam tolaki mempunyai sifat sangat liar, gesit dan suka terbang. Sedangkan pada saat bersabung, ayam jenis ini mempunyai sifat pantang menyerah dan berani mati.
    f.    Ayam Ciparage
        Menurut cerita, ayam ini berasal dari Karawang, Jawa Barat. Sifatnya  sangat agresif dan tangguh. Dilihat dari warna bulunya, dapat dibedakan menjadi dua yaitu jalak  karena hitam seperti burung jalak dan jali emas karena berarna lurik colat kekuningan dan coklat keemasan.
    g.    Ayam Kedu
        Ayam yang berasal dari karisidenan kedu ini mempunyai badan yang kokoh, tegak dengan dada lebar dan besar. Ayam ini walaupun termasuk juga sebagai ayam aduan, juga merupakan jenis ayam buras  petelur yang cukup handal produksinya telurnya.

CIRI-CIRI AYAM BANGKOK

CIRI-CIRI AYAM BANGKOK.
 Bentuk tubuh ayam bangkok secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
1.    Kepala.
    Bentuk kepala adalah bulat memanjang, dengan warna mukanya yang merah terang. Pada tulang kelopak matanya menonjol sehingga bola matanya terlihat cekung dan dalam, tetapi mempunyai bola mata yang tajam dan terlihat beringas.
    Paruh mempunyai garis (alur) seperti parit) dan sangat kuat dan ini berguna sebagai senjata untuk melukai lawan. Lehernya kekar karena leher ini merupakan pendukung kepalanya. Secara keseluruhan kepala merupakan daerah yang paling penting karena paling mudah untuk dilukai lawan. Oleh sebab itu ayam bangkok yang baik apabila mempunyai  kepala yang kokoh, kuat  dan lincah sehingga dia mampu untuk melakukan serangan balik ke bagian lawan.
2.    Anggota gerak
    Sayap ayam bangkok besar, kuat dan merapat ke anggota badannya dan merupakan anggota gerak yang sangat beperanan. Sayap bagi unggas layaknya tangan bagi manusia. Sayap ini bersama-sama dengan kakinya berfungsi  untuk memukul atau menghantam.
    Kaki ayam bangkok berbentuk persegi dan memiliki garis-garis yang terlihat jelas. Jari-jari kakinya kecil dan panjang, sedangkan telapak kaki bagian bawah menonjol keras dan berwarna hitam. Hal ini membuat tubuh lawan tarungnya menjadi memar apabila kena hantamannya.
    Ayam  bangkok mempunyai taji yang   panjang, kuat dan runcing. Kadang-kadang dijumpai ayam bangkok yang bertaji ganda. Ayam bangkok yang bertaji ganda lebih disukai karena lebih kuat untuk dapat menyeang lawannya, karena sekali hantam dua  daerah tubuh lawan bakal terluka. Ayam yang bertaji ganda ini dapat diturunkan pada anaknya/keurunannya.
3.     Organ dalam
    Organ-organ dalam ini ( jantung, paru hati ginjal dan alat-alat pencernakan) terlindung dengan baik oleh tulang dan otot-otot (daging) yang menyeliputinya. Oleh sebab itu otot-ototnya susunannya rapat, besar dan kuat. Terutama otot-otot dan tulang pada daerah dada karena peranannya lebih penting (karena merupakan pusat peredaran darah). Pada daerah ini berbidang kuat dan terlihat tegap.
4.     Warna dan ukuran bulu
    Mengapa  dalam memilih ayam bangkok dicari yang berbulu mengkilat? Pada ayam yang berbulu mengkilat maka cukup mudah untuk menggelincirkan atau membelokkan arah serangan lawan. Sedangkan untuk bulu penutup badan, dipilih bulu yang mempunyai bentuk sempit, kering dan tangkai bulu besar tetapi diameternya sempit. Hal ini dimaksudkan agar bulunya tidakmudah rontok.
    Bulu ekor panjang dan runcing pada bagian ujungnya. Dengan kondisi seperti ini memudahkan dalam membantu keseimbangan  tubuh, baik  padasaat maju, mundur maupun meloncat.
5.      Perototan.
    Agar gerakan tubuhnya lentur dan lincah maka diperlukan otot yang besar, kekar dan kuat. Untuk mengetahui bahwa perototannya cukup bagus maka dapat kita lakukan dengan cara melihat dan  meraba otot secara keseluruhan  dan dirasakan apakah ototnya tebal, liat, kenyal dan kekar atau malah sebaliknya? Otot-otot yang mendukung gerakan tubuh ayam agar gesit dan lincah adalah otot dada atau bahasa latinnya “ Musculus pectoralis”. Otot dada harus tebal dan liat dimana otot tersebut berperan dalam menggerakan otot pangkal sayap.
    Pada ayam bangkok, otot paha” Musculus gastrocnemius” harus kompak, liat dan kenya tetapi tidak terlalu besar. Otot paha yang terlalu besar akan menghambat gerak kaki baik dalam beradu/berantam maupun menghindar dari lawan.
    Pada saat ayam bertarung, bulu leher akan ikut mengembang. Untuk mengembangkan bulu tersebut dibutuhkan otot-otot yang kuat yang berada dibawah kulit, dimana bulu-bulu tersebut akan menancap dengan kuat pada otot dibawah kulit atau disebut “Musculus dermal”.
    Sedangkan otot yang berperanan dalam membantu untuk berdirinya kembali sesudah jatuh dari pertarungan disebut “Musculus pectineus”.
    Untuk mengetahui tentang perototan ayam bangkok maka perlu perabaan dan dirasakan secara seksama dan telitu apakah  otot-otot yang mendukung kerangka tubuh ayam bangkok yang kita miliki benar-benar sesuai dan ideal sebagai ayam aduan yang handal, seperti tebal, liat, kenyal dan kekar.

6.      Tulang
    Apa peranan tulang bagi ayam bangkok? Seperti halnya juga pada ternak-tenak lain, fungsi utama dari tulang bagi ayam bangkok adalah :
    - sebagai kerangka tubuh.
    - melindungi alat-alat dalam
    - salah satu senjata pada saat bertarung
    - sebagai  perisai terhadap serangan lawan
    Tulang yang kokoh dan kuat bagi ayam bangkok sangat diperluakan karena untuk bertarung. Tulang yang  kokoh dan kuat dan persendian yang pendek akan memudahkan mengalahkan lawan dalam bertarung.
Selain bentuk-bentuk/kharakteristik keseluruhan dari tubuhnya tersebut diatas, bagaimana ciri-ciri yang lain ayam bangkok yang baik?




















Gambar 6.  Bentuk tubuh ayam bangkok
Ayam bangkok sebagai salah satu dari beberapa jenis ayam aduan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
    1.    Kondisi/stamina  baik
    2.    Mempunyai teknis bertarung lebih bervariasi dan pandai mencari kelemahan lawan
    3.    Berani menghadapi lawan tanpa pandang bulu
    4.    pantang menyerah selama pertarungan berlangsung
    5.    bermental baik dan kuat
    6.    Kaki-kakinya kuat dan kokoh
    7.    Pandai memukul dengan berbagai metode/ posisi
    8.    Pandai mengelak terhadap lawan
    9.    dapat melancarkan serangan balik secra capat dan tepat
    10.    cukup berumur
    11.    mempunyai berbagai pengalaman dalam bertarung

JENIS-JENIS AYAM BURAS

Jenis-Jenis Ayam Buras
Ayam buras pada awalnya dipelihara oleh sebagian besar masyarakat sebagai hobby atau kesenangan untuk menghiasi halaman rumahnya atau hanya untuk dipotong untuk kebutuhan sendiri. Namun, perkembangan terakhir ini sudah mulai dipelihara secara intensif untuk tujuan komersil. Beberapa ayam buras Indonesia seperti berikut ini.
a.     Ayam Sumatra
    Untuk mendapatkan ayam Sumatra yang asli sangatlah sulit, karena pada umumnya para peternak ayam Sumatra menyilangkan  dengan ayam bangkok. Tujuan mereka adalah untuk memperbaiki generasi ayam  asli Sumatra tersebut, sehingga saat ini ayam tersebut sangat sulit ditemukan dan hampir punah. Di dunia barat (Eropa), ayam jenis ini banyak didatangkan dari Indonesia, dan digunakan sebagai ayam hias karena selain bulunya beraneka ragam dan sangat menarik, ayam Sumatra mempunyai suara kokok yang lain daripada ayam lokal asli negerinya.









Gambar 1.  Ayam Sumatra
b.     Ayam Banten
    Ayam banten hanya dapat berkembangbiak dan beradaptasi dengan baik di tempat asalnya saja. Apabila dikembangbiakkan di daerah lain, kurang berhasil. Ayam banten termasuk jenis ayam adu. Ayam ini seperti juga ayam bangkok mempunyai persamaan sifat yaitu tidak gentar menyerah  dan berani mati untuk menyerang musuhnya. Pada zaman kerajaan dahulu (zaman Sultan Ageng Tirtayasa), ayam ini cukup terkenal  sampai  di daerah Bugis dan Malaka.
c.     Ayam Kedu
    Ayam ini berasal Jawa Tengah dan banyak dipelihara di daerah Keresidenan Kedu. Menurut cerita lama, keberadaan ayam kedu sudah ada sejak zaman keemasan kerajaan Demak. Ayam ini dikembangkan oleh Ki Ageng Makukuhan, yaitu: seorang ulama penyebar agama Islam di desa Kedu, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.  Ayam ini merupakan salah satu jenis ayam lokal unggul yang telah diakui kehebatannya di antaranya:
    -    cepat pertumbuhannya,
    -    produksi telur tinggi,
    -    lebih tahan terhadap berbagai jenis penyakit,
    -    dagingnya enak,
    -    mudah dalam pemeliharaannya,
    -    mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
    Berdasarkan warna bulunya, ayam ini dibagi atas dua jenis, yaitu: ayam kedu hitam dan ayam kedu putih. Ayam kedu hitam dikenal sebagai ayam cemani. Pada zaman dulu, ayam cemani ini dikenal mempunyai kekuatan sakral, sehingga ayam ini mempunyai harga relatif mahal. Harga ini juga bergantung pada tingkat keperluan dan kepercayaan/keyakinan sipembeli. Pada umumnya, peternak memelihara ayam kedu mempunyai tujuan sebagai : ayam kedu petelur, ayam kedu dwiguna atau sering juga disebut ayam kedu pedaging dan petelur, ayam kedu sabungan. Masing- masing mempunyai ciri- ciri yang spesifik.












Gambar2 . Ayam Kedu Hitam
d.     Ayam Bangkalan
    Ayam bangkalan terkenal sebagai ayam adu seperti halnya ayam bangkok. Ayam ini mempunyai taji yang sangat kuat, berukuran besar, dan sedikit melengkung, tetapi ujungnya tumpul. Taji ayam ini sangat terkenal. Dengan tajinya, lawan dapat menyebabkan buta selamanya.
e.      Ayam Nunukan
    Ayam ini dikenal sebagai ayam eksotik. Awalnya ayam ini diduga berasal dari daratan Cina. Ayam ini kini  banyak dijumpai di daerah Kalimantan Timur, tepatnya di Tarakan. Ayam ini agak mirip dengan petelur ras coklat. Ayam ini termasuk tipe dwiguna (petelur dan pedaging).
f.      Ayam Sentul                                                                                                                                                                                                                                        
    Ayam ini berasal dari Jawa Barat, tepatnya di daerah Ciamis. Warna bulunya abu-abu seperti warna kulit ular.
g.      Ayam Pelung
    Ayam pelung berasal dari Cianjur Jawa Barat. Ayam ini telah dipelihara sejak tahun 1850.  Ayam jenis ini nyaris punah. Ayam ini merupakan jenis ayam khas dari Cianjur. Ayam pelung khususnya yang jantan, memang sangat cocok  digunakan sebagai ayam hias karena suaranya. Suara kokok ayam pelung sangat bagus, yaitu suaranya berat, panjang sekali, dan merdu mendayu-dayu. Suaya ayam seperti itu tidak dimiliki oleh jenis ayam lain. Sekarang ini, ayam pelung sudah diusahakan secara komersil. Hal ini disebabkan suaranya yang merdu dan salah satu bentuk upaya pemerintah daerah untuk melestarikan ayam pelung agar masyarakat tertarik memeliharanya. Diadakanlah lomba ayam pelung dimana ayam yang juara nilai jualnya cukup mahal.
    Ayam pelung pada umumnya dipelihara secara intensif  oleh para peternak dalam jumlah terbatas untuk tujuan hobi, dan mendapatkan ayam-ayam jantan yang bagus suaranya.













Gambar 3. Ayam pelung
h.     Ayam Bekisar
    Ayam bekisar merupakan salah satu dari beberapa jenis ayam buras yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Ayam bekisar ini merupakan hasil persilangan antara  pejantan dari ayam hutan, yaitu pejantan ayam hutan hijau (Gallus varius) atau ayam hutan merah (Gallus gallus) dengan ayam kampung yang ada sekarang ini telah didomestikasi (Gallus domesticus).
    Ada beberapa jenis bekisar, di antaranya:
    -    Bekisar Putih Jogya
    -    Bekisar Multiwarna Solo
    -    Kisar Kangean Madura
    -    Bekisar Hitam Parakan
    -    Bekisar Merah Solok
    Di antara jenis-jenis bekisar tersebut hanya ada beberapa saja yang sudah terkenal keandalannya, seperti: Kisar Kangean Lama, Kisar Baru,  Bekisar Putih Jogya dan Bekisar Multiwarna Solo.
i.     Ayam Bangkok
    Ayam bangkok merupakan hasil persilangan  antara ayam Melayu dengan ayam lokal di daerah Ayutthaya, Bangkok Utara. Ayam bangkok ini sudah dikenal di Indonesia jauh beberapa puluh tahun sebelum Asian Games IV di Jakarta pada tahun 1962. tetapi baru populer dan mewabah di Indonesia sejak Asian Game IV tersebut. Ayam bangkok merupakan type ayam aduan karena sesuai dengan sifat aslinya yang suka berkelahi, tangguh dan berani mati. Dengan sifat-sifat demikian menyebabkan ayam bangkok sengaja ddatangkan oleh para penggemar ayam aduan untuk memperbaiki genetisnya ayam-ayam kampung asli untuk disilangkan.
    Bagaimana ciri-ciri ayam bangkok?
    Ciri-ciri ayam bangkok :
    a.    Bulu
        Jantan :     -     bulu hias pada leher kecil-kecil pendek         dan berwarna jinga
                 -    bulu ekor panjang, lurus menyentuh tanah
        Betina :     -     Warna bulu dominan hitam dan dihiasi         beraneka ragam warna
                 -     relatif pendek dan kaku
    b.    Kepala
        Jantan :     -     kepala oval memanjang
                            -     mata sipit, kelihatan tajam beringas
                            -     jengger kecil, warna agak pucat
                            -     muka bersih,cantik
                            -     paruh kokoh,  panjang dan besar dan terdapat lekukan memanjang dari ujung paruh ke arah lubang hidung
        Betina :    -      Kepala berbentuk oval memanjang
                 -      Mata kuning cerah, sipit.
                           -      Wajah sangat cantik dan halus
                 -      Jengger dan pial kecil dan pucat
                 -       Paruh kokoh, panjang dan besar, warna putih cerah, ada lekukan memanjang dari ujung paruh ke arah lubang hidung
    c.    Tubuh
        Jantan :     -      ramping, tegap
        Betina:    -    badan langsing padat, berbenuk memanjang, dada bidang.              
    d.    Sayap
        Jantan :    -      Menempel ketat pada badan
                           -      Bulu pendek, keras dan kaku
        Betina  :    -      Bulu kaku dan keras
    e.    Kaki
        Jantan :    -      kaki panjang, berbentuk persegi
                           -      warna kuning gading
                           -      bersisik
                          -    jari-jari kaki panjang,warna kuning gading
                          -     kuku panjang dan runcing
                  -       Tajuk besar, panjang dan runcing sekali.
                  -      paha panjang, padat, berisi
        Betina  :     -     kaki panjang dan kaku
                            -      warnakuning gading
                            -       bersisik
                            -       jari-jari panjang
                            -     kuku kecil, panjang, runcing dan melengkung diujungnya
                            -     Bila berdiri, kakinya sedikit menekuk (tidak bisa lurus)
    f.    Suara
        Jantan :     -      berbunyi berat, keras tetapi pendek
    g.    Telur
        Betina  :    -     Dibandingkan dengan ayam-ayam buras lainnya, maka jumlah telur per periode bertelur cukup banyak yaitu maksimal dapat mencapai 30 butir
                -      Bentuk oval memanjang
                -       Warna putih cerah
    h.    seksual
        Jantan :     -       daya seksual cukup tinggi
                                      Baik jantan maupun betina mempunyai sifat suka berkelahi.







 


















                    Gambar 5. Induk jantan     

SEJARAH ASAL-USUL AYAM BURAS

SEJARAH ASAL USUL AYAM BURAS
Indonesia adalah  negara yang kaya  dan bervariasi keanekaragaman hayati. Berbagai jenis flora dan fauna  terdapat di Indonesia. Dari berbagai jenis kekayaan keanekaragaman hayati yang dimilikinya, Indonesia dikenal sebagai negara “Mega bio diversity”. Namun di sisi lain, Indonesia juga terkenal akan kerusakan alamnya, dimana hal ini akan berpengaruh buruk pada flora dan faunanya.
Berbagai satwa liar menunjukkan jumlah yang sangat sedikit dan termasuk dalam hewan  dalam katagori  punah. Dengan melihat kondisi yang demikian memprihatinkan tersebut, perlu kiranya kita turut peduli dan ikut berpartisipasi  untuk memulihkan, menjaga dan melestarikan lingkungan  yang kita miliki. Termasuk salah satunya ayam-ayam asli Indonesia.
Negara Indonesia dikenal sebagai negara begitu kaya akan flora dan faunanya, tinggal bagaimana kita melestarikan dan mengembangkan. Di antara fauna yang sangat menarik adalah berbagai jenis ayam asli Indonesia. Bangsa unggas seperti ayam merupakan sumber protein hewani yang baik dan harga relatif terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan usaha ayam buras merupakan kegiatan yang cukup menjanjikan apabila dipelihara secara intensif. Hal ini disebabkan permintaan pasar domestik masih cukup tinggi dan ketahanan tubuh terhadap penyakit lebih kuat bila dibandingkan dengan ayam ras. Sebelum kita memulai suatu usaha beternak ayam buras dalam hal ini ayam bangkok, ada baiknya kita mengenal beberapa jenis yang termasuk dalam katagori ayam buras.
1.     Asal-usul ayam buras
Di Indonesia terdapat berbagai jenis ayam buras, baik yang asli dari Indonesia  maupun yang sengaja didatangkan dari negara lain dan telah berhasil dikembangbiakkan.  Ayam yang ada kita lihat sekarang ini, berasal dari ayam hutan. Ayam hutan termasuk suku Phasianidae dan mempunyai 4 spesies, yaitu:
a.    Gallus varius ( Ayam hutan hijau jawa)
    Ayam yang termasuk dalam species gallus varius  mempunyai ciri-ciri bulu dasar hitam dengan diselimuti oleh warna hijau yang mengkilat, berujung merah kekuning-kuningan bagi yang jantan, sedangkan pada betina  warna bulu didominasi oleh warna coklat. Ayam jantan mempunyai jengger dan pial  yang besar dengan warna pelangi dan pada betina perkembangan jengger dan pial cukup kecil dan berwarna merah menyala. Suara kokok ayam jantan jenis ini cukup keras dan nyaring serta tangkas dan gesit gerakannya. Namun, ayam jenis ini mempunyai tingkat stress yang tinggi. Sedangkan pada betinanya, jumlah telur per periode bertelur rendah, yaitu 5 butir. Ukuran telur cukup kecil dan warna telur putih kekuning-kuningan.
    Daerah penyebaran ayam ini meliputi hutan-hutan di Pulau Jawa Bagian Selatan, wilayah NTB seperti Lombok, Sumba, Sumbawa, Madura, dan Bali, serta Flores dan Kepulauan Alor.
    Ayam yang termasuk dalam species gallus varius ini mempunyai nama yang bermacam-macam, seperti ayam alas (Jawa Tengah dan Jawa Timur), ayam Canghegar (Jawa Barat),  ayam cukir (Madura), dll.
b.    Gallus gallus (Ayam hutan merah melayu )
    Pada umumnya, ayam hutan merah Melayu ini mempunyai ciri-ciri, warna bulu jantan hitam pada bagian dada dan  badan bagian bawah. Pada bulu punggung dan sayap berwarna merah menyala.Pial dan jenggernya cukup besar dan berwarna merah menyala. Pada ayam betina bulunya berwarna coklat kemerah-merahan dan bergaris hitam. Telurnya kecil dan berwarna putih kecoklatan.
    Ada 5 sub species, yaitu:
    1)     Ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus bankiva)
        dikenal dengan nama ayam hutan kasintu. Ayam jenis ini banyak terdapat di hutan-hutan Jawa bagian utara.
    2)     Ayam hutan merah Cina (Gallus gallus jaboullei)
        dikenal dengan nama ayam hutan hainan. Ayam jenis ini hidup dan berkembangbiak di daerah hutan-hutan Cina bagian selatan, terutama di pulau Hainan.
    3)     Ayam hutan merah Vietnan (Gallus gallus spadiceus ) dikenal dengan nama ayam hutan Tonkin. Ayam jenis ini banyak terdapat di hutan-hutan Vietnam tepatnya di Teluk Tonkin.
    4)     Ayam hutan merah Bangladesh (Gallus gallus murghi) dikenal dengan nama ayam hutan benggala. Ayam jenis ini banyak terdapat di Bangladest dan India, terutama di teluk Benggala.
    5)     Ayam hutan merah Sumatra (Gallus gallus gallus)
        dikenal dengan nama ayam Sumatra. Ayam jenis ini banyak terdapat di hutan-hutan belantara Sumatra Barat dan Sumatra Utara.
c.    Gallus lafayetti (Ayam hutan jingga Ceylon)
    Ayam ini hanya ada dan berkembang biak di pulau Ceylon. Ayam ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Pada ayam jantan, bulu dada dan badan sebelah bawah berwarna merah kekuning-kuningan. Pada bagian sayap berwarna coklat gelap bergaris hitam. Warna jengger kuning kemerah-merahan. Untuk betinanya, seluruh bulunya berwarna coklat dan jumlah telur per periode maksimal 6 butir.
d.    Gallus sonnerratti (Ayam hutan abu-abu India)
    Ayam jenis ini lebih dikenal dengan sebutan ayam hutan abu-abu dan banyak terdapat di hutan-hutan India bagian selatan. Ayam tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Pada ayam jantan, bulu  bagian dada dan badan sebelah bawah berwarna abu-abu yang dihiasi oleh warna hijau  dan putih. Jengger agak kecil dan berwarna merah.  Pada ayam betina, warna bulu dasar badan adalah coklat kehitam-hitaman dengan bagian ujung berwarna putih keabu-abuan. Warna telurnya adalah putih berbintik-bintik coklat muda.

Sunday, 4 September 2016

Download suara Murai Batu: Berbagai jenis Burung Murai batu

Semua Macam Jenis Burung Murai Batu Lengkap dengan Gambar


Murai Batu merupakan salah satu jenis burung istimewa yang keberadaannya sudah sangat populer di Indonesia. Selain Cucak Jenggot, Kenari dan Lovebird, burung dengan ekor panjang ini juga sudah menjadi perbincangan lama para pecinta kicau saat ini. Bagaimana tidak, selain mempunyai perawakan indah, jenis burung yang juga dikenal dengan nama Kucica Hutan tersebut juga memiliki kicauan gacor keras dan luar biasa sambil teler (Baca: Suara Murai Batu). Mungkin berawal dari itulah, mengapa para penggila dari burung yang bernama latin Copsychus malabaricus ini begitu kagum. Entah itu penggemar murai batu Medan, Nias, Lampung, Aceh maupun Borneo (Kalimantan).
Sayangnya kepopuleran berbagai macam jenis Murai Batu tersebut berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Dimana keberadaan murai batu sudah terancam punah, entah karena pemburu liar atau murni sebab kerusakan lingkungan. Hal ini juga pernah diungkapkan lembaga Konservasi Internasional (IUCN), bahwa untuk burung Murai Batu di Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus karena jumlahnya sudah semakin berkurang. Tanpa berselang lama semua jenis burung penyanyi dari genus Copsychus Malabaricus ini telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai hewan yang dilindungi.
Terlepas dari itu semua, untuk wilayah penyebaran Murai Batu sudah hampir merambah ke seluruh negara di Asia. Di Indonesia sendiri ia bisa ditemui di Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Tentunya di setiap pulau penyebaran tersebut, terdapat beragam jenis Murai Batu yang mempunyai karakter suara dan tampilan fisik yang berbeda-beda. Salah satu burung ekor panjang yang paling terkenal yang berasal dari kota Menara Air Tirtanadi, Medan. Selain dari Medan tentunya ada yang berasal dari Kalimantan yang tidak kalah hebat masalah telernya. Bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh seputar kucica hutan di tanah Air, berikut beberapa jenis murai batu lengkap dengan gambar yang bisa Anda simak.

1. Murai Batu Medan

gambar murai batu medan
Murai Batu Medan (mikozawa1 – twitter.com)
Seperti namanya, Murai Batu ini besaral dari Medan. Ia mempunyai ciri khusus pada bagian ekornya yang melengkung panjang. Bentuk ekor yang tipis tersebut bisa memanjang sampai 27 sampai 30 cm. Power kicauan yang dimiliki keras dan melengking. Ditambah lagi Murai Medan ini dikenal sebagai burung petarung yang mempunyai mental pemberani. Saat mendengar kicauan lain pada saat di alam liar ia tidak segan mengembangkan dada dan perutnya yang sebagian masyarakat Pulau Jawa menamainya dengan istilah Ndegek dan Ngobra.

2. Murai Batu Nias

gambar murai batu nias
Murai Batu Nias (bangeko – pinterest.com)
Untuk jenis Murai yang satu tidak sulit untuk dikenali, sebab Murai Batu Nias mempunyai ekor panjang sampai 17-20cm yang bewarna hitam pekat. Burung Murai yang satu ini juga mempunyai power kicauan gacor keras dan memiliki mental kuat. Selain itu Murai Nias ini mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi, karena kepandaian menirukan suara jenis burung pengicau lain dan bahkan suara manusia. Maka tak heran, jika unggas pengicau yang satu ini cukup menjadi primadona di mata komunitas Murai Batu di Tanah Air.

3. Murai Batu Lampung

gambar murai batu lampung
Murai Batu Lampung (nouvisf – youtube.com)
Sementara itu Burung Murai Batu Lampung mempunyai ekor yang lebih pendek dan kaku daripada jenis lain. Panjangnya bisa sampai 12 hingga 18cm. Jenis murai ini juga mempunyai kicauan luar biasa yang mampu menirukan jenis burung pengicau lain. Meskipun karakter suara yang dikeluarkannya cenderung berulang-ulang, namun semua terdengar cukup merdu dan keras. Selain itu, murai lampung dikenal sebagai burung yang mempunyai stamina kuat yang tidak mudah letih jika saat berkicau.

4. Murai Batu Aceh

gambar murai batu aceh
Murai Batu Aceh (azkaakhdan – youtube.com)
Murai Batu Aceh merupakan burung yang berasal dan paling banyak ditemukan di wilayah Sumatera Utara, khususnya daerah Provinsi Aceh. Jenis murai yang satu ini juga mempunyai ciri panjang ekor beragam yang rata-rata bisa tumbuh sampai 19-30cm. Selain itu, burung yang berasal dari kota Serambi Mekah ini juga bisa mengerluarkan suara ngeroll panjang dan gemar sekali mengeluarkan suara nembak. Meskipun ukuran bodi relatif lebih kecil, namun Burung Murai Aceh ini mempunyai mental petarung cukup baik. Tak jarang hal tersebut membuat Murai mania menjadi kagum.

5. Murai Batu Borneo

gambar murai batu borneo
Murai Batu Borneo (ucup si murai borneo – youtube.com)
Burung murai asal pulau Kalimantan ini juga menjadi perhatian khusus para penghobi burung saat ini, karena Murai Batu Borneo juga mempunyai penampilan dan kemampuan kicau yang mengagumkan. Di habitat aslinya, ia dikenal sebagai burung agresif yang selalu ngotot jika mendengar kicaun burung lain. Burung murai yang satu ini mempunyai ciri panjang ekor yang bisa tumbuh 8 hingga 13. Meskipun ukuran ekornya relatif lebih kecil, namun burung ini paling banyak mendapatkan apresiasi lantaran karakter suara gacor dan mental yang dimilikinya.

Download suara burung murai batu: http://sh.st/BYf71

Monday, 22 August 2016

Tips Sukses Beternak Burung Parkit

Burung Parkit - Keindahan dan kecerdasan burung parkit sudah sangat dikenal masyarakat luas. Hal inilah yang membuat banyak orang terutama para pecinta burung tertarik untuk sekadar memeliharanya hingga ada yang menekuninya sebagai lahan bisnis untuk mendapatkan banyak keuntungan. Burung parkit masih memiliki kekerabatan dengan burung betet sehingga tak mengherankan jika ada beberapa bagian tubuh keduanya yang menyerupai misalnya warna bulunya merah, hijau, biru, kuning, orange hingga ungu dan bentuk paruhnya yang sedikit bengkok. Jenis prkit bayanlah yang paling popular dan diminati karena kecerdasannya yang dianggap lebih dibanding jenis parkit yang lainnya. Apaila anda tertarik untuk memelihara burung parkit, anda bisa tahu lebih banyak mengenai cara merawat burung parkit agar cepat bertelur dengan menyimak ulasannya pada artikel ini.

Berikut ini beberapa tips yang bisa anda perhatikan dan praktikkan untuk memelihara burung parkit cepat bertelur, antara lain :
  1. Siapkan kandang yang cukup luas, tentunya harus ada rumah-rumahan yang kelak digunakan untuk burung parkit betina bertelur, rata-rata 5 butir setiap bertelur, proses pengeraman hingga menetas memakan waktu 18-20 hari. Buatlah suasana kandang senyaman mungkin dan jaga selalu kebersihannya agar burung parkit terbebas dari strees, sehingga burung parkit dapat kawin dan bertelur dengan nyaman.
  2. Penuhi asupan makanan untuk burung parkit misalnya biji-bijian, selama masa kawin sangat dianjurkan untuk rutin member ramuan penyubur seperti kecambah, jagung muda, kangkung, dan campurkan juga tumbukan daun kemangi dengan pellet agar selama masa kain kebutuhan nutrisi dan gizi burung parkit terpenuhi dengan baik.
  3. Apabila pada kondisi tertentu burung parkit sering dipindahkan dari kandangnya, sebaiknya campurkan minuman burung parkit dengan gula merah/gula jawa untuk menghindari kondisi strees karena ada di tempat baru yang masih asing baginya. 
  4. Apabila semua cara merawat burung parkit agar cepat bertelur sudah dipraktikkan dengan baik dan benar, tunggu saja beberapa hari ke depan, burung parkit yang anda pelihara bisa bertelur dan siap menjadi bakalan burung parkit yang indah dan pandai.

Tips Cara Merawat Burung Parkit Agar Cepat Bertelur

Tips Cara Merawat Burung Parkit Agar Cepat Bertelur
Proses Perkawinan serta reproduksi Burung parkit yang dilakukan oleh burung parkit merupakan hal yang bersifat alami. Namun dalam proses perkawinan dan reproduksi Burung parkit ini perlu adanya campur tangan dari penangkar agar dapat menghasilkan suatu produk yang maksimal. Campuran tangan yang dimaksud adalah dengan cara kita menyiasati bagaimana agar calon indukan burung parkit melakukan proses reproduksi tersebut.
Pertama, mengondisikan kandang penangkaran setenang mungkin agar tidak terjadi hal yang dapat membuat burung parkit merasa terancam. Kedua, menyiapkan glodok tempat bertelur yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah pasangan burung parkit. Hal ini bertujuan agar burung parkit bebas memilih tempat mereka bertelur.
Dalam memilih glodok sebagai tempat bertelur oleh sepasang induk yang siap telur pasti terjadi persaingan dengan pasangan lain. Oleh karena itu alasan mengapa perlu disediakan glodok yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah pasangan parkit yang ditangkarkan.
Pada saat memilih glodok, burung masih dalam suasana belum aman, sehingga mereka masih berdiri di depan lubang, sebagai pintu masuk glodok karena masih adanya ancaman dari pasangan lain yang belum mempunyai tempat bertelur.
Parkit jantan selalu mengawasi di atas glodok dan menjaga dari gangguan dari pasangan lain. Setelah keadaan aman, maka parkit betina pun cepat masuk ke dalam glodok.
Proses perkawinan berlangsung setelah burung parkit ganti bulu muda. Kisaran usia pada tahapan ini adalah sekitar 3,5 bulan. Sebelum mereka melakukan perkawinan, mereka memilih glodok yang disukai untuk dijadikan tempat meletakkan telur-telur mereka. Proses perkawinan diawali dengan rayuan dari parkit jantan baik dengan menggunakan tingkah lakunya maupun suara atau siulannya.
Setelah proses merayu, parkit betina pun memposiskan badannya untuk siap dikawin oleh parkit jantan. Hal ini dilakukan oleh kedua induk parkit secara berulang-ulang. Tidak hanya satu sampai tiga kali, bisa lebih dari lima kali proses perkawinannya.
Pengeraman
Setelah melakukan perkawinan, burung parkit akan segera bertelur. Jumlah telur mereka rata-rata 4-6 butir. Proses pengeraman dilakukan oleh parkit betina.

Ketika burung parkit betina mengeram, burung parkit jantan sibuk mencari pakan untuk meloloh burung betina tersebut agar kualitas pengeramannya berjalan dengan baik. Proses pengeraman sendiri berjalan selama 14 hari. Pemeliharaan saat pengeraman adalah dengan memberikan pakan dalam jumlah tak terbatas dan jangan sampai telat.
Anakan
Setelah usia pengeraman 14 hari, maka telur akan menetas. Anakan yang dihasilkan tergantung yang berhasil dibuahi. Jika kualitas indukan baik dalam proses reproduksi ini, secara kuantias anakan yang dihasilkannya pun juga lebih maksimal. Pada saat meloloh anakan, indukan jantan mencari pakan untuk dilolohkan kepada indukannya kemudian diberikan kepada anak-anaknya.
Pertumbuhan anakan kemungkinan tidak sama walaupun dalam satu glodok, hal ini dikarenakan proses bertelur dan waktu pengeraman tidak sama. Pada umur 1 minggu anakan masih dalam pengeraman induk betinanya.
Saat usia kurang lebih 1 minggu, anakan sudah mulai tumbuh bulu. Bulu mereka akan lengkap setelah berusia 30 hari dan kemungkinan sudah ada yang keluar dari glodok untuk belajar terbang dan belajar makan sendiri.
Pembesaran anakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu anakan dibesarkan oleh induknya sendiri dan anakan dibesarkan oleh penangkar. Anakan yang dibesarkan oleh induknya sendiri berjalan secara alami, anakan diasuh oleh kedua induknya.
Caranya indukan memberikan pakan melalui paruh atau biasa disebut dengan proses meloloh. Pakan yang diberikan pun sesuai dengan apa yang diberikan oleh penangkar kepada burung indukannya.
Namun anakan yang dibesarkan oleh penangkar, meloloh anakan dengan cara memberikan pakan melalui spuit atau alat yang terbuat dari suntikan. Ujung suntikan diganti dengan karet dop sepeda agar tidak membahayakan mulut burung dan agar bisa mengalirkan makanan masuk ke dalam mulut.
Pakan yang diberikannya pun berbeda dengan pakan yang diberikan kepada indukannya. Formula pakan yang diiberikan bisa terdiri dari roti atau bubur bayi ditambah dengan susu bubuk untuk pertumbuhan. Bubuk tersebut dilarutkan dengan sedikit air agar bisa dicerna dan dimasukkan ke dalam mulut dengan menggunakan spuit.
Anakan diambil dari sarangnya ketika sudah bisa membuka matanya atau sekitar umur 1 minggu agar anakan bisa melihat ketika sedang diloloh oleh penangkar.  Pembesaran melalui teknik ini pun juga dibutuhkan sangkar inkubasi. Sangkar inkubasi dilengkapi dengan bohlam penghangat dan termometer agar suhu dalam ruangan seperti suhu pengeraman yaitu 37-38 derejat Celcius.
Pemberian pakan dilakukan oleh penangkar setiap 3 jam sekali, bisa dilakukan pukul 06.00, 09.00, 12,.00, 15.00, dan 18.00. Untuk jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan umur atau bisa dengan indikasi tembolok anakan burung sudah terlihat penuh. Hal tersebut dilakukan rutin setiap hari sampai anakan bisa makan sendiri atau lepas sapih.
Keunggulan dari pembesaran anakan oleh penangkar adalah kurang lebih dari satu minggu setelah anakan burung diambil dan dirawat oleh penangkar, indukan akan segera kawin dan bertelur. Jadi, dengan kata lain secara kuantitas hasil produksi dalam satu tahun lebih banyak dari pembesaran yang dilakukan oleh indukannya mencapai 5 kali, sedangkan pembesaran oleh penangkar bisa mecapai 10 sampai 14 kali.
Menyapih Anakan
Saat menyapih anakan, benar-benar kita perhatikan dengan seksama, apakah anakan tersebut sudah saatnya dipisah atau belum. Indikasi yang dapat kita pakai dalam menyapih anakan adalah anakan tersebut sudah bisa mandiri dalam mengkonsumsi makanan dan mampu melindungi diri. Anakan yang baru saja bisa makan sebaiknya jangan dipisah dari induknya terlebih dahulu.
Biarkan anakan tersebut dalam satu kandang kecil dalam penangkaran. Jika pada saat anakan sedang belajar makan sendiri tersebut mengalami kesulitan dalam mendapatkan dan mengkonsumsi makanan, masih ada induknya yang bisa meloloh di dalam sangkar kecil di dalam sangkar kecil di kandang penangkaran tersebut.
Setelah anakan benar-benar sudah mampu mengkonsumsi sendiri dan bisa terbang, kita bisa memisahkannya di kandang lain. Usahakan anakan burung parkit yang sudah dipisah tadi ditempatkan dalam suatu populasi yang umurnya hampir sama agar tidak terjadi sifat kanibal dan umumnya umur yang lebih dewasa selalu menang dalam suatu persaingan mengkonsumsi pakan.
Pada umumnya burung parkit indukan akan bertelur kembali walaupun anakan yang dirawatnya belum bisa hidup mandiri. Ini merupakan proses yang biasa terjadi. Anakan yang dihasilkan juga tetap dirawat oleh induknya di samping mereka sedang mengeram. Burung parkiti jantan senantiasa meloloh anakan maupun pasangannya yang sedang mengeram. Proses seperti ini berjalan pada periode bertelur selanjutnya.

Demikian ilmu dan pengetahuan seputar memelihara dan merawat burung khususnya jenis burung parkit agar bisa berkembangbiak dengan baik dan tentunya lekas bertelur, jika anda berminat untuk mencobanya, silakan praktikkan cara merawat burung parkit agar cepat bertelur di atas dengan telaten agar hasilnya bisa dirasakan dalam waktu yang singkat, selamat mencoba.